Permintaan Pusat Data Global Diproyeksi Melonjak 10 Kali Lipat hingga 2030, Bagaimana Pasar RI?
Ilustrasi data center AI.(Imaginima via SlashGear)
18:00
30 Maret 2026

Permintaan Pusat Data Global Diproyeksi Melonjak 10 Kali Lipat hingga 2030, Bagaimana Pasar RI?

- Kebutuhan pusat data global diproyeksi melonjak dalam lima tahun ke depan. Lonjakan terjadi seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Permintaan pusat data diperkirakan meningkat hampir 10 kali lipat pada periode 2025 hingga 2030.

VP Market Development and Sales Strategy DCI Indonesia Abieta Billy menyebut lonjakan ini didorong pertumbuhan industri AI yang masif.

“Bahwa proyeksi permintaan pusat data global akan naik sangat pesat, yaitu sampai hampir 10 kali lipat antara 2025 sampai dengan 2030. Itu poin yang pertama,” ujar Billy saat konferensi pers virtual, Senin (30/3/2026).

Baca juga: DCII Operasikan Data Center E2 Surabaya Semester I 2026, Perkuat Jaringan Timur

Nilai industri pusat data global juga diproyeksi meningkat tajam. Pada 2030, ukuran pasar diperkirakan mencapai 300 miliar dollar AS.

“Dan di tahun 2030 ekspektasinya secara global industri pusat data akan mencapai kurang lebih 300 miliar dollar dari sisi market size-nya,” paparnya.

Pertumbuhan ini sejalan dengan ekspansi pasar layanan AI. Dalam periode 2023 hingga 2025, pasar AI tumbuh lebih dari 200 persen per tahun. Nilainya kini menembus lebih dari 26 miliar dollar AS per tahun.Direktur Keuangan DCI Indonesia, Evelyn,Dokumentasi DCI Indonesia Direktur Keuangan DCI Indonesia, Evelyn,

Lonjakan tersebut terlihat dari peningkatan jumlah pengguna layanan AI seperti ChatGPT dan Gemini. Jumlah pengguna aktif naik empat kali lipat dari 2023 ke 2024, lalu kembali meningkat pada 2025.

“Dan ini terefleksi dari sisi pendapatan revenue perusahaan-perusahaan penyedia layanan AI tersebut. Kalau kita lihat secara historis dari tahun 2023-2025, pasar untuk layanan AI ini telah berkembang secara sangat pesat. Lebih dari 200 persen per tahunnya, dan pasarnya itu semakin besar mencapai lebih dari 26 billion dollars per tahunnya,” bebernya.

Baca juga: Digital Edge Investasi Rp 72 Triliun Bangun Data Center 500MW di Bekasi

Billy menegaskan seluruh aktivitas AI bergantung pada pusat data. Proses komputasi dan pengolahan data dilakukan di fasilitas tersebut.

“Tentunya semua layanan AI ini memerlukan pusat data. Di pusat data adalah dimana semua permintaan dan data yang kita proses, yang kita tanyakan kepada ChatGPT sebagai contohnya, itu semua diproses dan dilakukan di dalam pusat data,” katanya.

Perubahan pola penggunaan juga ikut mendorong kebutuhan. Pada tahap awal, kapasitas pusat data banyak digunakan untuk training model AI. Ke depan, penggunaan akan didominasi oleh inference.

Training merupakan proses melatih model. Inference adalah penggunaan model oleh pengguna akhir.

Kebutuhan inference meningkat karena membutuhkan respons cepat. Infrastruktur harus tersebar secara geografis agar mampu melayani pengguna secara real-time.

Indonesia dinilai memiliki peluang besar. Jumlah penduduk yang melebihi 280 juta orang menjadi basis permintaan yang kuat, terutama untuk layanan berbasis inference.

Persaingan industri pusat data juga semakin ketat. Billy menilai rekam jejak menjadi faktor utama dalam pemilihan penyedia layanan.

Rekam jejak memberi rasa aman bagi pelanggan, terutama untuk perusahaan berskala global.

Selain itu, kecepatan pembangunan menjadi keunggulan lain. DCII mengklaim mampu membangun pusat data hingga siap beroperasi dalam waktu kurang dari 12 bulan.

Tag:  #permintaan #pusat #data #global #diproyeksi #melonjak #kali #lipat #hingga #2030 #bagaimana #pasar

KOMENTAR