Harga Emas Dunia Sepekan Terburuk Sejak 1983 di Tengah Geopolitik
Harga emas dunia pada pekan ini mengalami tekanan tajam di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Dalam sepekan terakhir, logam mulia ini bahkan mencatat kinerja terburuk sejak 1983.
Mengutip CNN, Selasa (24/3/2026), harga emas dunia turun sekitar 11 persen sepanjang pekan terakhir.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 24 Maret 2026, Rp 2,84 Juta Per Gram
Ilustrasi emas. Perang di Timur Tengah mengganggu penerbangan dari Dubai, membuat pedagang menawarkan diskon emas hingga 30 dollar AS per ons.
Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dalam lebih dari empat dekade.
Jika dihitung sejak dimulainya konflik AS dan Iran, harga emas bahkan telah terkoreksi lebih dari 14 persen.
Kondisi ini terbilang kontras, mengingat emas selama ini dikenal sebagai aset safe haven yang biasanya menguat saat terjadi krisis.
Investor umumnya memburu emas untuk melindungi nilai aset dari lonjakan inflasi, pelemahan mata uang, maupun gejolak ekonomi.
Baca juga: Antam Rilis Emas Edisi Khusus Idul Fitri Saat Harga Logam Mulia Turun
Namun kali ini, kenaikan harga energi akibat perang justru memicu perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga global.
Kenaikan biaya energi mendorong bank sentral, termasuk bank sentral AS Federal Reserve (The Fed), untuk lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter.
Pasar kini memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi lebih lama.
Berdasarkan data CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga lanjutan tahun ini.
Baca juga: Harga Emas Loyo, Saham Tambang Tertekan Konflik di Timur Tengah
Sikap ini juga sejalan dengan hasil pertemuan Federal Open Market Committee yang memutuskan mempertahankan suku bunga acuan.
Pemerintah resmi mengenakan bea keluar untuk ekspor emas. Kebijakan ini dinilai bisa menekan margin emiten tambang, meski harga sahamnya masih bergerak positif.
Ekspektasi suku bunga tinggi tersebut meningkatkan daya tarik instrumen berbasis imbal hasil seperti obligasi, sehingga mengurangi minat terhadap emas yang tidak memberikan yield.
Selain itu, penguatan dollar AS turut menekan harga emas.
Dalam beberapa pekan terakhir, indeks dollar tercatat menguat seiring meningkatnya permintaan terhadap aset berbasis dollar AS.
Baca juga: Harga Emas Hari Ini 23 Maret 2026: Antam, Galeri 24 Pegadaian, dan UBS
"Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar," ujar ekonom Fundstrat, Hardika Singh.
Secara historis, emas cenderung menguat saat dollar melemah karena menjadi lebih murah bagi investor global.
Namun kali ini, penguatan dollar justru membuat harga emas relatif lebih mahal di pasar internasional.
Kombinasi tingginya suku bunga, penguatan dollar AS, dan perubahan sentimen pasar membuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai mulai berkurang.
Baca juga: Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah 4 Bulan saat Harga Minyak Naik
Di sisi lain, reli emas yang terjadi dalam dua tahun terakhir juga mulai kehilangan momentum.
Sebagian investor diduga melakukan aksi ambil untung atau menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain.
Sebagai catatan, harga emas sempat melonjak signifikan pada 2025 dengan kenaikan hingga 64 persen, tertinggi sejak 1979.
Bahkan, logam mulia ini sempat menembus level 5.000 dollar AS per troy ons pada Januari.
Baca juga: Harga Energi Melonjak: Peluang Emas Tambang Indonesia
Namun, euforia tersebut kini mulai mereda.
Pada akhir pekan lalu, harga emas tercatat turun di bawah 4.500 dollar AS per troy ons, menandai perubahan tren di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian.
Tag: #harga #emas #dunia #sepekan #terburuk #sejak #1983 #tengah #geopolitik