Dampak AS Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak ke 100 Dollar AS, Krisis Energi Bayangi Asia
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.(NASA EARTH OBSERVATORY via AFP)
17:32
13 April 2026

Dampak AS Blokade Selat Hormuz, Harga Minyak ke 100 Dollar AS, Krisis Energi Bayangi Asia

- Harga minyak dunia melonjak lebih dari 7 persen hingga kembali menembus level 100 dollar AS per barrel pada perdagangan Senin (13/4/2026).

Kenaikan ini terjadi setelah Amerika Serikat (AS) bersiap memblokade jalur pelayaran Iran melalui Selat Hormuz, menyusul gagalnya perundingan dengan Iran untuk mengakhiri perang.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik 7,03 dollar AS atau 7,4 persen menjadi 102,23 dollar AS per barel pada pukul 15:10 WIB, setelah sebelumnya turun 0,75 persen pada akhir perdagangan Jumat pekan lalu.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 7,31 dollar AS atau 7,6 persen ke level 103,88 dollar AS per barel, setelah sempat melemah 1,33 persen pada sesi sebelumnya.

Pada Minggu kemarin, Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan mulai memblokade Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah pembicaraan panjang antara Washington dan Teheran gagal menghasilkan kesepakatan damai dan berisiko merusak gencatan senjata selama dua minggu.

Trump juga mengakui dampak kebijakan tersebut terhadap pasar energi. Harga minyak dan bensin kemungkinan akan tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu (midterm elections) pada November mendatang.

Baca juga: Negosiasi Gagal, AS Umumkan Blokade Selat Hormuz, Kapal Berbalik Arah

Analis dari SEB, Erik Meyersson, menilai langkah AS yang ingin memblokade Iran mencerminkan kondisi gencatan senjata yang tidak lagi efektif.

"Blokade yang diumumkan AS menandai pengakuan bahwa premis utama gencatan senjata dan pembukaan kembali selat, untuk saat ini tidak dapat dipertahankan," kata Meyersson.

Komando Pusat AS menyatakan blokade akan mulai diberlakukan pada Senin ini pukul 10.00 pagi waktu setempat, mencakup seluruh lalu lintas kapal yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran.

Dalam pernyataannya, langkah ini disebut bakal diberlakukan secara tidak memihak terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.

Baca juga: Dari Hormuz ke Sawah: Geopolitik Pupuk dan Ketahanan Pangan Dunia

Kendati begitu, AS menegaskan tidak akan mengganggu kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz menuju atau dari pelabuhan non-Iran.

Di sisi lain, Garda Revolusi Iran memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak secara keras dan tegas.

Menurut data pelayaran, kapal tanker mulai menghindari Selat Hormuz menjelang rencana blokade AS.

Meski demikian, tiga supertanker bermuatan penuh masih melintasi selat tersebut pada Sabtu, menjadi kapal pertama yang keluar dari Teluk sejak gencatan senjata pekan lalu.

Baca juga: Lonjakan Harga Minyak Tekan APBN 2026, Pemerintah Perlu Jaga Subsidi dan Kurs

Dampak lonjakan harga minyak ke berbagai negara Asia

Kondisi harga minyak dunia yang bergejolak telah berimbas ke sejumlah negara, terutama Asia, yang mengandalkan impor bahan bakar.

Pada Indonesia, pemerintah telah menerapkan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH) sehari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN) mulai 1 April 2026.

Kebijakan WFH yang berlaku setiap hari Jumat itu bertujuan menghemat pengunaan energi di tengah terganggunya distribusi dan melonjaknya harga di pasar global.

Kebijakan WFH bagi para ASN tertuang dalam Surat Edaran Menteri PAN-RB Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Tugas Kedinasan Bagi Pegawai ASN di Instansi Pemerintah.

Baca juga: Filipina Umumkan Darurat Energi, Bangladesh Krisis BBM, Korsel Aktifkan Mode Siaga

Begitu pula dengan Filipina, Presiden Ferdinand Marcos Jr. memutuskan menerapkan kebijakan kerja empat hari dalam seminggu mulai 9 Maret 2026 untuk menghemat penggunaan energi.

Kebijakan itu berlaku bagi kantor-kantor pemerintahan cabang eksekutif dan tidak termasuk layanan darurat atau esensial, seperti kepolisian, pemadam kebakaran, serta kantor yang langsung melayani masyarakat.

Selain pengurangan hari kerja, seluruh instansi pemerintah juga diminta untuk mengurangi penggunaan listrik dan biaya bahan bakar berkisar 10-20 persen. Perjalanan dinas yang tidak penting dan kegiatan yang bisa dilakukan di kantor, juga untuk sementara dilarang.

Kebijakan tersebut berlaku sampai adanya pencabutan atau perubahan lebih lanjut dari Presiden Filipina.

Baca juga: Filipina Umumkan Darurat Energi, Bangladesh Krisis BBM, Korsel Aktifkan Mode Siaga

Sedangkan di Bangladesh, sudah mengalami krisis bahan bakar minyak (BBM) sejak akhir Maret 2026. Terjadi antrean panjang dan kekacauan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Pasokan BBM yang tersedia dinilai tidak mampu memenuhi tingginya permintaan. Asosiasi pemilik SPBU Bangladesh pun menyampaikan kekhawatiran serius, bahkan mengancam akan menghentikan operasional jika situasi tidak segera diatasi.

"Jumlah pasokan harian jelas tidak memadai dibandingkan permintaan yang ada," bunyi pernyataan asosiasi dikutip dari The Economic Times, Kamis (26/3/2026).

Baca juga: Malaysia Hadapi Periode Kritis Pasokan BBM Mulai Juni 2026

Terbaru, pemerintah Malaysia memperingatkan warganya bahwa ada potensi periode kritis pasokan bahan bakar mulai Juni 2026, seiring dampak konflik di Timur Tengah terhadap rantai pasok energi global.

Menteri Ekonomi Akmal Nasrullah Mohd Nasir mengatakan pasokan energi untuk April dan Mei masih dalam kondisi aman. Namun tantangan utama adalah menjaga keberlanjutan pasokan mulai Juni dan seterusnya.

Menurutnya, pemerintah Malaysia saat ini tengah menyiapkan berbagai langkah untuk mengantisipasi potensi kekurangan BBM.

"Juni dan Juli akan menjadi periode yang sangat kritis untuk memastikan pasokan bahan bakar tersedia," kata Akmal dikutip dari Bloomberg, Senin (13/4/2026).

Baca juga: Kebijakan WFH Dinilai Tak Efektif Kurangi Beban Energi, Pengamat Tawarkan Solusi Transportasi Umum

Tag:  #dampak #blokade #selat #hormuz #harga #minyak #dollar #krisis #energi #bayangi #asia

KOMENTAR