Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026 Tertinggi dalam 13 Tahun, Momentum Tumbuh Harus Dijaga
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (SHUTTERSTOCK/TENDO)
23:40
6 Mei 2026

Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal I 2026 Tertinggi dalam 13 Tahun, Momentum Tumbuh Harus Dijaga

- Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 atau periode Januari-Maret 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/YoY). Capaian tersebut menjadi pertumbuhan kuartal pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir dan dinilai sebagai hasil percepatan belanja negara sejak awal tahun.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti sebelumnya menyampaikan data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026). Sebagai informasi, catatan data BPS menyebutkan pertumbuhan ekonomi RI kuartal I 2013 sebesar 6,03 persen.

Sejalan dengan pertumbuhan kuartal I 2026 tersebut, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) tercatat mencapai Rp 6.187,2 triliun. Pertumbuhan ekonomi periode Januari-Maret 2026 itu juga lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen YoY maupun kuartal I 2025 sebesar 4,87 persen YoY.

Di tengah kondisi ekonomi global yang masih bergejolak, capaian tersebut dinilai menunjukkan daya tahan ekonomi domestik sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk menjaga momentum pertumbuhan menuju kisaran 6 persen.

Baca juga: Purbaya Bersiap Ibadah Haji, Siapkan Doa Pertumbuhan Ekonomi Makin Kencang

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Yossi Martino, menilai pencapaian itu tidak terlepas dari strategi frontloading atau percepatan belanja negara yang dilakukan pemerintah sejak awal tahun 2026.

“Kami mengapresiasi ketepatan langkah tim ekonomi pemerintahan Presiden Prabowo. Sebagaimana telah kami proyeksikan dan rekomendasikan secara tegas dalam dokumen Outlook Ekonomi GREAT Institute 2026, pemerintah memang harus menggeser paradigma dari backloading ke frontloading untuk memompa likuiditas di triwulan pertama,” ujar Yossi, melalui keterangan pers, Rabu (6/5/2026).

“Data BPS mengonfirmasi bahwa strategi injeksi fiskal tersebut tereksekusi dengan efektif,” lanjut dia.

Menurut GREAT Institute, capaian tersebut menjadi titik penting setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung bergerak di kisaran 5 persen dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi Covid-19.

Selain mencatatkan rekor domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tercatat lebih tinggi dibandingkan sejumlah mitra dagang utama Indonesia. Malaysia tumbuh 5,30 persen, Singapura 4,60 persen, sedangkan China berada di level 5,00 persen.

Baca juga: Di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Rupiah Malah Loyo ke Rp 17.400

Belanja Pemerintah dan Konsumsi Jadi Penopang

Strategi percepatan belanja negara terlihat dari komposisi pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS. Dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 21,81 persen YoY.

Pada saat yang sama, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen. Kedua komponen tersebut menyumbang 82,65 persen terhadap total PDB nasional.

Dengan komposisi tersebut, pertumbuhan ekonomi pada awal tahun dinilai tidak hanya ditopang belanja pemerintah, tetapi juga aktivitas konsumsi masyarakat dan investasi domestik.

Dari sisi produksi, lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 13,14 persen. Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi selama momentum Ramadhan dan Idul Fitri.

Menurut Yossi, pola tersebut memperlihatkan bahwa strategi frontloading tidak sekadar mempercepat penyerapan anggaran, melainkan juga menjaga transmisi kebijakan ke sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan konsumsi masyarakat.

Pola itu juga terlihat dalam realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Maret 2026. Belanja negara tercatat mencapai Rp 815 triliun atau tumbuh 31,4 persen YoY.

Belanja pemerintah pusat mencapai Rp 610,3 triliun dan tumbuh 47,7 persen YoY. Sementara itu, belanja non kementerian/lembaga mencapai Rp 329,1 triliun atau tumbuh 51,5 persen YoY.

Di sisi lain, percepatan belanja negara turut mendorong defisit APBN mencapai Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB pada kuartal I 2026.

Baca juga: Membaca Ulang Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Momentum Pertumbuhan Dinilai Perlu Dijaga

Meski pertumbuhan ekonomi menunjukkan penguatan, GREAT Institute menilai pemerintah tetap perlu menjaga momentum tersebut secara hati-hati pada kuartal berikutnya.

Hal itu dinilai penting karena pertumbuhan ekonomi terjadi di tengah pelemahan moderat sentimen konsumen. Bank Indonesia mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 125,2 pada Februari menjadi 122,9 pada Maret 2026, meski masih berada pada level optimistis.

“Jika kita melihat data indikator Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebenarnya berada dalam tren pelemahan, yakni turun dari level 127 pada Januari menjadi 122,9 pada bulan Maret,” kata Yossi.

“Karena pemerintah meresponsnya dengan frontloading perlindungan sosial, pencairan THR, dan MBG secara masif, daya beli itu berhasil dibentengi sehingga konsumsi tetap tumbuh 5,52 persen. Ini adalah bukti keberhasilan intervensi fiskal,” imbuh dia.

Menurut GREAT Institute, keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi perlu ditopang kebijakan lanjutan agar tidak hanya bergantung pada percepatan belanja pemerintah pada awal tahun.

Jika momentum tersebut dapat dijaga hingga akhir 2026, target pertumbuhan ekonomi pemerintah di kisaran 5,4 persen hingga 5,6 persen dinilai berpeluang tercapai.

Karena itu, Yossi mendorong pemerintah mempercepat insentif investasi, akselerasi hilirisasi, perbaikan tata kelola program prioritas, serta menjaga ketepatan sasaran perlindungan sosial.

“Kami memandang bahwa percepatan belanja pemerintah harus diiringi dengan paket pelengkap lainnya,” ujar Yossi.

“Paket tersebut ialah percepatan insentif investasi di berbagai sektor, akselerasi hilirisasi untuk meredam volatilitas harga komoditas di tengah turbulensi geopolitik, kontinuitas perbaikan tata kelola program prioritas pemerintah, dan kepastian ketepatan program perlindungan sosial yang inklusif serta tidak meninggalkan kelompok kelas rentan maupun menengah,” pungkas dia.

Tag:  #pertumbuhan #ekonomi #kuartal #2026 #tertinggi #dalam #tahun #momentum #tumbuh #harus #dijaga

KOMENTAR