Bisnis Inti Menguat, Pemulihan Garuda (GIAA) Masih Diuji Beban Keuangan
— Perbaikan kinerja PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) pada kuartal I 2026 menunjukkan satu pola yang menonjol: pemulihan perseroan lebih banyak ditopang bisnis inti penerbangan berjadwal, bukan faktor non-operasional.
Di tengah tekanan beban keuangan dan liabilitas yang masih tinggi, pendapatan dari penerbangan berjadwal menjadi motor utama yang menopang pertumbuhan usaha Garuda pada awal tahun.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim per 31 Maret 2026, Garuda membukukan pendapatan usaha sebesar 762,35 juta dollar AS atau sekitar Rp 13,14 triliun (asumsi kurs Rp 17.240 per dollar AS), naik dari 723,56 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,48 triliun pada kuartal I 2025.
Baca juga: Pendapatan Naik, Garuda Indonesia (GIAA) Pangkas Rugi pada Awal 2026
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia.
Kenaikan itu terutama berasal dari penerbangan berjadwal yang menghasilkan 648,10 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,17 triliun, tumbuh dari 603,69 juta dollar AS atau sekitar Rp 10,41 triliun setahun sebelumnya.
Secara nominal, pendapatan dari segmen ini bertambah sekitar Rp 765 miliar.
Kontribusi penerbangan berjadwal juga sangat dominan, mencapai sekitar 85 persen dari total pendapatan usaha Garuda pada kuartal I 2026.
Dominasi tersebut menunjukkan pemulihan kinerja Garuda pada awal tahun lebih ditopang penguatan bisnis inti maskapai penuh layanan, bukan dari pendapatan insidental atau pos non-operasional.
Baca juga: Pendapatan Garuda (GIAA) Kuartal I 2026 Tumbuh 5,36 Persen, Ditopang Perbaikan Kinerja Operasi
Pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal melemah
Ketika bisnis inti tumbuh, pendapatan dari penerbangan tidak berjadwal justru melemah.
Pada kuartal I 2026, segmen itu mencatat pendapatan 24,98 juta dollar AS atau sekitar Rp 430,66 miliar, turun dari 37,96 juta dollar AS atau sekitar Rp 654,43 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia.
Secara nominal, terjadi penurunan lebih dari Rp 223 miliar.
Pelemahan ini membuat kenaikan pendapatan Garuda tidak didorong seluruh lini bisnis, melainkan lebih terkonsentrasi pada layanan berjadwal.
Baca juga: Garuda Indonesia Dinobatkan Sebagai Maskapai Paling Tepat Waktu di Dunia Versi OAG Flightview
Pendapatan lain-lain memang naik dari 81,91 juta dollar AS menjadi 89,27 juta dollar AS, atau setara Rp 1,54 triliun. Namun porsinya terhadap total pendapatan hanya sekitar 11 persen, jauh di bawah kontribusi penerbangan reguler.
Dengan struktur itu, perbaikan kinerja Garuda terlihat bertumpu pada permintaan angkutan udara reguler, yang menjadi fondasi utama model bisnis perseroan.
Pertumbuhan top line diikuti penyusutan rugi
Kenaikan pendapatan dari bisnis inti itu beriringan dengan membaiknya bottom line.
Kerugian Garuda Indonesia pada periode berjalan tercatat mencapai 41,62 juta dollar AS atau sekitar Rp 717,5 miliar, turun dibandingkan rugi 75,93 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,31 triliun pada kuartal I 2025.
Baca juga: Garuda Indonesia Siapkan 15 Pesawat untuk Layani Keberangkatan Perdana Haji Tahun Ini
Artinya, rugi Garuda Indonesia menyusut sekitar 45 persen secara tahunan.
Rugi sebelum pajak juga turun hampir separuh, dari 88,74 juta dollar AS menjadi 47,72 juta dollar AS.
Perbaikan ini memperlihatkan pertumbuhan pendapatan inti memberi dampak langsung terhadap penyempitan kerugian.
Di sisi biaya, total beban usaha tercatat 713,22 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,29 triliun, turun tipis dari 718,36 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,39 triliun pada kuartal I 2025.
Baca juga: Harga Avtur Melonjak, Garuda Indonesia Sesuaikan Tarif Tiket dan Rute Penerbangan
Beban operasional penerbangan bahkan turun menjadi 350,24 juta dollar AS dari 361,96 juta dollar AS.
Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan pendapatan tidak sepenuhnya tergerus kenaikan biaya operasi, sehingga memberi ruang perbaikan margin.
Pesawat Garuda Indonesia dengan rute penerbangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Adi Soemarmo menggunakan bahan bakar Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) pada Jumat (26/10/2023).
Pemulihan datang dari operasi, bukan pos non-operasional
Salah satu poin menarik dari laporan keuangan ini adalah sumber perbaikan kinerja bukan berasal dari keuntungan non-operasional.
Bahkan sejumlah pos non-operasional justru masih memberi tekanan.
Baca juga: Anak Usaha Garuda GMFI Bukukan Laba Rp 570 Miliar, Ekuitas Berbalik Positif
Garuda mencatat beban keuangan 104 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,79 triliun. Meski lebih rendah dari 124,57 juta dollar AS tahun sebelumnya, nilai itu tetap jauh lebih besar daripada rugi bersih periode berjalan.
Perseroan juga mencatat rugi selisih kurs 1,39 juta dollar AS, berbalik dari keuntungan kurs pada kuartal I 2025.
Pendapatan dan beban lain-lain neto pun berubah menjadi negatif.
Secara keseluruhan, total pendapatan dan beban usaha lainnya masih minus 96,85 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,67 triliun.
Baca juga: OTP Garuda Tembus 92,08 Persen Saat Lebaran 2026, Tertinggi dalam 3 Tahun
Artinya, jika kinerja Garuda membaik, dorongan utamanya bukan berasal dari faktor satu kali (one-off), revaluasi, atau keuntungan finansial, melainkan dari aktivitas operasional inti.
Dalam konteks maskapai yang tengah menjalani fase pemulihan pascarestrukturisasi, pola ini penting karena menunjukkan kualitas pemulihan yang lebih berbasis operasi.
Restrukturisasi sebelumnya memang memangkas liabilitas Garuda secara signifikan dari proposal sekitar 9,8 miliar dollar AS menuju kisaran 3,7 miliar dollar AS.
Permintaan reguler jadi penopang
Kinerja ini sekaligus mengindikasikan permintaan pasar reguler tetap menjadi sumber kekuatan utama Garuda.
Baca juga: Garuda Siapkan Strategi Hadapi Lonjakan Harga Avtur
Berbeda dengan masa pandemi Covid-19 ketika pendapatan banyak ditopang charter, kargo, atau bisnis pendukung, pada kuartal I 2026 pemulihan justru ditarik oleh scheduled airline services.
Beberapa armada pesawat Garuda Indonesia di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Hal itu juga tercermin dalam penerimaan kas dari pelanggan yang mencapai 799,69 juta dollar AS atau sekitar Rp 13,79 triliun.
Meski arus kas operasi turun dibanding tahun sebelumnya, pos ini tetap menunjukkan bisnis inti menghasilkan arus masuk kas yang besar.
Pola ini penting karena bagi maskapai, keberlanjutan pemulihan umumnya ditentukan kemampuan core business menghasilkan trafik dan revenue secara konsisten, bukan bergantung pada pendapatan pendukung.
Baca juga: Garuda Indonesia Buka Suara Soal Penutupan Rute Jakarta - Bengkulu
Tantangan efisiensi masih ada
Meski bisnis inti menopang pemulihan, tekanan efisiensi belum hilang. Beberapa komponen biaya justru naik.
Beban pemeliharaan dan perbaikan meningkat menjadi 159,14 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,74 triliun dari 156,19 juta dollar AS.
Beban kebandaraan naik menjadi Rp 997 miliar, sedangkan beban tiket, penjualan, dan promosi meningkat menjadi Rp 786 miliar.
Kenaikan biaya-biaya ini menunjukkan pertumbuhan operasional juga membawa konsekuensi biaya tambahan.
Baca juga: Kemenhub Ungkap Alasan Garuda Stop Rute Jakarta-Bengkulu
Di sisi neraca, tekanan liabilitas pun belum sepenuhnya reda.
Total liabilitas Garuda masih mencapai 7,44 miliar dollar AS atau sekitar Rp 128,24 triliun, termasuk liabilitas sewa 1,98 miliar dollar AS dan estimasi biaya pengembalian serta pemeliharaan pesawat 2,28 miliar dollar AS.
Besarnya kewajiban terkait armada itu menunjukkan beban struktural maskapai masih menjadi faktor yang membatasi ruang pemulihan laba.
Sinyal pemulihan dari bisnis inti
Meski demikian, laporan kuartal I 2026 memperlihatkan perbaikan Garuda saat ini ditopang basis yang berbeda dibanding periode-periode sebelumnya.
Baca juga: Awal 2026 Jadi Titik Balik Garuda, Danantara: Kinerja Mulai Membaik
Jika sebelumnya perbaikan kinerja kerap dikaitkan efisiensi atau pos non-operasional, pada awal 2026 pendorong utamanya justru pertumbuhan pendapatan dari bisnis penerbangan reguler.
Kenaikan pendapatan penerbangan berjadwal atau scheduled flight, penurunan rugi, serta relatif terkendalinya beban usaha memperlihatkan core business mulai menjadi mesin utama pemulihan.
Bagi Garuda, sinyal itu menjadi penting karena menunjukkan fondasi pemulihan mulai bergeser dari penyehatan neraca menuju penguatan bisnis operasional.
Tag: #bisnis #inti #menguat #pemulihan #garuda #giaa #masih #diuji #beban #keuangan