Belajar dari Menantea Jerome Polin, Pelaku UMKM Diimbau Gunakan Sistem Pembayaran Digital
Jerome Polin dan Jehian menutup operasional Menantea mulai 25 April 2026(Instagram @jeromepolin)
15:00
14 April 2026

Belajar dari Menantea Jerome Polin, Pelaku UMKM Diimbau Gunakan Sistem Pembayaran Digital

Pelaku UMKM didorong merapikan pencatatan keuangan dengan sistem digital. Langkah ini penting untuk menekan risiko penipuan dalam operasional usaha.

Ketua Asosiasi Industri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorini mengatakan, pelaku usaha perlu beralih dari transaksi tunai ke sistem pembayaran digital.

"Ini lebih mudah dan account-nya satu," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (14/4/2026).

Baca juga: Menantea Resmi Tutup 25 April 2026, Kakak Jerome Polin Ungkap Penyebabnya

Metode pembayaran seperti QRIS, transfer, dan autodebit dinilai membantu kontrol arus kas. Sistem ini juga memudahkan pelacakan transaksi secara real time.

Hermawati menekankan pentingnya pengawasan berlapis dalam pengelolaan dana. Akses rekening sebaiknya memerlukan persetujuan lebih dari satu orang.

Kasus kerugian bisnis minuman milik kreator Jerome Polin menjadi sorotan. Nilai kerugian mencapai Rp 38 miliar akibat dugaan penipuan dalam pengelolaan internal.

Menurut Hermawati, masalah tersebut berasal dari kelemahan pengawasan internal, bukan kondisi pasar.

"Itu pun karena kesalahan dia sendiri sebagai owner, dia tidak teliti dalam hal mengecek keuangannya dia. Itu kesalahan intern, bukan karena market," ucap dia.

Baca juga: Jerome Polin Ungkap Penipuan di Menantea, Rugi Rp 38 M dan Tutup Gerai

Ia menilai penggunaan pencatatan sederhana seperti Excel tidak lagi memadai untuk bisnis dengan skala besar.

"Saya juga kaget kenapa Jerome Polin itu data keuangannya menggunakan Excel gitu lho, seharusnya kan dia sudah menggunakan kaya mesin kasir, jangan tunai" ucap dia.

Hermawati juga menyoroti praktik umum pada bisnis milik figur publik. Pengelolaan usaha sering diserahkan ke orang lain tanpa pengawasan memadai.

"Tidak ada orang yang benar-benar bisa dipercaya dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya yang bisa meng-handle itu. Jadi kesalahannya bukan karena kewirausahaannya, tetapi karena manajemen di dalamnya," ungkap dia.

Ia menegaskan kasus ini tidak mencerminkan kondisi sektor makanan dan minuman. Sektor tersebut dinilai masih memiliki prospek kuat.

"FnB itu termasuk jenis wirausaha yang dia bisa mendapatkan keuntungan besar dibanding misalnya fesyen dan handicraft, tas, sepatu," tutup dia.

Sebagai informasi, Jerome Polin mengakui kesalahan dalam pengelolaan bisnis Menantea. Ia terlalu percaya dan menyerahkan pengelolaan keuangan kepada satu orang.

"Karena dia ini laporan keuangannya selalu dari Excel, dari Excel kita ngecekin laporan keuangannya," ungkap Jerome.

Ia baru menyadari adanya kejanggalan setelah memeriksa mutasi rekening pada 2023.

"Ketahuan, Excel itu bohong. Bisa di edit Excel kan," ujar dia.

"Kesalahan gua adalah, gua enggak ngecek mutasi," ungkap dia.

Kerugian bisnis tercatat mencapai Rp 38 miliar. Sebagian dana disebut digunakan untuk menutup kebutuhan lain.

"Jadi duit yang dipindahin itu sekitar Rp 38 (Miliar), ada beberapa yang dibalikin untuk bayar operasional," jelas Jerome.

"Total Rp 5-6 miliar yang diambil. Ternyata duitnya itu dipakai buat nutupin lubangnya dia yang lain," timpal dia.

Jerome menutup seluruh operasional Menantea mulai 25 April 2026. Ia juga menggunakan dana pribadi untuk menyelesaikan kewajiban kepada mitra usaha.

Judul alternatif:

1. UMKM Diminta Beralih ke Sistem Digital Usai Kasus Menantea

2. Rugi Rp 38 Miliar, Kasus Menantea Jadi Pelajaran UMKM

3. Catatan Keuangan Manual Dinilai Rawan, UMKM Perlu Digitalisasi

4. Pengawasan Lemah, Bisnis Menantea Rugi Puluhan Miliar

5. Akumandiri Soroti Pentingnya Sistem Keuangan Digital untuk UMKM

Teaser 140 karakter: 

Tag:  #belajar #dari #menantea #jerome #polin #pelaku #umkm #diimbau #gunakan #sistem #pembayaran #digital

KOMENTAR