Saham Teknologi Topang Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi
Ilustrasi Wall Street.()
08:04
14 Mei 2026

Saham Teknologi Topang Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi

Indeks S&P 500 naik ke rekor tertinggi baru sepanjang masa pada penutupan perdagangan di Bursa Saham New York Amerika Serikat alias Wall Street, Rabu (13/5/2026) waktu setempat, seiring antusiasme investor terhadap saham teknologi menutupi dampak laporan inflasi yang kembali lebih tinggi dari perkiraan.

Indeks pasar yang lebih luas, S&P 500, naik 0,58 persen ke level 7.444,25, sementara Nasdaq yang didominasi saham teknologi melonjak 1,2 persen menjadi 26.402,34. Keduanya mencetak rekor intraday maupun penutupan baru.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 67,36 poin atau 0,14 persen ke posisi 49.693,20.

Saham-saham teknologi mengungguli sektor lain di pasar, ketika kekhawatiran inflasi yang dipicu kenaikan harga energi akibat perang Iran membebani sektor lain seperti ritel dan perbankan.

Baca juga: Wall Street Berakhir Bervariasi, Inflasi dan Perang Iran Bikin Nasdaq Tersungkur

Saham Nvidia ditutup menguat lebih dari 2 persen, sedangkan Micron Technology melonjak lebih dari 4 persen. ETF semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) juga naik 2 persen.

Sebaliknya, sekitar dua pertiga saham di indeks S&P 500 justru bergerak melemah selama sesi perdagangan, menurut data FactSet. Saham yang turun mencakup peritel perlengkapan rumah tangga Home Depot serta saham-saham yang terkait dengan siklus ekonomi seperti JPMorgan.

“Perdagangan saham chip saat ini benar-benar bergerak dengan momentumnya sendiri. Investor tampaknya melihat permintaan dan pertumbuhan di sektor ini sangat bersifat struktural, sehingga faktor-faktor makroekonomi yang lebih siklikal tidak banyak mengubah prospeknya,” ujar analis strategi investasi Baird, Ross Mayfield, kepada CNBC.

“Di tengah berbagai situasi global, khususnya guncangan harga minyak, investor merasa lebih aman berlindung di saham-saham tersebut karena ledakan kecerdasan buatan (AI) akan tetap datang apa pun yang terjadi.”

Pergerakan saham teknologi pada Rabu terjadi setelah CEO Nvidia Jensen Huang mendampingi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam kunjungannya ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping.

Menurut Mayfield, langkah tersebut memberi sinyal positif kepada investor terkait kemungkinan Nvidia kembali bisa menjual chip AI-nya di pasar China, meski ia mengaku ekspektasinya terhadap hasil pertemuan itu masih “cukup terbatas.”

Saham-saham semikonduktor belakangan memang terus melesat dan memimpin penguatan pasar secara keseluruhan ke level rekor baru, di tengah kembali tingginya antusiasme terhadap perdagangan berbasis AI.

Namun, meskipun saham chip dan perusahaan yang terkait pembangunan infrastruktur AI saat ini tampak “bergerak sendiri”, Mayfield belum yakin momentum tersebut akan bertahan lama.

“Pada titik tertentu, investor mungkin akan mulai melihat kondisi makroekonomi yang ternyata benar-benar berbalik merugikan mereka. Saat itu mereka bisa saja berpikir, ‘Sudah waktunya mengambil sebagian keuntungan, karena harapan bahwa perang akan cepat selesai ternyata jelas tidak terwujud,’” katanya.

Sebagai catatan, S&P 500 dan Nasdaq sempat turun dari rekor tertingginya pada Selasa setelah dirilisnya data inflasi konsumen AS yang lebih panas dari perkiraan.

Pada Rabu, indeks harga produsen (PPI) melonjak 1,4 persen pada April. Itu merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2022 dan jauh lebih tinggi dibanding ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 0,5 persen.

Selain itu, inflasi tingkat grosir naik 6 persen secara tahunan, menjadi kenaikan terbesar sejak Desember 2022. Angka tersebut juga melampaui konsensus pasar sebesar 4,9 persen.

Baca juga: Rupiah dan Saham Melemah, Apa Dampaknya?

Tag:  #saham #teknologi #topang #wall #street #nasdaq #cetak #rekor #tertinggi

KOMENTAR