Harga Emas dan Perak Dunia Anjlok di Tengah Lonjakan Minyak dan Risiko Inflasi Global
Ilustrasi harga emas. Harga emas. Apa prediksi harga emas untuk tahun 2030? Berapakah harga emas pada tahun 2030? Berikut prediksi harga emas 2030 dalam rupiah menurut pakar.(sahabat.pegadaian.co.id)
18:20
20 Maret 2026

Harga Emas dan Perak Dunia Anjlok di Tengah Lonjakan Minyak dan Risiko Inflasi Global

Harga emas dan perak dunia mengalami tekanan tajam dalam beberapa waktu terakhir seiring lonjakan harga minyak dunia dan meningkatnya kekhawatiran inflasi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi ini mendorong perubahan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia.

Dikutip dari Reuters, Jumat (20/3/2026), harga emas dunia tercatat turun lebih dari 4 persen dalam satu sesi perdagangan dan menyentuh level sekitar 4.612 dollar AS per ons, level terendah dalam lebih dari satu bulan.

Baca juga: Go Show Emas Antam Lebaran 2026, Catat Tanggal dan Lokasinya

Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.DOK. Pixabay/Global_Intergold. Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.

Penurunan ini terjadi ketika konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi yang berujung pada meningkatnya risiko inflasi global. 

Tekanan serupa juga dialami logam mulia lainnya. Harga perak melemah lebih dari 5 persen ke kisaran 71 dollar AS per ons.

Selain itu, logam industri seperti platinum dan palladium turut mengalami penurunan di tengah volatilitas pasar komoditas global. 

Lonjakan harga minyak ubah dinamika pasar

Kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen investor terhadap emas dan perak. Konflik yang melibatkan Iran dinilai memicu gangguan pasokan energi global sehingga mendorong reli harga minyak mentah.

Baca juga: Harga Emas Hari Ini 20 Maret 2026: Antam, Galeri 24 Pegadaian, dan UBS

Kondisi ini berimplikasi langsung terhadap ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter. Ketika harga energi naik, tekanan inflasi meningkat sehingga bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Hal tersebut mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.

Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini. DOK. Shutterstock. Ilustrasi emas batangan, harga emas hari ini.

Dalam laporan Reuters disebutkan, kekhawatiran bahwa inflasi akibat konflik Timur Tengah dapat membuat suku bunga tetap tinggi menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan fungsi emas sebagai aset safe haven. 

Lonjakan harga minyak juga mendorong penguatan dolar AS. Karena emas dihargai dalam dolar, penguatan mata uang tersebut membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor di luar Amerika Serikat, sehingga menekan permintaan.

Baca juga: Update Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, Galeri 24 dan UBS Turun Lagi

Sejumlah analis menilai kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar menciptakan tekanan berlapis terhadap logam mulia.

Aksi ambil untung setelah reli tajam

Selain faktor makroekonomi, penurunan harga emas dan perak juga dipicu aksi ambil untung (profit taking) setelah reli signifikan dalam beberapa bulan sebelumnya.

Analis mencatat harga emas sempat melonjak tajam sepanjang 2025 dan awal 2026 sehingga mendorong sebagian investor merealisasikan keuntungan ketika kondisi pasar berubah.

Setelah kenaikan yang sangat cepat, aksi ambil untung dapat memicu penurunan yang berlangsung berantai di pasar komoditas. 

Baca juga: Harga Emas Dunia Turun 7 Persen dalam Sepekan, Ini Penyebabnya

Dalam konteks ini, sebagian pelaku pasar melakukan rotasi aset dari logam mulia ke sektor energi yang dianggap lebih diuntungkan oleh konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak.

Ekspektasi suku bunga menjadi kunci

Arah kebijakan moneter global menjadi variabel penting yang memengaruhi harga emas. Ketika ekspektasi pemangkasan suku bunga menurun, aset non-yielding seperti emas biasanya mengalami tekanan.

Pasar menilai peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil seiring risiko inflasi yang meningkat akibat lonjakan harga energi. Dalam situasi seperti ini, instrumen yang memberikan imbal hasil seperti obligasi cenderung lebih menarik bagi investor.

Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.Shutterstock/VladKK Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.

Hubungan terbalik antara suku bunga dan harga emas sudah lama menjadi pola yang diamati di pasar. Ketika suku bunga naik atau bertahan tinggi, biaya peluang memegang emas meningkat sehingga permintaannya berkurang. 

Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok Lebih dari 4 Persen, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Tinggi

Dampak konflik geopolitik terhadap komoditas

Konflik geopolitik di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga berdampak luas pada komoditas lainnya.

Gangguan produksi dan distribusi minyak mentah di kawasan tersebut telah menciptakan ketidakpastian baru bagi pasar global.

Harga acuan minyak mentah Brent bahkan sempat diperkirakan mendekati level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir akibat terganggunya rantai pasok energi. 

Di sisi lain, inflasi yang dipicu kenaikan harga energi dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi global.

Baca juga: The Fed Tahan Suku Bunga, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah Lebih dari Sebulan

Mengutip warta Reuters, Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa lonjakan harga energi yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan inflasi sekaligus menekan pertumbuhan ekonomi dunia. 

Kondisi ini menciptakan lingkungan investasi yang lebih kompleks bagi pelaku pasar, terutama di sektor komoditas.

Perubahan preferensi aset safe haven

Secara historis, emas sering menjadi pilihan utama investor saat terjadi ketidakpastian global. Namun dalam situasi saat ini, sebagian investor justru beralih ke dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Analis menilai perubahan preferensi tersebut dipicu oleh ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat serta kebutuhan likuiditas di tengah volatilitas pasar.

Baca juga: Harga Emas Dunia Bangkit Usai Turun 6 Hari Beruntun

Seiring meningkatnya ketidakpastian, investor global cenderung mencari aset yang dianggap paling likuid dan stabil. Dalam konteks ini, dolar AS kembali menjadi tujuan utama arus dana global.

Ilustrasi emas batangan.PEXELS/JINGMING PAN Ilustrasi emas batangan.

Fenomena ini menegaskan bahwa pergerakan harga emas tidak hanya dipengaruhi faktor geopolitik semata, tetapi juga kondisi makroekonomi dan dinamika kebijakan moneter global.

Volatilitas pasar diperkirakan berlanjut

Ke depan, pasar komoditas diperkirakan tetap menghadapi volatilitas tinggi selama konflik geopolitik belum mereda dan harga energi masih berfluktuasi.

Kombinasi antara ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan bank sentral, serta perubahan sentimen investor dipandang akan terus memengaruhi pergerakan harga emas dan perak.

Baca juga: Perang Iran Picu Ketidakpastian Global, Kenapa Harga Emas Tak Naik Tajam?

Selain itu, dinamika pasar energi global yang sangat sensitif terhadap gangguan pasokan menjadikan harga minyak sebagai faktor kunci yang menentukan arah pasar komoditas secara keseluruhan.

Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan konflik dan data ekonomi global sebagai indikator utama dalam menentukan strategi investasi mereka.

Tag:  #harga #emas #perak #dunia #anjlok #tengah #lonjakan #minyak #risiko #inflasi #global

KOMENTAR