Rupiah Melemah Tembus Rp 17.300, Ongkos Transportasi-Logistik Bisa Makin Mahal
Ilustrasi: rupiah melemah.(Shutterstock)
06:12
24 April 2026

Rupiah Melemah Tembus Rp 17.300, Ongkos Transportasi-Logistik Bisa Makin Mahal

- Nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) akibat ketidakpastian global dan eskalasi perang di Timur Tengah.

Lantas, apa pengaruhnya bagi masyarakat?

Untuk diketahui, Bank Indonesia (BI) mencatat, rupiah yang pada 21 April 2026 di level 17.140 per dollar AS telah melemah 0,87 persen secara point to point dibandingkan posisi akhir Maret 2026.

Bahkan pada perdagangan hari ini, Kamis (23/4/2026), rupiah sempat tembus ke level Rp 17.300 per dollar Amerika Serikat (AS). Meski akhirnya ditutup di level Rp 17.286, melemah 0,61 persen atau 105 poin) dari penutupan hari sebelumnya.

Baca juga: Antara Global dan Domestik, Faktor Apa yang Sebabkan Rupiah Melemah?

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede saat acara Economic Outlook 2026, Jumat (20/2/2026).KOMPAS.com/ISNA RIFKA SRI RAHAYU Chief Economist Permata Bank Josua Pardede saat acara Economic Outlook 2026, Jumat (20/2/2026).Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah saat ini masih belum memberikan dampak yang signifikan secara langsung kepada masyarakat.

Sejauh ini daya beli masyarakat juga masih relatif terjaga. Tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2026 di level 122,9 dan Indeks Penjualan Eceran pada Februari 2026 masih tumbuh 6,5 persen.

"Dampaknya bagi masyarakat, belum berarti krisis langsung hari ini, tetapi tekanan ke depan jelas ada,"ujarnya kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).

Kendati demikian, Josua mengingatkan, pelemahan rupiah yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama pada barang yang berkaitan dengan impor, energi, dan logistik. Dampak ini tidak terjadi sekaligus, melainkan merambat secara bertahap ke berbagai sektor ekonomi.

Sektor yang paling rentan terhadap kenaikan biaya adalah transportasi dan logistik, jasa pertanian dan perikanan, serta industri berbasis bahan baku impor seperti kimia dasar, plastik, karet, farmasi, hingga manufaktur.

Bagi masyarakat, dampak tersebut umumnya terasa melalui kenaikan ongkos transportasi, harga pangan, barang impor, obat-obatan, barang rumah tangga, dan biaya usaha kecil yang bahan bakunya masih tergantung impor.

"Jadi, efeknya bukan semata kurs di pasar uang, tetapi biaya hidup yang naik pelan-pelan," kata Josua.

Baca juga: Rupiah Makin Tertekan, Sentuh Rp 17.286 per Dollar AS, Ini Biang Keroknya

Jangan panik beli dollar AS...

Dia mengimbau masyarakat untuk tidak panik membeli dollar AS ketika rupiah melemah seperti saat ini. Namun masyarakat diminta untuk memperkuat ketahanan keuangan.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan disiplin menjaga arus kas, menunda belanja barang impor yang tidak mendesak, memperbesar dana darurat, dan berhati-hati menambah utang dengan bunga mengambang.

Sementara bagi pelaku usaha, langkah mitigasi yang disarankan mencakup pencocokan penerimaan dan pembayaran valuta asing (valas), penggunaan lindung nilai (hedging), pengelolaan persediaan dan, serta memepercepat penagihan piutang.

"Jadi yang perlu dilakukan masyarakat bukan berspekulasi, melainkan menurunkan kerentanan terhadap kenaikan biaya hidup dan kurs," ucapnya.

Baca juga: Rupiah Melemah Paling Dalam di Asia, Analis Sebut Defisit Anggaran Jadi Beban

APBN jadi shock absorber

Sementara itu, Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menyebut, pelemahan rupiah bakal meningkatkan inflasi barang impor (imported inflation).

Namun dampak tersebut sebagian telah diredam oleh kebijakan pemerintah melalui Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), yakni dengan tidak menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.

"Tentu dampaknya yang paling terasa kalau terjadi imported inflation, ini bisa terasa di masyarakat. Tapi kan untuk sekarang ini imported inflation sebagian besar sudah ditangani oleh pemerintah melalui APBN yang berperan sebagai shock absorber," ungkap Myrdal kepada Kompas.com, Kamis.

Menurutnya, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupih sudah optimal, termasuk melalui intervensi pasar dan kebijakan suku bunga di level 4,75 peren yang masih kondusif bagi pertumbuhan ekonomi.

"Jadi sudah all out sih kalau menurut saya sih dari BI langkahnya. Tapi yang penting untuk stabilitas nilai tukar rupiah jangan sampai terlalu drastis (mengorbankan cadangan devisa)," tukasnya.

Tag:  #rupiah #melemah #tembus #17300 #ongkos #transportasi #logistik #bisa #makin #mahal

KOMENTAR