Rupiah Merosot ke Rp 17.143 Per Dollar AS Usai IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi
Nilai tukar rupiah di pasar spot melemah saat penutupan perdagangan Rabu (15/4/2026). Mata uang Garuda tertekan 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp 17.143 per dollar AS.
Pelemahan mata uang Indonesia terjadi di ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali meningkat, setelah Amerika Serikat memperketat tekanan terhadap Iran melalui blokade laut.
Langkah itu dinilai berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global sekaligus menambah tekanan terhadap perekonomian dunia.
Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.100, Cicilan KPR Bisa Ikut Naik?
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) merilis video yang diklaim menunjukkan kapal perusak milik Amerika Serikat mundur dari kawasan Selat Hormuz setelah mendapat peringatan dari angkatan laut Iran.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan komando Pusat AS menyatakan blokade terhadap pelabuhan Iran telah sepenuhnya diterapkan.
Dalam pernyataan resminya, militer AS menegaskan telah menghentikan seluruh aktivitas perdagangan laut yang keluar-masuk Iran.
Kebijakan tersebut diambil hanya dua hari setelah Washington memulai blokade laut terhadap Teheran, menyusul kegagalan perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran yang berlangsung di Pakistan.
Langkah itu ditujukan untuk meningkatkan tekanan agar Iran bersedia kembali ke meja perundingan.
Baca juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Level 17.127, Faktor Timteng Masih Jadi Pemberat
Namun demikian, eskalasi ini dinilai berisiko memicu gangguan serius di Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi salah satu titik paling strategis dalam perdagangan energi global.
Iran sebelumnya sempat melakukan penutupan jalur tersebut sebagai respons atas ketegangan dengan AS dan Israel.
Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.
“Blokade laut terhadap Iran berpotensi meningkatkan gangguan pengiriman di Selat Hormuz, terutama jika Teheran membalas langkah tersebut dengan kekuatan militer. Hormuz adalah titik fokus utama dalam perang Iran, dengan Teheran secara efektif memblokir saluran tersebut sebagai tanggapan terhadap permusuhan AS-Israel pada akhir Februari,” ujar Ibrahim kepada wartawan Rabu sore ini.
Selat Hormuz sendiri memasok sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia, dengan sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik sangat bergantung pada jalur ini.
Baca juga: Lampaui Level Rp 17.100, CORE Indonesia Prediksi Nasib Rupiah hingga Akhir Tahun
Risiko gangguan distribusi energi pun berpotensi mendorong volatilitas harga minyak global.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump beberapa kali menyatakan optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai, meskipun tetap membuka opsi tekanan lebih lanjut terhadap Iran.
Meski situasi memanas, gencatan senjata antara kedua negara dilaporkan masih bertahan dalam kondisi rapuh.
Tidak ada laporan serangan baru sejak akhir pekan lalu, sementara Washington terus mendorong pembicaraan lanjutan sebelum masa gencatan senjata berakhir.
Baca juga: Rupiah Dibuka Tertekan ke Level Rp 17.141 per Dollar AS, IHSG Justru ke Zona Hijau
Upaya de-eskalasi juga terlihat dari pembicaraan langsung antara Israel dan Lebanon di Washington.
Keterlibatan Lebanon dalam proses ini menjadi salah satu tuntutan utama Iran dalam negosiasi yang lebih luas.
Sementara itu tekanan geopolitik terhadap ekonomi mulai tecermin dalam revisi proyeksi pertumbuhan.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 5 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 5,1 persen.
Baca juga: BI Ungkap Konflik Iran Picu Efek Domino: dari Rupiah Melemah hingga Harga Plastik Naik
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.
Untuk 2027, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan berada di level 5,1 persen.
IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen pada 2026, seiring meningkatnya ketidakpastian akibat konflik di Timur Tengah.
Penurunan proyeksi tidak hanya datang dari IMF.
Bank Dunia juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.
Baca juga: Rupiah Sore Masih di Atas Level 17.100, Tertekan Sentimen Geopolitik Timur Tengah
Di sisi lain, Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) masih mempertahankan optimisme dengan memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh stabil di level 5,2 persen pada 2026 dan 2027, didorong oleh permintaan domestik dan belanja infrastruktur.
Ibrahim menilai perlambatan ini tidak lepas dari tekanan eksternal, terutama lonjakan harga minyak akibat konflik AS, Israel, dan Iran, serta meningkatnya sentimen risk-off di pasar keuangan global.
Untuk perdagangan berikutnya, ia memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif namun masih berpotensi melemah dalam rentang Rp 17.140 hingga Rp 17.180 per dollar AS, seiring tekanan eksternal yang masih tinggi.
Tag: #rupiah #merosot #17143 #dollar #usai #pangkas #proyeksi #ekonomi