Pasar Modal RI di Mata 2 Pejabat: Purbaya ''Pede'' IHSG 28.000, Airlangga Sebut IPO Sepi
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Saat memberikan keterangan pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (15/9/2025).(Dok. Sekretariat Presiden )
07:24
28 April 2026

Pasar Modal RI di Mata 2 Pejabat: Purbaya ''Pede'' IHSG 28.000, Airlangga Sebut IPO Sepi

- Dua pejabat ekonomi utama pemerintah menunjukkan penekanan berbeda saat bicara pasar modal.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil sangat optimistis terhadap prospek Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), bahkan meyakini indeks bisa menembus 28.000 dalam beberapa tahun ke depan.

Sementara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto justru menyoroti sisi yang lebih pragmatis di mana pasar modal perlu didorong lebih aktif menghimpun dana karena realisasi initial public offering (IPO) masih sepi.

Dalam Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana di Gedung Bursa Efek Indonesia, Senin (27/4/2026), Purbaya berbicara soal besarnya potensi pasar saham Indonesia jika pertumbuhan ekonomi terus dipercepat.

Ia mengatakan proyeksi IHSG 28.000 bukan klaim berlebihan, melainkan berangkat dari siklus ekspansi ekonomi dan pengalaman historis pasar modal domestik.

“Let’s say sekarang 7.000 lah. Ekspansi kita akan berlangsung sampai 2029-2030. Itu saya bilang bisa 4-5 kali. Bisalah 28.000 paling sial. Mereka bilang Purbaya gila,” kata Purbaya.

Baca juga: Purbaya Ingatkan Investor Muda Risiko Investasi: Gen Z Biasanya Sok Tahu

Menurut bendahara negara, fondasi ekonomi yang lebih kuat akan menjadi penentu arah pasar saham. Ia mencontohkan pada 2002 indeks masih di level ratusan, lalu melonjak berkali-kali lipat beberapa tahun kemudian.

Optimisme itu juga ditopang keyakinannya terhadap dorongan investor domestik, terutama investor ritel muda. Purbaya menyebut sekitar 57 persen investor pasar modal kini berasal dari generasi Z, yang menurut dia menjadi modal penting bagi pendalaman pasar keuangan Indonesia.

Namun di tengah optimisme tersebut, ia tetap mengingatkan investor muda agar tidak gegabah masuk pasar saham tanpa pengetahuan yang cukup.

“Nanti kalau Anda merasa lebih jago, baru tendang Anda langsung menginvestasi di pasar saham,” ujarnya.

Berbeda dengan Purbaya yang menyoroti potensi lonjakan valuasi pasar, Airlangga lebih menekankan fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan ekonomi yang masih perlu diperkuat.

Menurut Airlangga, tantangan saat ini bukan sekadar menjaga optimisme pasar, melainkan memastikan pasar modal benar-benar menopang kebutuhan pembiayaan pembangunan yang terus membesar.

Ia menyebut kebutuhan pembiayaan nasional diperkirakan mencapai Rp 7.400 triliun pada 2026 dan meningkat menjadi Rp 9.200 triliun pada 2029.

Di tengah kebutuhan dana jumbo itu, Airlangga justru melihat penghimpunan dana lewat IPO belum bergerak secepat yang diharapkan.

“Capital market adalah fungsinya untuk menarik dana untuk IPO yang mungkin dalam periode first quarter ini ketidakpastian tinggi, sehingga ini masih dalam pipeline. Pipelinenya belum muncul, nah ini mungkin perlu dikejar ke depan,” kata Airlangga.

Ia mengaitkan dorongan itu dengan realisasi investasi sektor riil yang sudah mencapai Rp 498,79 triliun pada triwulan I-2026, tumbuh 7,22 persen dan menyerap 706.000 tenaga kerja.

Namun, pasar modal sebagai kanal pembiayaan dinilai belum sepenuhnya mengimbangi kebutuhan ekspansi tersebut.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia menunjukkan hingga pertengahan April ada 16 perusahaan dalam antrean IPO, tetapi sepanjang tahun ini baru satu emiten yang melantai di bursa, yakni PT BSA Logistic Indonesia Tbk (WBSA), dengan dana terhimpun Rp 300 miliar.

Mayoritas calon emiten dalam pipeline berasal dari perusahaan beraset besar, dengan dominasi sektor konsumsi, kesehatan, infrastruktur, hingga teknologi.

Tag:  #pasar #modal #mata #pejabat #purbaya #pede #ihsg #28000 #airlangga #sebut #sepi

KOMENTAR