Bermain Fisik atau Game Online, Mana yang Lebih Baik untuk Anak?
Tidak dapat dipungkiri, di era serba digital, anak-anak jadi semakin dekat dengan gawai. Opsi bermain bagi anak pun tidak hanya secara langsung dengan keluarga atau rekan sebaya, tetapi juga bisa dilakukan melalui permainan online.
Meski sama-sama disebut bermain, Psikolog Klinis dan Keluarga Pritta Tyas menerangkan bahwa bermain secara fisik dan bermain melalui game online memberikan pengalaman yang berbeda bagi tumbuh kembang anak. Bahkan, salah satunya bisa memberikan dampak negatif jika tidak diawasi dengan hati-hati.
Di mana letak perbedaannya dan jenis permainan apa yang disarankan ahli? Berikut penjelasannya.
Baca juga: Tak Semua Permainan Baik, Ini Kriteria Bermain yang Mendukung Tumbuh Kembang Anak
Perbedaan Bermain Secara Fisik dan Online bagi Anak Menurut Psikolog
Ilustrasi Anak BermainBermain fisik melatih banyak keterampilan sekaligus
Pritta menjelaskan, aktivitas bermain yang melibatkan benda fisik atau hands-on learning memberi kesempatan kepada anak untuk belajar secara langsung melalui pengalaman.
Salah satu contohnya adalah saat anak menyusun balok. Dari aktivitas sesederhana itu saja, anak dapat belajar untuk mencari berbagai alternatif solusi, memahami instruksi, maupun menyelesaikan tantangan yang muncul selama proses bermain.
"Ketika anak melihat hamparan Lego bricks di depannya, dia bisa mencari beberapa alternatif cara untuk menyelesaikan suatu masalah. Itu yang melatih kreativitas," kata Pritta dalam acara Lego Playground "Main dan Jadi Hebat" di Grand Indonesia East Mall, Jakarta pada Jumat (05/06).
Selain kreativitas, kemampuan memecahkan masalah juga ikut berkembang. Anak belajar untuk menghadapi kesulitan, mencari bagian yang hilang, memperbaiki kesalahan, dan mencoba kembali sampai berhasil menyelesaikan rakitannya.
Baca juga: Mengapa Anak Perlu Banyak Bermain? Ini Penjelasan Psikolog
Menurut Pritta, proses tersebut juga membantu membangun ketangguhan atau resiliensi. Anak belajar bahwa kegagalan bukan alasan untuk berhenti, tapi bagian kecil dari proses untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
"Kalau kita ingin anak tangguh, itu sebenarnya sangat bisa dibentuk perlahan-lahan lewat bermain," katanya.
Ia pun menambahkan, bermain fisik juga melatih kemampuan visual spasial yang penting untuk berbagai profesi di masa depan, seperti desainer, arsitek, atau profesi di bidang kreatif lainnya.
Baca juga: Dokter Anjurkan Anak Bermain di Luar Ruangan Minimal 2 Jam Sehari, Ini Manfaatnya
Bermain secara online pun memiliki manfaat, tetapi perlu dibatasi
Ilustrasi Anak Bermain DigitalMeski bermain secara fisik memiliki sejumlah manfaat seperti yang telah disebutkan di atas, Pritta tidak menilai seluruh aktivitas digital sebagai sesuatu yang buruk. Menurut Pritta, anak tetap perlu mengenal teknologi karena merupakan bagian dari kehidupan saat ini.
"Saya tidak against digital. Digital kan macam-macam. Tapi kalau game online itu sebaiknya sebisa mungkin waktunya dikurangi," tutur Pritta.
Namun khusus untuk game online, ia menilai bahwa dalam penggunaannya orang tua perlu lebih hati-hati dan disesuaikan dengan tahap perkembangan anak.
“Menurut saya, anak baru siap itu secepat-cepatnya 15-16 tahun, SMA. Tapi, kan fenomena-nya sangat awal anak bisa dapat akses ke games atau games online,” ungkap Pritta.
Baca juga: 6 Hobi yang Bantu Menjaga Otak Tetap Tajam, Termasuk Bermain Game
Pritta menjelaskan, alasannya karena paparan game online yang berlebihan dapat membuat anak terus mencari stimulasi instan sehingga berdampak pada fokus dan kualitas tidur.
Ia menyebut kondisi ini sebagai popcorn brain, yakni ketika otak terbiasa menerima rangsangan cepat secara terus-menerus.
Anak tetap membutuhkan waktu untuk bergerak, berinteraksi langsung dengan keluarga maupun teman sebaya.
Oleh karena itu, Pritta menyarankan untuk anak usia dini sampai usia 8 tahun, dibandingkan bermain secara digital, lebih baik melakukan aktivitas bermain yang melibatkan benda fisik.
"Peran orangtua bukan membatasi untuk menimbulkan resistensi dari anak, tetapi peran orangtua harus tahu tahapan perkembangan anak saya ada di mana, butuhnya dia digitalnya apa, butuhnya dia hands-on learning-nya apa, dan (orangtua) bisa mendampingi," pungkas Pritta.
Tag: #bermain #fisik #atau #game #online #mana #yang #lebih #baik #untuk #anak