Hilirisasi Jadi Penopang, Surplus Perdagangan RI Bertahan 70 Bulan
Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada awal 2026. Tren positif ini sudah berlangsung hampir enam tahun atau 70 bulan berturut-turut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus kumulatif Januari hingga Februari 2026 mencapai 2,23 miliar dollar AS.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, kinerja ekspor industri pengolahan menjadi penopang utama di tengah tekanan pada komoditas mentah.
“Ekspor industri pengolahan pada Januari–Februari 2026 mencapai 37,06 miliar dollar AS, tumbuh 6,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Amalia dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: Impor RI Februari 2026 Naik 10,85 Persen, Neraca Perdagangan Tetap Surplus
Ekspor hilir jadi penopang utama
Produk hilir memberi kontribusi besar terhadap kinerja ekspor. Komoditas yang mendorong pertumbuhan antara lain olahan minyak kelapa sawit, olahan nikel, produk kimia dasar berbasis pertanian, serta kendaraan bermotor roda empat atau lebih.
Amalia menilai dominasi sektor ini menjadi penting saat ekspor dari sektor pertanian dan pertambangan melemah.
Strategi hilirisasi mulai menunjukkan hasil nyata. Peran sektor industri pengolahan terlihat dalam menjaga keseimbangan perdagangan.
Pasar ekspor semakin beragam
China masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia, terutama untuk produk olahan sawit, nikel, dan kimia dasar.
Ekspor olahan minyak kelapa sawit pada Februari 2026 ke China mencapai 556,31 juta dollar AS atau 19,19 persen dari total ekspor. India menyerap 433,95 juta dollar AS atau 14,97 persen. Pakistan sebesar 212,20 juta dollar AS atau 7,32 persen.
Permintaan dari pasar non-tradisional juga meningkat. Ekspor ke Amerika Serikat tumbuh 56,18 persen secara tahunan menjadi 177,91 juta dollar AS.
Ekspor ke Uni Emirat Arab melonjak 458,75 persen menjadi 63,89 juta dollar AS. Tren kenaikan terlihat dalam beberapa tahun terakhir.
Nilai ekspor olahan sawit ke negara tersebut naik dari 231,99 juta dollar AS pada 2023 menjadi 392,09 juta dollar AS pada 2024. Angka itu kembali meningkat menjadi 461,80 juta dollar AS pada 2025.
Peningkatan ini didorong perjanjian perdagangan bebas Indonesia–Uni Emirat Arab yang mulai berlaku sejak September 2023. Perjanjian tersebut memberikan tarif nol persen untuk sejumlah produk.
Baca juga: Impor RI Februari 2026 Naik 10,85 Persen, Neraca Perdagangan Tetap Surplus
Ekspor nikel ikut melonjak
Kinerja ekspor olahan nikel juga mencatat kenaikan tajam. Ekspor ke China pada Februari 2026 mencapai 697,58 juta dollar AS atau tumbuh 68,25 persen secara tahunan.
Ekspor ke Jepang naik 67,39 persen menjadi 142,12 juta dollar AS. Pengiriman ke Singapura melonjak 665,70 persen menjadi 46,72 juta dollar AS.
Perubahan ini menunjukkan pergeseran struktur ekspor Indonesia. Produk bernilai tambah mulai menggantikan dominasi komoditas mentah.
“Di tengah tekanan global terhadap harga komoditas, penguatan sektor industri pengolahan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan surplus neraca perdagangan," tuturnya.
Tag: #hilirisasi #jadi #penopang #surplus #perdagangan #bertahan #bulan