Kiamat Ketiga Italia dan Dokumen 900 Halaman yang Terlupakan
- Gagal lolos ke Piala Dunia 2026 bak kiamat ketiga bagi Italia. Bencana ini dimulai sejak jauh-jauh hari, saat Italia tak lagi bisa memproduksi Totti dan Maldini.
Stadion Bilino Polje, Zenica, 70 kilometer dari Sarajevo jadi kuburan untuk Timnas Italia racikan Gennaro Gattuso.
Tak ada Piala Dunia 2026 bagi Italia, tim pemilik empat bintang juara. Cerita yang sama seperti terus terulang untuk negeri yang wilayah daratannya tampak seperti kaki orang sedang menyepak bola.
Negeri yang begitu gila bal-balan itu lagi-lagi cuma akan jadi penonton pesta paling akbar dunia.
Untuk kali ketiga secara beruntun, Timnas Italia gagal lolos ke Piala Dunia. Pahit terus menerus muncul pada 2018, 2022, dan 2026.
Baca juga: Italia Gagal ke Piala Dunia: Air Mata Gennaro Gattuso, Perih Buffon
Lawan berganti, mulai dari Swedia (playoff Piala Dunia 2018), Makedonia Utara (2022), dan kini Bosnia-Herzegovina.
Tetapi, ceritanya selalu sama, yakni Gli Azzurri, bercucuran air mata karena gagal melaju ke Piala Dunia.
Kiper Timnas Italia, Gianluigi Donnarumma, bereaksi setelah kekalahan adu penalti lawan Bosnia dan Herzegovina. Timnas Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 usai menelan kekalahan 1-4 pada babak adu penalti saat bermain lawan Bosnia dan Herzegovina pada Rabu (1/4/2026) dini hari WIB.
Hujan 30 Tembakan di Zenica
Seorang Gianluigi Donnarumma di bawah mistar tak cukup untuk menahan hujan 30 tembakan Bosnia di Bilino Polje, Selasa (31/3/2026).
Setelah unggul via gol Moise Kean (15'), gawang Italia jebol oleh Haris Tabakovic (79') 11 menit jelang bubaran.
Perpanjangan waktu tak terhindarkan. Melalui 120 menit terasa seperti jalan terjal bagi Italia yang sejak akhir babak pertama mentas dengan 10 orang, usai Alessandro Bastoni kena kartu merah lantaran melanggar Amar Memic.
Baca juga: Italia Gagal ke Piala Dunia, Waktu Gianluigi Buffon Sampai Juni
Kedigdayaan Donnaruma sepanjang 120 menit tak muncul di momen adu penalti. Ia tak bisa mengamankan tembakan eksekutor Bosnia-Herzegovina dari titik putih.
Di sisi lain, nestapa Italia tergambarkan lewat momen tembakan penalti Francesco Pio Esposito yang melayang dan sepakan kena tiang Bryan Cristante.
Kesuksesan Sandro Tonali sebagai algojo tak menolong Azzurri yang akhirnya kalah 1-4 dalam babak adu penalti.
"Mereka (Bosnia) pantas lolos. Namun, kisah dari kegagalan ini tidak dimulai tadi malam. Ini dimulai bertahun-tahun lalu, dan jauh lebih dalam daripada satu pertandingan," tutur wartawan media Italia Alanews, Andrea Eusebio, kepada KOMPAS.com.
Alessandro Del Piero (kiri) digantikan oleh Francesco Totti dalam laga Piala Dunia 2006 antara Italia vs Australia di Stadion Fritz-Walter, Kaiserslautern, Jerman, 26 Juni 2006. AFP PHOTO / PATRICK HERTZOG (Photo by PATRICK HERTZOG / AFP)
Tak Ada Totti, Del Piero, dan Maldini Baru
Menurutnya, Italia kini tak lagi bisa menelurkan talenta kelas satu yang bisa memberikan perbedaan di panggung besar seperti playoff Piala Dunia.
"Jawabannya sama politisnya dengan olahraga. Italia tidak lagi menghasilkan pemain seperti dulu."
"Di mana Totti baru, Del Piero baru, Maldini baru, Cannavaro baru? Mereka tidak ada, karena sistem yang seharusnya melahirkan mereka juga tidak ada."
"Tidak ada koneksi nyata antara Parlemen Italia, Lega Serie A, federasi, dan akademi tempat pemain muda seharusnya berkembang."
Andrea Eusebio juga menyorot bagaimana negerinya tak punya elemen penyokong untuk menghasilkan talenta jempolan.
"Infrastruktur kami rusak. Stadion-stadion kami rapuh dan bahkan kemarin, polisi keuangan Italia berada di Balai Kota Milan untuk menyelidiki penjualan San Siro kepada Inter dan AC Milan," kata pria yang kerap hadir sebagai pandit di Milan TV itu.
Konsep 900 Halaman Baggio yang Ditelantarkan
Begitu gagal total di Piala Dunia 2014 lantaran tersingkir di fase grup, Italia sejatinya telah berupaya melakukan transformasi.
Sang legenda, Roberto Baggio, ditunjuk untuk memimpin perubahan melalui perannya sebagai Direktur Teknik. Namun, tak ada langkah konkret untuk mengejawantahkan modul transformasi sepak bola Italia yang disusun Baggio.
"Satu-satunya kebijakan penting yang kita ingat adalah pada 2019, ketika pemerintah memangkas pajak gaji pemain asing untuk membuat Serie A kembali menarik. Itu tidak berhasil."
"Sementara itu, pada 2014, setelah dua kegagalan beruntun di Piala Dunia, Roberto Baggio menyusun dokumen setebal 900 halaman untuk membangun kembali sepak bola Italia dari akar rumput. Tidak ada yang mendengarkan. Tidak pernah dijalankan," kata Andrea Eusebio menjelaskan.
Ketika kesulitan untuk menghasilkan talenta besar, Italia juga harus menghadapi fenomena di mana masyarakatnya mulai kehilangan selera kepada sepak bola.
"Bagian paling menyedihkan? Kami mulai terbiasa dengan ini. Kegagalan ini nyaris tidak menimbulkan reaksi besar di sini. Italia terus berjalan, petenis kami berkembang, atlet kita memecahkan rekor, dan di Formula 1 kita punya bintang muda baru, Kimi Antonelli."
"Sepak bola mulai kehilangan pengaruhnya," ucap wartawan yang berbasis di Kota Milano tersebut.
"Sampai Italia memperbaiki sistemnya, secara politik, struktural, dan kultural, kami akan terus mengalami percakapan yang sama. Lawan berbeda, hasil sama. Rasa sakit yang sama, kejutan yang semakin kecil," tuturnya menjelaskan.
Titik Nadir Italia
Italia kini berada di titik terendah dalam sejarah. Baru kali ini terjadi tim juara dunia tak bisa lolos ke Piala Dunia tiga kali secarar berurutan.
Sulit menjelaskan apa yang terjadi kemarin dan alasan mengapa untuk ketiga kalinya secara beruntun Italia gagal lolos ke Piala Dunia," ucap wartawan La Gazzetta dello Sport, Andrea Ramazzotti kepada KOMPAS.com melalui pesan singkat.
"Terlalu banyak hal yang bisa dibahas. Tidak ada satu orang pun yang sepenuhnya bersalah atas situasi ini. Ini adalah masa terburuk dalam sejarah kami dan untuk bangkit kembali tidak akan mudah," ujarnya menambahkan.
Italia butuh perubahan. Tentu, bukan hanya di sektor kepelatihan, karena sudah terbukti nama-nama berbeda Gian Piero Ventura, Roberto Mancini, dan Gattuso berujung kepada cerita yang sama gagal lolos ke Piala Dunia.
"Belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya pikir pelatih akan diganti. Sekarang atau bulan Juni."
"Itu pendapat saya. Saya tidak tahu apakah Gattuso ingin bertahan. Manajemen juga bisa berubah, maksud saya Buffon (Kepala Delegasi Tim) dan presiden FIGC (Gabriele Gravina). Masih terlalu dini untuk mengatakan semuanya saat ini," kata Andrea Ramazzotti.
Tanpa perubahan, Italia akan gamang menatap masa depan. Andai tak belajar dari kesalahan mengabaikan usulan Baggio berupa dokumen 900 halaman, Italia harus siap kembali menjalani lagi kisah yang berakhir dengan kekecewaan.
Tag: #kiamat #ketiga #italia #dokumen #halaman #yang #terlupakan