Viral Bayi Hipotermia di Gunung, Amankah Anak 1,5 Tahun Mendaki? Ini Kata Dokter
Media sosial belakangan ramai memperbincangkan kabar seorang bayi yang diduga mengalami hipotermia saat diajak orang tuanya mendaki Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang. Kabar tersebut menyebutkan sang bayi harus diselamatkan oleh anggota SAR di tengah cuaca dingin pegunungan.(Tangkapan Layar)
19:50
14 April 2026

Viral Bayi Hipotermia di Gunung, Amankah Anak 1,5 Tahun Mendaki? Ini Kata Dokter

- Baru-baru ini, media sosial diramaikan oleh sebuah video viral yang memperlihatkan seorang anak berusia sekitar 1,5 tahun diduga mengalami hipotermia saat diajak melakukan pendakian tektok (naik-turun sehari) oleh orangtuanya di kawasan Gunung Ungaran, Jawa Tengah, Sabtu (11/4/2026).

Insiden ini memicu berbagai reaksi dari warganet, dan memunculkan pertanyaan: apakah anak pada usia tersebut sudah aman secara fisiologis untuk dibawa naik gunung?

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., MKes., CHt., FISQua, menjelaskan bahwa secara medis, masyarakat harus membedakan secara tegas antara rekreasi wisata ke area pegunungan dan kegiatan pendakian gunung yang serius.

Baca juga: 9 Latihan Fisik yang Perlu Dilakukan Sebelum Naik Gunung

"Kalau dalam situasinya adalah wisata ke gunung, itu boleh dan tidak ada masalah. Tetapi kalau dalam konteksnya pendakian ke gunung yang serius, nah ini harus dicermati dengan bijak," ujar dr. Arifin saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (14/4/2026).

Risiko ketinggian dan suhu ekstrem

Melakukan pendakian selalu melibatkan perubahan elevasi dataran atau altitude yang berdampak langsung pada menurunnya suhu udara dan menipisnya kadar oksigen secara drastis.

Kondisi ini tak hanya mengancam anak dengan risiko kedinginan ekstrem atau hipotermia, tetapi juga memicu mabuk ketinggian (altitude sickness).

Terlebih lagi, akses pertolongan medis darurat di jalur pendakian sangatlah terbatas, jika sewaktu-waktu keluarga membutuhkan proses evakuasi.

"Semakin tinggi posisi kita di atas permukaan laut, akan semakin tipis kadar oksigennya. Nah, ini akan memberikan satu gejala dan risiko kepada anak-anak. Bukan cuma orang dewasa, tapi juga anak-anak," ujar dr. Arifin.

Di samping itu, dokter spesialis anak yang berpraktik di RS Sari Asih Ciledug, Tangerang ini melanjutkan, anak balita jauh lebih rentan kehilangan panas tubuh dibandingkan orang dewasa.

Risiko ini bertambah parah saat anak berada di cuaca yang berangin dan hanya pasif berdiam diri di dalam gendongan, yang menyebabkan tubuhnya tidak memproduksi energi panas tambahan dari aktivitas otot.

Baca juga: Bolehkah Menaruh Koin dan Memijat Hernia pada Bayi? Ini Kata Dokter

Kendala komunikasi pada bayi

Permasalahan terberat dari membawa anak bayi mendaki adalah ketidakmampuan mereka menyampaikan apa yang dirasakan tubuhnya secara spesifik.

Saat anak mulai merasakan pusing, mual, atau sensasi melayang karena paparan oksigen yang menipis, mereka hanya bisa merespons lewat tangisan atau perubahan perilaku sesaat.

"Esensinya bukan umurnya cukup atau tidak, tetapi balita ini, atau terutama anak usia satu tahun ini, aman atau tidak. Dan concern-nya adalah mampu atau tidak menyampaikan keluhannya dengan jelas. Seperti kita ketahui, anak satu tahun itu kan bahasanya belum berkembang ya," papar dr. Arifin.

Gejala yang samar ini kerap berujung pada salah tafsir oleh orangtua di lapangan, sehingga pertolongan pertama sering kali terlambat diberikan.

"Akhirnya yang kita dapat adalah anaknya rewel, nafsu makannya turun, nafsu minum terutama. Terus kayak tampak capek," ungkap dr. Arifin.

"Nah, ini biasanya diterjemahkan jadi, 'Oh ya sudah, anaknya kelelahan saja', gitu. Nah, ini harus hati-hati karena ketidakmampuan kita untuk menterjemahkan keluhan mereka," tambah dia.

Rekomendasi batas elevasi dari studi medis

Dunia medis sebenarnya telah menetapkan rekomendasi batas ketinggian yang aman untuk membawa anak kecil ke dataran tinggi, guna mencegah dampak fatal dari perubahan tekanan udara dan paparan hawa dingin.

"Ada jurnal tahun 2025, yaitu jurnal dari Clemen-Serraso, 'a French Delphi study'. Dari studi ini ternyata dinyatakan bahwa rekomendasi untuk anak kecil, konsensusnya menyatakan bahwa anjuran praktiknya, kalau untuk anak di bawah satu tahun itu perubahan ketinggian tidak lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut," ungkap dr. Arifin.

Pernyataan tersebut merujuk pada jurnal medis internasional berjudul "Recommendations for mountain travel and altitude acclimation in pediatric populations: a French Delphi study" (2025) yang dipublikasikan di PubMed.

Dalam riset tersebut, para ahli medis menyepakati batas maksimal paparan ketinggian adalah 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) untuk anak di bawah 1 tahun, dan 2.500 mdpl untuk anak di bawah 3 tahun.

Baca juga: Pertolongan Pertama Saat Anak Jatuh dari Ketinggian, Apa yang Harus Dilakukan Orangtua?

"Perubahan ketinggian itu, kalau bisa, setiap 500 meter ada berhenti dulu. Biarkan tubuhnya beradaptasi. Dengan demikian, kita punya rekomendasi yang jelas bahwa kalau ada proses pendakian, harus hati-hati," tutur dr. Arifin.

Anak tetap bisa naik gunung, tapi...

Meski pendakian berskala serius sangat tidak disarankan untuk keamanan fisiologis anak, bukan berarti balita sama sekali tidak boleh diajak menikmati udara pegunungan.

Dokter Arifin menegaskan bahwa kuncinya terletak pada pemilihan destinasi wisata yang matang dan terkontrol.

"Anak setahun itu bisa (diajak naik gunung) dalam konteks wisata alam. Destinasinya yang ramah anak lah ya, ketinggiannya moderat, cuacanya bersahabat, durasinya juga singkat, dan sekali lagi, mudah turun kapan saja kalau misal ada apa-apa," kata dia.

Selain itu, area gunung yang dituju sebaiknya memiliki titik wisata yang mudah diakses dengan kendaraan roda dua atau roda empat. Dan sebisa mungkin, lanjut dr. Arifin, lokasinya dekat dengan fasilitas kesehatan.

Tag:  #viral #bayi #hipotermia #gunung #amankah #anak #tahun #mendaki #kata #dokter

KOMENTAR