Piala Dunia 2026, Kompetisi dan Etalase Diplomasi Sepak bola Iran
DI TENGAH kebuntuan upaya perdamaian di antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berseteru sejak 28 Februari lalu,
Tim Nasional (Timnas) Iran menunjukkan keteguhan tekadnya untuk tetap mengikuti gelaran Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026, bertempat di Kanada, Meksiko, dan AS.
Bagi Iran, gelaran Piala Dunia 2026 bukan hanya sekadar kompetisi, tapi juga secara tidak langsung dapat digunakan sebagai panggung diplomasi (diplomacy track) untuk menunjukkan nilai-nilai sportivitas yang selalu dijunjung tinggi oleh bangsa Persia.
Ada risiko yang potensial dihadapi oleh Timnas Iran tersebut. Tapi di sisi lain, ada keuntungan diplomasi yang bisa dimaksimalkan.
Diplomasi Olahraga sebagai Soft Power
Olahraga merupakan salah satu instrumen diplomasi yang sudah digunakan sejak lama oleh negara-negara di dunia.
Pertandingan olahraga menyuguhkan peluang untuk membangun dialog dan komunikasi secara lebih cair dibandingkan jalur-jalur diplomasi formal yang cenderung keras dan penuh intrik politik.
Olahraga menjadi sarana yang sangat efektif untuk membangun bahkan meningkatkan citra negara di panggung global, mempromosikan nilai-nilai bersama terutama sportivitas dan egalitarianisme, bahkan sebagai sarana resolusi konflik atau mekanisme mewujudkan perdamaian antarnegara.
Baca juga: Feodalisme Dewan Juri
Dengan keuntungan strategis sedemikian, maka tak heran kompetisi olahraga seperti piala dunia, olimpiade, dan lainnya diburu oleh semua negara agar dapat berpartisipasi.
Muatan diplomasi pada olahraga sejatinya dapat ditelusuri pada kerangka berpikir dalam studi hubungan internasional, terutama yang terkait dengan postur kekuatan negara.
Pada 1980-an, ilmuwan politik dan hubungan internasional, Joseph S. Nye Jr, memperkenalkan terminologi “kekuatan lunak” atau soft power.
Dalam konsepsi Nye, kekuatan lunak adalah kemampuan suatu negara untuk mempengaruhi aktor lain—negara lain, agar melakukan apa yang diinginkannya melalui penggunaan daya tarik, budaya, nilai-nilai politik, serta kebijakan, bukan dengan instrumen kekerasan atau militer.
Dalam dinamikanya, kekuatan lunak menjadi instrumen yang bersifat sinergis-kolaboratif dengan kekuatan keras (hard power) dalam membentuk konsep smart power yang digunakan untuk mencapai kepentingan nasional suatu negara.
Labirin sejarah yang paling epik dan monumental bagaimana olahraga menjadi instrumen diplomasi yang sangat kuat dapat dilihat pada kasus “diplomasi pingpong” antara Tiongkok dan AS pada era 1971.
Pada masa itu, tim tenis meja AS diundang ke Tiongkok untuk melakukan pertandingan tenis meja persahabatan sebagai upaya cooling down atas ketegangan hubungan kedua negara yang tercipta selama perang dingin.
Peristiwa ini bermula ketika pemain AS, Glenn Cowan, tertinggal bus timnya.
Cowan akhirnya memutuskan untuk menumpang bus tim Tiongkok di kejuaran tenis meja dunia di Jepang.
Di dalam bus, pemain bintang Tiongkok, Zhuang Zedong menyapa Cowan dan memberinya hadiah.
Pasca kejadian, Cowan menceritakan kejadian tersebut kepada media, sehingga mengundang perhatian dan simpati dunia internasional.
Selanjutnya, pemerintah Tiongkok secara ofisial mengundang tim tenis meja AS untuk mengunjungi Tiongkok, sehingga menjadikan tim tenis meja AS sebagai delegasi AS pertama yang mengunjungi Tiongkok sejak 1949.
Dalam dinamikanya, tim tenis meja Tiongkok melakukan kunjungan balasan ke AS pada 1972 yang menjadi fondasi vital bagi kerja sama strategis kedua negara.
Diplomasi pingpong ini banyak disebut oleh kalangan di dunia sebagai “bola kecil yang menggerakkan bola besar”, menjadi titik masuk bagi kunjungan Presiden AS Richard Nixon pada 1972 yang mendorong terjadinya normalisasi hubungan antara AS dan Tiongkok dari level ketegangan konflik menuju persahabatan yang lebih hangat.
Sikap Publik Domestik AS
Apa yang terjadi pada lima dekade silam tersebut bisa saja terulang di benua Amerika, meskipun dalam sirkumstansi yang tidak sama persis.
Kebijakan Trump yang membawa militer AS ke palagan peperangan di Timur Tengah adalah tindakan inkonstitusional yang bertentangan dengan aspirasi rakyat AS.
Penolakan rakyat AS terhadap peperangan termanifestasi secara telanjang dalam kasus demo No Kings yang terjadi di hampir seluruh negara bagian AS.
Mereka menuntut Trump mengakhiri perang, bahkan dimakzulkan karena melanggar konstitusi AS.
Artinya, dalam konteks Piala Dunia 2026 yang juga kemungkinan besar akan diikuti oleh Iran, publik AS dapat bersikap sebagai tuan rumah yang ramah bagi Iran, serta jernih memilah antara peristiwa politik dan peristiwa olahraga yang terpisah sama sekali.
Baca juga: Ironi Dominasi Kebenaran dalam Lomba Cerdas Cermat Pilar Kebangsaan
Sebaliknya bagi Timnas Iran, sikap yang menjunjung tinggi sportivitas dan tidak bermusuhan terhadap publik AS dapat menjadi kanal alternatif yang mendukung perdamaian di antara kedua pihak yang diperjuangkan di meja dan bilik diplomasi saat ini.
Pemerintah Iran sendiri secara jelas menyatakan bahwa timnas Iran akan tetap berpartisipasi di tengah konflik yang belum mereda di antara kedua negara.
Komitmen Iran ini mendapatkan sambutan positif dari FIFA yang menegaskan bahwa Iran tetap menjadi peserta Piala Dunia 2026, tergabung bersama Belgia, Mesir, serta Selandia Baru.
Meksipun terlihat antusias untuk mengikuti gelaran, pemerintah Iran cenderung bersikap hati-hati.
Federasi Sepakbola Iran meminta FIFA untuk menjamin keamanan, kelancaran visa, dan perlakuan adil bagi delegasi Iran selama gelaran kompetisi.
Iran juga menuntut penghormatan terhadap simbol kenegaraan seperti bendera dan lagu kebangsaan, serta meminta agar konferensi pers fokus pada persoalan kompetisi sepak bola, bukan isu politik yang saat ini membelit kedua negara.
Di samping potensi-potensi upaya diplomasi yang akan dilakukan oleh kedua negara yang berkonflik—oleh Timnas Iran di satu sisi, dan publik domestik AS di sisi lain, pergelaran Piala Dunia 2026 akan menjadi laboratorium diplomasi terbuka yang dinantikan oleh publik dunia.
Perdamaian di Timur Tengah sejatinya bukan sekadar tanggung jawab kedua negara yang berkonflik untuk mewujudkannya, melainkan dibutuhkan partisipasi seluruh ekosistem dunia untuk mendorongnya.
Menarik untuk melihat bagaimana sikap dari 46 negara lainnya yang berkontestasi dalam mendukung perdamaian di Timur Tengah.
Dukungan umumnya potensial tidak hanya diaktualisasikan dalam sikap yang menjunjung sportivitas dan fair play selama perhelatan kompetisi.
Namun, dapat dimanifestasikan dalam rupa-rupa bentuk semisal selebrasi gol dengan membuka kaus bertuliskan “peace for middle east”, “save the world from nuclear”, atau bahkan “no kings” yang menjadi suara hati rakyat AS. Kita tunggu saja.
Tag: #piala #dunia #2026 #kompetisi #etalase #diplomasi #sepak #bola #iran