Krisis Bahan Bakar Jet Mengancam Eropa, Risiko Pemangkasan Penerbangan Meningkat
Ilustrasi pesawat melewati awan Cumulonimbus.(Pexels/Pixabay)
10:16
15 April 2026

Krisis Bahan Bakar Jet Mengancam Eropa, Risiko Pemangkasan Penerbangan Meningkat

Industri penerbangan Eropa menghadapi risiko kekurangan bahan bakar jet dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi ini dipicu gangguan pasokan akibat blokade di Selat Hormuz.

Para ahli menilai dampaknya bersifat sistemik. Ratusan penerbangan berpotensi dibatalkan jika pasokan tidak segera pulih.

Kepala ekonom Rystad Energy Claudio Galimberti menyebut situasi sangat bergantung pada kelancaran distribusi minyak melalui jalur tersebut.

“Situasi dalam tiga hingga empat minggu ke depan bisa menjadi sistemik, sehingga kita bisa melihat pemangkasan besar penerbangan di Eropa mulai Mei dan Juni,” ujar Galimberti mengutip CNBC, Rabu (15/4/2026).

Baca juga: Harga Avtur Naik, FedEx Belum Naikkan Biaya Logistik

Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi energi global. Iran menutup jalur tersebut di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade laut untuk menekan ekspor minyak Iran.

Ekonom senior ING Rico Luman memperingatkan ancaman kekurangan pasokan semakin nyata.

“Ada banyak peringatan tentang potensi kekurangan dalam beberapa minggu ke depan jika pasokan tidak kembali normal,” katanya.

“Kapal-kapal kini berhenti beroperasi, pasokan dari Timur Tengah terhenti, dan kita butuh sumber pengganti,” tambah dia.

Organisasi bandara Eropa ACI Europe menyebut dampak bisa terasa dalam tiga minggu. Gangguan ini berpotensi mengacaukan musim puncak perjalanan.

Sektor penerbangan memiliki peran besar di Eropa. Nilainya mencapai 851 miliar euro per tahun dan menopang sekitar 14 juta lapangan kerja.

“Dampaknya bisa sangat besar secara ekonomi jika gangguan ini berlanjut,” demikian peringatan ACI Europe.

Baca juga: Cathay Pacific Pangkas Penerbangan hingga Juni 2026, Imbas Harga Avtur Melonjak

Gangguan pasokan mulai terlihat di berbagai kawasan. Asia lebih dulu terdampak karena ketergantungan tinggi pada minyak Timur Tengah.

“Asia sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah, dan kita sudah melihat gangguan di negara seperti Vietnam dan Thailand. Ini kini meluas ke Eropa karena pasar energi bersifat global,” jelas Luman.

Konflik sejak akhir Februari mendorong harga minyak menembus 100 dollar AS per barrel. Harga bahan bakar jet melonjak tajam.

Data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan harga bahan bakar jet naik lebih dari 100 persen secara bulanan pada Maret.

Kenaikan juga terjadi di Amerika Serikat. Harga bahan bakar jet melonjak dari sekitar 2,50 dollar AS per galon menjadi 4,88 dollar AS per galon dalam waktu lebih dari satu bulan.

Galimberti menilai pasar sebelumnya berharap konflik cepat mereda. Perkembangan terbaru menunjukkan risiko konflik berkepanjangan semakin besar.

“Dengan adanya blokade, ini terlihat seperti proses yang panjang,” katanya.

“Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar kemungkinan menjadi konflik berkepanjangan,” tambahnya.

Maskapai Eropa mulai merespons kondisi ini. Sejumlah penerbangan dipangkas dan harga tiket mulai naik.

“Kami sudah melihat beberapa pengumuman kenaikan harga tiket, dan kemungkinan masih akan bertambah jika kondisi tidak berubah,” kata Luman.

CEO Virgin Atlantic Corneel Koster menilai dampak krisis energi tidak akan hilang dalam waktu dekat.

“Apa pun yang terjadi di kawasan Teluk ke depan, sebagian gangguan harga energi global ini akan tetap bertahan,” tegas Koster.

Tag:  #krisis #bahan #bakar #mengancam #eropa #risiko #pemangkasan #penerbangan #meningkat

KOMENTAR