Riset Laut Tunjukkan Adaptasi Biota di Area Amman, Jaga Ekonomi Maritim NTB
Kegiatan operasional PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Sumbawa Barat menunjukkan integrasi pengelolaan tambang dan lingkungan.(DOK. AMNT)
18:20
20 April 2026

Riset Laut Tunjukkan Adaptasi Biota di Area Amman, Jaga Ekonomi Maritim NTB

— Riset rekolonisasi laut di area operasional PT Amman Mineral Nusa Tenggara atau Amman (Kode saham AMNT) menunjukkan adanya adaptasi biota laut, yang dinilai menjadi dasar penting dalam menjaga potensi ekonomi maritim di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Temuan dari wilayah Sumbawa Barat itu berasal dari studi ilmiah yang memantau kondisi ekosistem laut dalam, khususnya kemampuan organisme laut untuk kembali tumbuh di area yang terdampak aktivitas industri.

Dr. M. Mukhlis Kamal dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menyampaikan bahwa dalam program rekolonisasi bentos di substrat tailing milik PT AMNT, hasil pengamatan menunjukkan ditemukannya berbagai organisme dasar perairan.

“Kemunculan organisme seperti udang, cacing laut, dan kerang ternyata berlangsung lebih cepat dari perkiraan awal,” ujarnya, melalui keterangan pers Amman, Senin (20/4/2026).

Baca juga: Amman Mineral (AMMN) Bakal Bagi Saham Buyback ke Karyawan dan Manajemen

Ia menambahkan, hal ini mengindikasikan bahwa proses adaptasi dan pemulihan alami komunitas bentos di atas substrat tailing berjalan dengan sangat baik.

Temuan tersebut juga sejalan dengan studi serupa yang dilakukan pada 2002, 2005, dan 2009 di lokasi yang sama. Konsistensi data selama lebih dari dua dekade dinilai memberikan dasar ilmiah bahwa biota laut dapat kembali tumbuh secara alami.

Pandangan serupa disampaikan Prof. Joni Safaat Adiansyah dari Universitas Muhammadiyah Mataram.

“Data yang tersedia dapat menjadi salah satu referensi dalam menilai bagaimana pengelolaan lingkungan dilakukan serta dampaknya terhadap ekosistem,” ujar Joni.

Ia menambahkan, perlindungan keanekaragaman hayati yang dilakukan secara berkala menjadi langkah nyata dalam menjaga potensi ekonomi maritim bagi masyarakat NTB dalam jangka panjang.

Baca juga: Proyek Smelter AMNT di NTB dalam Proses Komisioning

Kolaborasi riset dan transparansi

Selain studi rekolonisasi, Amman juga secara rutin melakukan studi laut dalam yang melibatkan berbagai institusi, seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertahanan, serta Politeknik Ahli Usaha Perikanan.

Keterlibatan lintas institusi ini bertujuan memastikan seluruh proses pemantauan lingkungan, mulai dari pengambilan data, analisis, hingga evaluasi, berjalan transparan, akuntabel, dan memenuhi standar ilmiah internasional.

Sinergi antara perusahaan dan akademisi diharapkan menghasilkan data yang akurat untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas industri dan pelestarian lingkungan laut.

Baca juga: Dari Energi Surya hingga Limbah Kardus, Cara Amman Raih Proper Hijau

Kinerja keuangan dan hilirisasi 

Di sisi kinerja, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), induk Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) mencatat laba bersih 258 juta dollar AS atau setara Rp 4,36 triliun dengan kurs Rp 16.890 per dollar AS pada 2025.

Direktur Utama AMMN, Arief Sidarto, mengatakan capaian tersebut mencerminkan dampak larangan ekspor konsentrat di awal tahun serta proses ramp-up smelter.

“Capaian ini mencerminkan dampak transisi tahun ini, termasuk dimulainya penambangan Fase 8 dan tantangan ramp-up smelter yang memberikan tekanan sementara terhadap margin,” ujar Arief dalam keterangan pers, Kamis (26/3/2026).

Perseroan juga membukukan penjualan bersih sebesar 1.847 juta dollar AS, dengan kontribusi kuartal IV sekitar 70 persen dari penjualan setahun penuh seiring stabilnya operasi smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR).

EBITDA tercatat sebesar 1.057 juta dollar AS dengan margin 57 persen, sementara laba bersih memiliki margin 14 persen.

Operasional smelter sempat dihentikan sementara pada Juli dan Agustus 2025 untuk perbaikan fasilitas utama, sebelum kembali stabil hingga akhir tahun. Perseroan juga memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada akhir Oktober 2025 untuk menjaga arus kas selama masa transisi.

Melalui entitas anaknya, Amman kini telah bertransformasi menjadi perusahaan tambang terintegrasi dari hulu hingga hilir, termasuk melalui produksi perdana katoda tembaga pada Maret 2025 dan emas murni pada Juli 2025.

“Kami juga mencatat pencapaian penting di hilirisasi, termasuk produksi perdana katoda tembaga pada Maret 2025 dan produksi emas murni pertama pada Juli 2025,” kata Arief.

Ke depan, perseroan akan memprioritaskan stabilitas operasional smelter serta melanjutkan proyek strategis seperti pembangunan PLTGU, fasilitas regasifikasi LNG, dan ekspansi pabrik konsentrator.

“Kami akan terus fokus pada eksekusi yang disiplin, optimalisasi biaya, dan keunggulan operasional untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham dan pemangku kepentingan kami,” lanjut Arief.

Tag:  #riset #laut #tunjukkan #adaptasi #biota #area #amman #jaga #ekonomi #maritim

KOMENTAR