AS Tiba-tiba Serang Iran, IRGC Balas Hantam Pangkalan Udara di Kuwait!
Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran dengan menargetkan sebuah lokasi militer di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berada di dekat Selat Hormuz. [Istimewa]
23:44
28 Mei 2026

AS Tiba-tiba Serang Iran, IRGC Balas Hantam Pangkalan Udara di Kuwait!

Situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali membara setelah militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara di dekat wilayah Bandar Abbas, Iran selatan.

Pemerintah Iran mengutuk keras aksi agresif tersebut dan menuduh Washington telah berulang kali mencederai kesepakatan gencatan senjata serta menebar ancaman keamanan bagi negara-negara di kawasan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa operasi militer yang dilakukan pasukan AS pada Kamis dini hari tersebut merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Baghaei mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil sikap tegas dan memenuhi tanggung jawab hukumnya dengan meminta pertanggungjawaban penuh dari Washington atas agresi yang mengancam kedaulatan nasional serta integritas teritorial Iran.

Pihak Teheran menuding AS secara konstan terus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sejatinya telah disepakati bersama dan berlaku sejak 8 April lalu.

Bentuk pelanggaran tersebut mencakup serangkaian intimidasi terhadap kapal-kapal dagang yang melintas di kawasan Teluk dan perairan internasional, hingga serangan udara teranyar di wilayah selatan Iran.

Merespons situasi ini, Baghaei memastikan bahwa Iran memiliki tekad bulat untuk menempuh segala jalur yang diperlukan demi memproteksi wilayahnya, sesuai dengan hak bela diri yang dijamin dalam Pasal 51 Piagam PBB.

Selain mengkritik serangan fisik, Iran juga mengecam keras retorika bernada ancaman yang dilontarkan oleh para pejabat Washington terhadap Teheran dan sekutu regionalnya. Secara khusus, Iran menyatakan solidaritas penuh bagi Oman.

Baghaei menilai, ancaman "pemusnahan" terhadap Oman—yang selama ini dikenal memegang peran konstruktif dan bertanggung jawab sebagai mediator diplomatik perdamaian—merupakan bentuk normalisasi yang sangat berbahaya atas tindakan intimidasi hukum dalam tata hubungan internasional.

Di pihak lain, dilansir dari Anadolu, seorang pejabat militer AS memberikan konfirmasi kepada media Anadolu bahwa pasukan Amerika telah melumpuhkan empat unit pesawat tanpa awak (drone) milik Iran di dekat Selat Hormuz.

Tak hanya itu, AS juga menggempur pos kontrol darat Iran di Bandar Abbas yang terindikasi tengah bersiap meluncurkan armada drone tambahan.

Perwakilan AS tersebut mengklaim bahwa langkah militer mereka terukur dan murni bersifat defensif guna mempertahankan pakta gencatan senjata yang ada.

Sebagai respons instan atas serangan AS, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung mengambil tindakan retaliasi. IRGC menyatakan telah membombardir pangkalan udara militer AS yang berada di Kuwait.

Berdasarkan laporan dari kantor berita semi-pemerintah Iran, Tasnim News Agency, IRGC menegaskan bahwa serangan balasan menggunakan proyektil udara itu diluncurkan hanya beberapa jam pasca-fasilitas di dekat Bandara Bandar Abbas dihantam oleh bom militer Amerika.

Gesekan senjata terbaru ini terjadi di tengah kebuntuan upaya penyelesaian damai jangka panjang pasca-perang terbuka pada 28 Februari lalu.

Saat itu, serangan gabungan AS dan Israel ke Iran memicu serangan balasan drone serta rudal masif di seantero kawasan, hingga berujung pada blokade Selat Hormuz.

Meskipun kesepakatan gencatan senjata sempat tercapai pada 8 April lewat mediasi pemerintah Pakistan, proses negosiasi lanjutan di Islamabad masih menemui jalan buntu untuk merumuskan perdamaian permanen.

Editor: M Nurhadi

Tag:  #tiba #tiba #serang #iran #irgc #balas #hantam #pangkalan #udara #kuwait

KOMENTAR