Pham Nhat Vuong, Orang Terkaya di Asia Tenggara Pemilik VinFast dan Taksi Green SM
Nama Pham Nhat Vuong dalam beberapa waktu terakhir kian mencuri perhatian, bukan hanya karena lonjakan kekayaannya, tetapi juga karena kapitalisasi pasar kerajaan bisnis yang ia bangun melalui Vingroup terus melesat.
Pada awal April 2026, Forbes Real Time Billionaires mencatat kekayaan Vuong mencapai 24,5 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 423,1 triliun (asumsi kurs Rp 17.270 per dollar AS), membuatnya menyalip Prajogo Pangestu sebagai orang terkaya di Asia Tenggara.
Di daftar miliarder tahunan Forbes 2026, ia berada di peringkat ke-93 dunia.
Baca juga: Salip Prajogo Pangestu, Bos Vingroup Jadi Orang Terkaya Asia Tenggara
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyempatkan diri untuk berkunjung ke pabrik produsen kendaraan listrik VinFast ditemani Direktur Umum VinFast Pham Nhat Vuong yang berlokasi di Hai Phong, Vietnam, Sabtu (13/1/2024).
Kenaikan valuasi saham Vingroup menjadi pendorong utama.
Menurut VnExpress, dikutip pada Selasa (28/4/2026), kapitalisasi pasar Vingroup mencapai 587,1 triliun dong Vietnam atau sekitar 22,5 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 388,6 triliun, menjadikannya perusahaan publik terbesar keempat di Asia Tenggara, di bawah tiga raksasa Singapura, yakni DBS Group, OCBC, dan UOB.
Kenaikan itu turut mengangkat nilai kepemilikan Vuong, yang menguasai Vingroup melalui berbagai entitas afiliasi.
Di balik lonjakan kekayaan itu, perjalanan Vuong dimulai jauh dari bisnis properti dan kendaraan listrik yang kini identik dengan namanya.
Baca juga: VinFast Andalkan IPO dan Taksi Listrik demi Laba 2027
Berikut profil Pham Nhat Vuong, pendiri dan pemilik Vingroup dan termasuk taksi Green SM.
Berawal dari bisnis mi instan di Ukraina
Pham Nhat Vuong lahir di Hanoi, Vietnam, pada 5 Agustus 1968. Ia menempuh pendidikan geologi di Moscow Geological Prospecting Institute di Rusia, saat Vietnam masih menjalin hubungan erat dengan blok Soviet.
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyempatkan diri untuk berkunjung ke pabrik produsen kendaraan listrik VinFast ditemani Direktur Umum VinFast Pham Nhat Vuong yang berlokasi di Hai Phong, Vietnam, Sabtu (13/1/2024).
Setelah Uni Soviet runtuh, Vuong pindah ke Ukraina dan memulai usaha kecil di Kharkiv. Dari sana, ia mendirikan Technocom pada awal 1990-an, produsen mi instan merek Mivina yang kemudian populer di Ukraina.
Bisnis ini menjadi batu loncatan kekayaannya. Forbes mencatat Technocom dijual ke Nestle pada 2010, dan hasil penjualan itu menjadi modal untuk memperluas bisnis di Vietnam.
Baca juga: Mengapa VinFast Pilih Indonesia Jadi Basis Produksi Mobil Listrik?
Dalam laporan Time yang dikutip Forbes, Le Thi Thu Thuy, salah satu eksekutif senior VinFast, menggambarkan gaya kepemimpinan Vuong sebagai berbasis “visi, strategi, disiplin, dan banyak kemanusiaan.”
Sementara menurut Huong Le Thu, akademisi yang dikutip Time, Vuong adalah salah satu pengusaha visioner, bahkan ia menyebutnya sebagai "Elon Musk-nya Vietnam."
Membangun kerajaan Vingroup
Sekembalinya ke Vietnam, Vuong mulai dari bisnis resor melalui Vinpearl, sebelum memperluas ke properti lewat Vincom.
Dua entitas itu kemudian berkembang menjadi Vingroup, konglomerasi yang kini memiliki bisnis di real estat, ritel, kesehatan, pendidikan, teknologi, hingga kendaraan listrik.
Baca juga: VinFast Siapkan Pabrik BEV di Subang, Bidik Indonesia Jadi Basis Produksi Asia
Model bisnis Vingroup dikenal agresif dan terdiversifikasi. Di sektor properti, perusahaan mengembangkan kawasan kota terpadu berskala besar.
Di sektor konsumer, grup ini sempat merambah ritel dan smartphone, sebelum mengalihkan fokus lebih besar ke kendaraan listrik.
Transformasi besar terjadi ketika Vuong bertaruh besar pada VinFast.
Forbes mencatat Vuong telah menggelontorkan miliaran dollar AS untuk menopang ekspansi produsen kendaraan listrik tersebut, termasuk pendanaan pribadi.
Baca juga: BNI Beri Kredit Sindikasi Rp 1,84 Triliun untuk Bangun Pabrik VinFast di Indonesia
Bahkan, pada 2025, VinFast menjual aset riset dan pengembangannya ke Vuong senilai 1,5 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 25,9 triliun untuk memperkuat struktur pendanaan perusahaan.
Taruhan itu sempat dipandang berisiko. Namun, justru menjadi salah satu pendorong utama kenaikan valuasi kelompok usaha Vuong.
Lonjakan saham dan kekayaan
Kenaikan kekayaan Vuong pada 2025-2026 terutama ditopang reli saham Vingroup.
The Investor mencatat saham Vingroup sempat melonjak sekitar 670 persen sepanjang 2025, membuat kekayaan Vuong melonjak lebih dari 25 miliar dollar AS dalam setahun.
Baca juga: Gandeng VinFast, BNI Percepat Ekosistem Mobilitas Hijau di Indonesia
Forbes bahkan mencatat dalam satu fase perdagangan April 2026, kekayaan Vuong sempat menyentuh 32,4 miliar dollar AS dan mengangkat posisinya ke peringkat 69 orang terkaya dunia.
Di saat yang sama, ia melampaui sejumlah nama besar global, termasuk Jack Ma dan MacKenzie Scott, menurut Vietnam News.
Di Asia Tenggara, kenaikan itu membuatnya menggeser Prajogo Pangestu dari posisi teratas daftar orang terkaya di kawasan, sesuatu yang sebelumnya relatif jarang berubah.
Vingroup kini raksasa regional
Tidak hanya kekayaan pribadi yang melonjak, ukuran bisnis Vingroup juga membesar signifikan.
Baca juga: VinFast Bakal Bangun Pabrik di RI, Fokus untuk Pasar Ekspor
Menurut VnExpress, kapitalisasi pasar grup mencapai level yang menempatkannya sebagai perusahaan terbesar keempat di Asia Tenggara.
Pencapaian ini menempatkan Vingroup di liga perusahaan-perusahaan finansial mapan regional, sesuatu yang menonjol mengingat akar bisnisnya berasal dari properti dan kini banyak bertumpu pada kendaraan listrik.
Mobil listrik VinFast VF7
Laporan itu juga menunjukkan besarnya konsentrasi kepemilikan Vuong di grup. Melalui kepemilikan langsung dan tidak langsung, ia tetap menjadi pengendali utama kerajaan bisnis tersebut.
Posisi ini menjadikan pergerakan harga saham Vingroup dan VinFast sangat berpengaruh pada nilai kekayaan pribadinya.
Baca juga: Vinfast dan Geely dalam Proses Investasi Kendaraan Listrik di RI
Gaya ekspansi berisiko tinggi
Ciri lain karier Vuong adalah kecenderungan mengambil taruhan bisnis besar dengan horizon jangka panjang.
Saat banyak konglomerat Asia Tenggara tetap bertumpu pada komoditas, perbankan, atau properti, Vuong justru membawa modal besar ke sektor kendaraan listrik yang padat modal dan belum tentu menguntungkan cepat.
Strategi ini tergambar dari ekspansi VinFast ke luar negeri, termasuk pembangunan pabrik di Amerika Serikat, India, dan investasi ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
Dalam laporan Time, salah satu eksekutif VinFast menggambarkan budaya kerja grup yang serba cepat.
Baca juga: Vietnam Pelajari Inovasi Hydrogen Center Senayan Milik PLN IP
“Lapisan persetujuan hampir datar,” ujar Hoang Vu Nguyen, Chief Deputy of Power Train VinFast, menggambarkan pengambilan keputusan yang ringkas di bawah Vuong.
Model itu disebut menjadi pembeda dibanding konglomerasi tradisional yang lebih birokratis.
Dari miliarder pertama Vietnam ke orang terkaya Asia Tenggara
Vuong juga punya posisi simbolik di Vietnam.
Ia merupakan miliarder dollar pertama Vietnam versi Forbes pada 2013, ketika kekayaannya baru 1,5 miliar dollar AS. Pada 2026, jumlah itu melonjak berkali-kali lipat.
Baca juga: Perekonomian Vietnam Berlari, Bisakah Indonesia Lampaui?
Dalam 14 tahun berturut-turut, namanya konsisten berada dalam daftar miliarder Forbes, dengan profil yang berubah dari pengusaha properti domestik menjadi figur penting industri kendaraan listrik global.
Kenaikan statusnya sebagai orang terkaya Asia Tenggara pun menandai perubahan lanskap kekayaan kawasan, yang selama ini banyak didominasi taipan komoditas, perbankan, dan keluarga konglomerat lama.
Pada Vuong, kekayaan itu lahir dari kombinasi properti, pasar modal, dan taruhan besar di industri masa depan.
Dari bisnis mi instan di Ukraina, resor di Vietnam, hingga kendaraan listrik yang menantang dominasi pemain global, perjalanan Pham Nhat Vuong menunjukkan bagaimana profil taipan Asia Tenggara generasi baru semakin berbeda dari pendahulunya.
Tag: #pham #nhat #vuong #orang #terkaya #asia #tenggara #pemilik #vinfast #taksi #green