PSI: Partai Muda dalam Rumus Matematika Politik Lama
RAPAT Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 2026 di Makassar mungkin tampak di permukaan sebagai agenda rutin partai politik seperti pelantikan pengurus, pidato ketua umum, jalan sehat, gala dinner, dan sesi pengarahan tokoh nasional.
Namun, jika dibaca lebih cermat, Rakernas ini justru menandai titik balik penting dalam politik Indonesia. Bukan hanya bagi PSI, tetapi juga bagi arah demokrasi kita secara keseluruhan.
PSI yang selama ini dikenal sebagai partai anak muda, antikorupsi, dan anti-oligarki, kini sedang menempuh jalur yang jauh lebih kompleks, dengan bertransformasi menjadi partai kekuasaan.
Transformasi ini tidak terjadi dalam ruang kedap. Ia berlangsung dalam lanskap demokrasi Indonesia yang, meminjam istilah ilmuwan politik Jeffrey A. Winters, adalah demokrasi prosedural yang hidup berdampingan dengan oligarki yang tangguh dan adaptif.
Dari gerakan moral ke mesin politik
Pada fase awal kemunculannya, PSI hadir sebagai anomali. Di tengah partai-partai mapan yang sarat elite lama, PSI tampil dengan wajah baru: anak muda, transparan, berani bersuara keras soal intoleransi dan korupsi.
Namun, idealisme semacam ini, dalam sistem politik Indonesia, memiliki batas struktural yang jelas. Partai tanpa sumber daya besar, tanpa jaringan elite daerah, dan tanpa patron kuat, akan selalu berada di pinggiran.
Baca juga: Di Balik Kalimat Berjuang Mati-matian Jokowi di Rakernas PSI 2026
Rakernas PSI 2026 menunjukkan bahwa partai ini menyadari batas tersebut. Kehadiran Presiden ke-7 Joko Widodo sebagai “Bapak Ideologis PSI”, masuknya elite daerah kuat seperti Rusdi Masse ke orbit PSI, serta penekanan pada pembentukan struktur hingga tingkat RT/RW, adalah sinyal bahwa PSI kini sedang membangun “mesin besar”.
Ini adalah pergeseran penting, dari partai yang mengandalkan wacana dan moral politik, menjadi partai yang serius membangun infrastruktur kekuasaan.
Peran Jokowi dalam Rakernas PSI tidak bisa dibaca sekadar sebagai kehadiran seorang mantan presiden yang memberi nasihat.
Dalam konteks teori politik, ini adalah contoh klasik post-presidential power consolidation, atau upaya seorang mantan kepala negara mempertahankan pengaruh melalui kendaraan politik baru.
Jokowi bukan oligark dalam pengertian klasik ala Winters. Ia tidak memiliki kekayaan ekstrem yang menjadi ciri oligarki.
Namun, ia adalah apa yang bisa disebut sebagai oligarchic enabler, yaitu aktor non-oligark yang memungkinkan sistem oligarki tetap stabil melalui legitimasi politik dan popularitas massal.
Dan dengan PSI, Jokowi menemukan kendaraan yang tepat; Partai muda, bersih secara citra, dan belum dibebani dosa sejarah kekuasaan.
PSI, di sisi lain, mendapatkan sesuatu yang sangat berharga, mulai dari akses pada legitimasi, jaringan, dan stabilitas elite. Ini adalah simbiosis politik yang rasional. Matematika politik yang hampir tak terelakkan.
Partai Super Terbuka: Demokrasi atau Ilusi?
Salah satu gagasan utama yang digaungkan PSI adalah konsep “Partai Super Terbuka”. Pemilihan ketua umum dengan e-voting, prinsip one man one vote, dan klaim bahwa partai bukan milik segelintir orang terdengar sangat progresif. Secara prosedural, ini memang kemajuan dibanding praktik partai-partai lama.
Namun demokrasi, seperti diingatkan Jeffrey Winters, tidak hanya soal prosedur, melainkan soal distribusi kekuasaan nyata.
Baca juga: Ahmad Ali dengan Politik Jalan Tengah PSI
Pertanyaan kuncinya bukan “apakah anggota bisa memilih?”, melainkan “siapa yang menentukan opsi yang bisa dipilih?”
Dalam praktik politik modern, sering kali partisipasi luas justru menjadi alat legitimasi bagi keputusan yang secara substantif tetap dikendalikan elite.
Partai bisa sangat demokratis di permukaan, tetapi tetap oligarkis dalam struktur strategisnya. Dalam konteks ini, “Partai Super Terbuka” berpotensi menjadi apa yang disebut sebagai demokrasi prosedural tanpa demokrasi struktural.
Masuknya (atau sinyal kuat masuknya) Rusdi Masse ke PSI adalah penanda paling jelas dari perubahan orientasi partai ini.
Rusdi bukan figur ideologis. Ia adalah elite lokal dengan jaringan ekonomi-politik kuat di Sulawesi Selatan.
Dalam perspektif Winters, ia adalah bagian dari oligarki daerah, aktor dengan sumber daya signifikan yang memainkan peran penting dalam politik lokal.
Ketika PSI membuka pintu bagi figur semacam ini, pesan yang disampaikan jelas, bahwa partai ini siap berkompromi dengan realitas oligarki demi efektivitas elektoral.
Ini bukan penyimpangan moral semata, melainkan adaptasi struktural. Dalam sistem demokrasi oligarkis, partai yang menolak berinteraksi dengan oligarki akan sulit bertahan, apalagi berkembang.
Jika ditarik dalam garis evolusi yang lebih panjang, PSI hari ini sedang menapaki jalan yang dulu ditempuh oleh NasDem pada satu dekade lalu.
NasDem lahir sebagai partai baru dengan jargon perubahan, restorasi, dan semangat anti-status quo. Ia tampil segar, berbeda dari partai lama, dan mengklaim diri sebagai koreksi atas politik transaksional.
Namun seiring waktu, NasDem berhadapan dengan realitas keras politik elektoral Indonesia. Tanpa mesin daerah, tanpa elite lokal, dan tanpa patron nasional yang kuat, idealisme semata tidak cukup dijadikan modal untuk menang.
Maka NasDem bertransformasi. Ia mulai merekrut kepala daerah, pengusaha lokal, dan elite lama yang memiliki sumber daya dan jaringan.
Ia membangun kedekatan dengan pusat kekuasaan nasional—terutama pada era Jokowi—dan secara perlahan meninggalkan sikap ideologis yang kaku.
Walhasil, NasDem menjadi partai kekuasaan yang pragmatis: cair dalam posisi politik, fleksibel dalam koalisi, dan fokus pada efektivitas elektoral ketimbang konsistensi gagasan.
Dalam proses itu, idealisme awal tidak sepenuhnya hilang, tetapi lebih berfungsi sebagai narasi legitimasi daripada pedoman perjuangan.
Kini, PSI tampak mengulang pola yang sama, tetapi dalam versi yang dipercepat dan dengan kemasan generasi baru.
Baca juga: Reshuffle Kabinet: Ujian Loyalitas dan Kapasitas
PSI juga lahir dengan citra idealis: antikorupsi, anti-oligarki, dan dekat dengan anak muda. Namun, Rakernas 2026 menunjukkan bahwa PSI telah sampai pada kesimpulan yang sama seperti NasDem dulu bahwa untuk bertahan dan tumbuh, partai harus masuk ke dalam logika kekuasaan yang ada.
Maka rekrutmen elite lokal seperti Rusdi Masse, penekanan pada pembangunan struktur hingga RT/RW, serta keterikatan kuat dengan figur Jokowi sebagai patron nasional, adalah tanda bahwa PSI sedang membangun fondasi kekuasaan yang nyata, bukan sekadar simbolik.
Di titik inilah NasDem sendiri, jika dilihat lebih jauh, telah bergerak mendekati pola Golkar versi Reformasi. Golkar—berbeda dari partai lain—tidak pernah bergantung pada ideologi keras atau retorika moral.
Sejak awal, Golkar adalah partai fungsi: alat distribusi kekuasaan, stabilitas politik, dan akses ke sumber daya negara.
Ia sangat terinstitusionalisasi, memiliki jaringan hingga ke akar rumput, dan mampu bertahan siapa pun presidennya. Dalam demokrasi oligarkis Indonesia, Golkar adalah bentuk partai yang paling matang dan paling tahan banting.
PSI tampaknya sedang bergerak ke arah yang sama, tetapi dengan wajah yang sama sekali berbeda.
Jika Golkar lama tampil dengan jas safari, pidato formal, dan simbol-simbol negara, PSI tampil dengan jaket kasual, media sosial, dan bahasa anak muda.
Namun di balik perbedaan gaya itu, logika yang dibangun mulai serupa: membangun mesin, merawat elite, dan memastikan akses ke pusat kekuasaan.
Dalam pengertian ini, PSI bisa dibaca sebagai Golkar generasi baru—partai yang belajar dari keberhasilan Golkar dan NasDem, tetapi membungkusnya dengan estetika digital dan narasi partisipatif.
Dengan kata lain, Rakernas PSI di Makasar itu, adalah gambaran tentang bagaimana politik kekuasaan di Indonesia tidak benar-benar berubah, melainkan beradaptasi dengan zaman. Struktur tetap, pemain berganti.
Oligarki tetap bekerja, tetapi kini berbicara dengan bahasa yang lebih ramah, lebih muda, dan lebih demokratis di permukaan.
Pengembangan ini menunjukkan bahwa PSI bukan anomali, melainkan mata rantai terbaru dalam evolusi partai kekuasaan Indonesia. Ia tidak muncul untuk menghancurkan sistem, tetapi untuk hidup—dan mungkin berjaya—di dalamnya.
Demokrasi yang semakin adaptif
Kemudian, apakah semua ini buruk bagi demokrasi? Jawaban ilmiahnya tidak sesederhana hitam-putih.
Di satu sisi, PSI membawa inovasi prosedural, membuka ruang partisipasi baru, dan merepresentasikan generasi yang sebelumnya apatis terhadap partai politik.
Di sisi lain, integrasi PSI ke dalam sistem oligarki justru menunjukkan betapa tangguh dan adaptifnya oligarki Indonesia.
Winters menyebut fenomena ini sebagai oligarchic resilience, atau kemampuan oligarki untuk bertahan bukan dengan melawan demokrasi, tetapi dengan menyesuaikan diri dan menungganginya.
Baca juga: Pembersihan Terakhir di Zhongnanhai
Demokrasi tidak dihancurkan, melainkan dikelola. Partisipasi diperluas, tetapi struktur kekuasaan inti tetap relatif utuh.
Pada akhirnya, PSI bukanlah problem utama, apalagi penyebab utama lahirnya problem demokrasi Indonesia. Alih-alih, ia adalah cermin dari sistem yang ada, atau anak kandung dari rezim demokrasi kita.
Ketika partai muda, idealis, dan progresif pun akhirnya harus berkompromi dengan oligarki demi bertahan, itu menunjukkan bahwa masalahnya jauh lebih dalam dari sekadar niat baik atau buruk satu partai. Ini hanya hasil penjumlahan rasiponal dari matematika politik yang normal ada.
Saat ini, PSI sedang berdiri di persimpangan sejarahnya sendiri; antara menjaga sisa idealisme sebagai pembeda, atau sepenuhnya larut menjadi mesin kekuasaan yang efisien.
Pilihan apa pun yang diambil, satu hal sudah jelas, bahwa Rakernas PSI 2026 menandai bahwa partai ini tidak lagi bermain di pinggiran.
Ia telah masuk ke jantung permainan kekuasaan Indonesia— permainan yang demokratis secara prosedur, tetapi oligarkis secara struktur.
Dan di sanalah, sesungguhnya, ujian terbesar PSI dimulai.