Hacker Iran Mengamuk Serang Amerika, Sistem Air dan Energi Jadi Target
- Spekulasi bahwa kelompok peretas (hacker) Iran sedang melakukan "jeda taktis" akhirnya terbukti benar.
Setelah sempat "hening" dan seolah bersembunyi pasca-serangan Amerika Serikat (AS) pada awal Maret lalu, pasukan siber yang didukung Teheran kini kembali dengan kekuatan penuh untuk menggempur infrastruktur kritis di Negeri Paman Sam.
Aksi hacker Iran tersebut dilaporkan sangat masif. Mereka menargetkan sejumlah hardware dan peralatan penting yang digunakan di seluruh infrastruktur kritis AS.
Dihimpun KompasTekno dari Reuters, rentetan peretasan tersebut sebagai respons langsung atas memanasnya permusuhan dan ketegangan geopolitik antara kedua negara.
Hal ini secara resmi dikonfirmasi melalui peringatan keamanan (advisory) gabungan yang diterbitkan pada Selasa (7/4/2026) oleh sejumlah lembaga penegak hukum, intelijen, dan keamanan siber top AS.
Lembaga yang membunyikan alarm bahaya ini tidak main-main, melibatkan FBI, Badan Keamanan Nasional (NSA), Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA), Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), Departemen Energi (DoE), hingga Komando Siber AS (U.S. Cyber Command’s Cyber National Mission Force).
Saat dimintai keterangan lebih lanjut mengenai laporan ini, pihak FBI menolak untuk memberikan komentar tambahan.
Baca juga: Data Center AWS di Bahrain Rusak Akibat Serangan Iran
Gempuran siber Iran kali ini jauh dari sekadar meretas situs web.
Otoritas AS membeberkan bahwa para hacker secara agresif menargetkan Programmable Logic Controllers (PLC) dan layar antarmuka SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition) yang terekspos ke publik internet.
Bagi Anda yang belum familier, perangkat-perangkat ini adalah "otak" elektronik yang digunakan untuk berinteraksi dan mengendalikan langsung berbagai perlengkapan dan sistem fisik di fasilitas infrastruktur kritis.
Menurut laporan gabungan tersebut, hacker Iran mencari cara untuk memicu "efek disruptif (kekacauan) di dalam wilayah Amerika Serikat."
Praktiknya pun sangat berbahaya. Dalam beberapa kasus, hacker dilaporkan telah berinteraksi dengan file data di dalam sistem untuk mengubah data yang ditampilkan di layar, sembari mencuri dan mengekstrak data proyek dari perangkat tersebut.
Aktivitas peretasan yang menyasar fasilitas layanan dan gedung pemerintah, sistem pengolahan air bersih dan air limbah, hingga sektor energi ini telah membuahkan hasil.
Otoritas mengakui bahwa dalam beberapa insiden, serangan ini telah sukses mengakibatkan gangguan operasional yang nyata serta kerugian finansial di pihak AS.
Baca juga: Mengapa China Tak Terobsesi Bikin AI Paling Pintar?
Ancaman "kiamat" Trump
Eskalasi serangan siber berskala masif ini tidak terjadi di ruang digital, melainkan sejalan dengan retorika perang yang kian memanas.
Presiden AS, Donald Trump, sempat melontarkan ancaman bernada kiamat dengan memperingatkan bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika Iran gagal mencapai kesepakatan dengan AS.
Di kubu seberang, Teheran tak gentar dan justru membalas dengan ancaman bahwa mereka siap menyerang target-target infrastruktur tambahan yang melintasi negara-negara tetangganya di kawasan Teluk.
Rentetan peristiwa ini seakan menjawab tuntas teka-teki "keheningan" pasukan siber Iran yang sempat diulas KompasTekno bulan lalu. Keheningan mereka usai gempuran siber AS ternyata bukanlah tanda menyerah. (Baca: Fakta di Balik Heningnya Pasukan Siber Iran Usai Serangan AS)
Sesuai dengan analisis pakar intelijen, masa jeda tersebut adalah fase pengintaian diam-diam.
Mereka menggunakan waktu tersebut untuk memetakan kelemahan jaringan dan membidik secara presisi perangkat PLC serta SCADA milik AS, sebelum akhirnya menekan "tombol eksekusi" yang memicu kekacauan operasional seperti yang terjadi minggu ini.
Tag: #hacker #iran #mengamuk #serang #amerika #sistem #energi #jadi #target