Kritik IDAI dan Klarifikasi BGN soal Pemberian Susu Formula di MBG
Ilustrasi susu formula untuk bayi. Kemenkes akan mengirimkan rekomendasi kepada BGN terkait susu formula dalam MBG, sementara IDAI menegaskan ASI tetap menjadi nutrisi utama bayi.(SHUTTERSTOCK/DIMA SOBKO)
08:52
22 Mei 2026

Kritik IDAI dan Klarifikasi BGN soal Pemberian Susu Formula di MBG

- Pemberian susu formula dalam Makan Bergizi Gratis (MBG) menuai kritik dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Badan Gizi Nasional (BGN) lantas memberi klarifikasi.

IDAI menyoroti rekomendasi memasukkan produk susu formula untuk anak usia enam bulan ke atas (formula lanjutan dan formula pertumbuhan) secara massal tanpa indikasi medis spesifik.

IDAI memberikan catatan kritis pada Petunjuk Teknis (Juknis) penyediaan gizi yang dikeluarkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Baca juga: BGN Tegaskan Tak Beri Opsi Susu Formula Bayi untuk Program MBG, Utamakan ASI

Juknis tersebut kedapatan memfasilitasi pembagian susu formula lanjutan untuk usia 6–12 bulan serta formula pertumbuhan bagi usia 12–36 bulan dalam skala masif, tanpa adanya proses penapisan (screening) indikasi medis yang ketat.

IDAI sampaikan surat terbuka

IDAI menyampaikan surat terbuka kepada BGN terkait pemberian susu formula pada MBG.

"Kebijakan distribusi susu formula massal yang berjalan hari ini, tanpa pemeriksaan dokter dan indikasi medis, berisiko membuat ibu-ibu Indonesia berhenti menyusui," tertulis surat terbuka, yang telah dikonfirmasi Ketua IDAI Piprim Basarah kepada Kompas.com, Kamis (21/5/2026).

IDAI menuturkan, ASI bukan hanya sekadar makanan, tetapi menjadi pelindung bagi bayi melalui kandungan gizi yang ada di dalamnya.

"Zat kekebalan tubuh dari Ibu. Bakteri baik untuk usus. Sinyal pertumbuhan otak," tulis surat terbuka tersebut.

Baca juga: IDAI Sampaikan Surat Terbuka untuk BGN, Soroti Pemberian Susu Formula di Program MBG

IDAI lalu menyinggung UU No. 17 tahun 2023 dan PP Nomor 28 tahun 2024 sudah mengatur dengan jelas mengatur bahwa "Formula hanya boleh diberikan atas rekomendasi dokter dan indikasi medis".

Gizi ASI tak tergantikan

Ketua Satgas ASI IDAI Naomi Esthernita menuturkan bahwa ASI mengandung elemen hidup yang mutlak dan tidak akan pernah bisa direplikasi oleh teknologi susu formula mana pun.

"ASI bukan sekadar makanan. Di dalamnya ada ratusan komponen bioaktif yang bekerja melindungi bayi dan anak. ASI juga berfungsi sebagai zat kekebalan tubuh dari ibu, bakteri baik untuk usus, juga sebagai sinyal pertumbuhan otak," jelas Naomi dalam siaran pers resmi, Kamis (21/5/2026).

Baca juga: Klarifikasi Kepala BGN soal Pemberian Susu Formula pada MBG yang Disorot IDAI

Menurut Naomi, kandungan gizi dari ASI hingga saat ini belum ada satu pun produk buatan alias susu formula yang mampu menyamai kompleksitas nutrisi tersebut.

"ASI adalah yang terbaik yang bisa dibuat manusia saat ini. Anak-anak kita butuh ASI, jangan sampai kebijakan yang tidak tepat membuat mereka kehilangan sesuatu yang penting," tutur dia.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah juga menegaskan bahwa jajarannya hanya ingin mengingatkan visi pemerintah dalam mengikis masalah stunting dan memperbaiki gizi nasional.

"Tugas kami hanya mengingatkan. Kami berharap setiap kebijakan gizi yang ada betul-betul berpihak pada anak. Negara harus hadir sebagai pelindung, bukan perantara bagi industri yang ingin mereduksi standar gizi anak bangsa," ucap Piprim.

Klarifikasi Kepala BGN

Kepala BGN Dadan Hindayana memberikan klarifikasi bahwa BGN tidak membuka opsi pemberian susu formula bayi karena ingin mengutamakan ASI.

"BGN tidak membuka opsi susu formula bayi karena ingin mengutamakan ASI. Jadi mohon dicermati dengan lebih saksama," ujar Dadan saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (21/5/2026).

Kepala BGN, Dadan HindayanaKOMPAS.COM/KARNIA SEPTIA KUSUMANINGRUM Kepala BGN, Dadan Hindayana

Dadan menuturkan, BGN hanya membuka opsi pemberian susu Formula Lanjutan dan Formula Pertumbuhan pada program MBG.

Pemberian itu juga sesuai kebutuhan dan atas rekomendasi ahli gizi SPPG atau minimal bidan dan puskesmas setempat.

"Minimal bidan atau puskesmas jika ASI tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan," jelas dia.

Untuk Kelompok Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Anak Balita, BGN membuka opsi untuk memberikan nutrisi sesuai kebutuhan berbasis hasil diagnosis di lapangan.

Usia pemberian susu

Lebih lanjut, Dadan menjelaskan kalau pemberian susu formula itu dibedakan berdasarkan tahap usia untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Pada tahap 1, Formula Bayi untuk bayi baru lahir hingga usia 6 bulan. Komposisinya dirancang agar paling mendekati ASI, menjadikannya sumber nutrisi utama.

"BGN sekali lagi tidak membuka opsi susu formula bayi, hanya Lanjutan dan Pertumbuhan," ujar dia.


Kemudian pada tahap 2, yakni formula lanjutan untuk bayi berusia 6–12 bulan.

Kata Dadan, pemberian susu Formula Lanjutan ini bertujuan untuk pelengkap karena anak sudah mulai mencoba Makanan Pendamping Asi.

"Diformulasikan sebagai pelengkap seiring dimulainya Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan tambahan protein, kalsium, dan zat besi," ucap dia.

Kemudian pada tahap 3 dan seterusnya yakni formula pertumbuhan diperuntukkan bagi balita (usia 1–3 tahun atau lebih).

"Berfungsi sebagai nutrisi pendukung untuk aktivitas dan masa pertumbuhan aktif mereka," tutur dia.

Kembali lagi Dadan menegaskan bahwa pemberian susu Formula Lanjutan dan Pertumbuhan itu juga tidak sembarangan karena harus melalui rekomendasi minimal bidan dan puskesmas.

Tag:  #kritik #idai #klarifikasi #soal #pemberian #susu #formula

KOMENTAR