Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus 100 Dollar AS
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman (AFP/GIUSEPPE CACACE)
11:44
23 April 2026

Iran Sita Dua Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus 100 Dollar AS

– Iran menyatakan telah menyita dua kapal kontainer di Selat Hormuz pada Rabu (22/4/2026). Insiden ini terjadi tak lama setelah Amerika Serikat (AS) memperpanjang gencatan senjata, di tengah upaya membuka kembali jalur diplomasi.

Mengutip kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, Kamis (23/4/2026), Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebut dua kapal yang disita adalah Kapal yang disita adalah Epaminondas berbendera Liberia dan MSC Francesca berbendera Panama.

Kedua kapal dituding melakukan pelanggaran berulang. Mereka juga disebut beroperasi tanpa izin. Selain itu, kapal tersebut dituding mengganggu sistem navigasi dan membahayakan keamanan maritim di Selat Hormuz.

Baca juga: Meja Makan Geopolitik di Selat Hormuz: Siapa Mengendalikan Menu Dunia?

Menurut IRGC, kapal-kapal itu mencoba keluar secara diam-diam dari wilayah yang diblokade Iran. Setelah dicegat, keduanya dibawa ke pesisir Iran. Pemeriksaan dilakukan terhadap kargo dan dokumen kapal.

“Dengan intelijen pasukan kami yang dominan, kapal-kapal ini terdeteksi dan dihentikan untuk menegakkan hak-hak bangsa Iran atas Selat Hormuz,” demikian pernyataan IRGC.

IRGC menegaskan tidak akan menoleransi pelanggaran terhadap blokade. Setiap kapal yang melanggar akan ditindak tegas.

Serangan kapal dilaporkan, aktivitas militer meningkat

Di sisi lain, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan adanya serangan di kawasan tersebut. Sebuah kapal ditembaki sekitar 8 mil laut dari pantai Iran. Seluruh awak dilaporkan selamat dan kapal tidak mengalami kerusakan.

Insiden lain terjadi sekitar 15 mil timur laut Oman. Sebuah kapal kontainer didekati kapal cepat milik Garda Revolusi. Kapal tersebut kemudian ditembaki hingga menyebabkan kerusakan berat pada anjungan.

Baca juga: Manuver China Saat Krisis Selat Hormuz, antara Diplomasi dan Ambisi

Meski demikian, seluruh kru dilaporkan selamat. Media Iran juga menyebut adanya kapal ketiga yang diserang. Kapal itu dilaporkan terdampar di pesisir Iran.

UKMTO memperingatkan adanya peningkatan aktivitas militer di Selat Hormuz. Kondisi ini dinilai meningkatkan risiko bagi pelayaran komersial.

Blokade AS dan aksi balasan Iran

Ketegangan di Selat Hormuz tidak terlepas dari kebijakan blokade oleh Amerika Serikat. Iran menilai kapal-kapal tersebut mencoba menembus blokade yang diberlakukan di kawasan itu.

Dalam beberapa hari terakhir, militer AS juga dilaporkan menyita kapal kargo Touska di dekat Oman. Selain itu, kapal tanker M/T Tifani yang membawa minyak Iran turut dicegat di Samudra Hindia.

Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan akan memperpanjang gencatan senjata. Langkah itu diambil untuk memberi waktu bagi Iran menyampaikan proposal damai.

Baca juga: Negosiasi Kapal Pertamina di Selat Hormuz Alot, Ini Kendala yang Dihadapi RI

Namun, Teheran belum memberikan konfirmasi atas perpanjangan tersebut. Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa gencatan senjata hanya berlaku jika blokade dihentikan.

Ia juga menyebut pembukaan Selat Hormuz tidak akan dilakukan selama pelanggaran masih terjadi.

Negosiasi mandek, konflik meluas

Upaya mediasi internasional belum membuahkan hasil. Pembicaraan damai yang direncanakan berlangsung di Pakistan dilaporkan batal.

Perbedaan sikap antara Iran dan AS masih tajam. Salah satu isu utama adalah program nuklir Iran.

Konflik juga melibatkan Israel. Ketegangan meluas hingga Lebanon dengan keterlibatan kelompok Hezbollah.

Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah tetap berada dalam tekanan tinggi. Risiko konflik lanjutan masih terbuka.

Baca juga: Iran Tegaskan Tak Akan Buka Selat Hormuz Selama Blokade AS Masih Berlaku

Selat Hormuz terganggu, harga minyak naik

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global. Sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur ini.

Sejak konflik meningkat, aktivitas pelayaran menurun drastis. Dari sekitar 130 kapal per hari, kini hanya tersisa segelintir kapal.

Gangguan ini langsung berdampak ke pasar energi. Harga minyak mentah Brent kembali mendekati dan sempat menembus 100 dollar AS per barrel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 90 dollar AS per barrel.

Kenaikan harga dipicu kekhawatiran terganggunya pasokan global. Eskalasi di Selat Hormuz dinilai menjadi faktor utama yang mendorong volatilitas pasar energi.

Tag:  #iran #sita #kapal #selat #hormuz #harga #minyak #tembus #dollar

KOMENTAR