Survei: Karier Tak Lagi Soal Jabatan, Gen Z dan Milenial Kini Cari Hidup Seimbang
Ilustrasi karier, karier bagi pegawai milenial dan Gen Z. (FREEPIK/TIRACHARDZ)
15:04
17 Mei 2026

Survei: Karier Tak Lagi Soal Jabatan, Gen Z dan Milenial Kini Cari Hidup Seimbang

Cara generasi muda memandang karier mulai berubah.

Jika dulu kesuksesan identik dengan jabatan tinggi dan kenaikan posisi yang cepat, kini banyak pekerja Gen Z dan milenial justru lebih memilih jalur karier yang dianggap lebih realistis, sehat, dan berkelanjutan.

Laporan Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan, generasi muda kini lebih berhati-hati dalam menentukan arah karier di tengah tekanan biaya hidup, perubahan teknologi, hingga kekhawatiran soal kesehatan mental.

Baca juga: Paradoks Karier: Gen Z Tak Lagi Mengejar Tahta Organisasi

Ilustrasi karier, kesuksesan karier. FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi karier, kesuksesan karier.

Survei yang melibatkan lebih dari 22.500 Gen Z dan milenial di 44 negara itu menemukan bahwa banyak anak muda tidak lagi menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan utama karier mereka.

Hanya 6 persen Gen Z dan milenial yang menyebut posisi leadership sebagai tujuan karier utama.

Sebaliknya, mayoritas kedua generasi tersebut lebih memilih pertumbuhan karier yang stabil dibanding promosi cepat.

Sebanyak 44 persen Gen Z dan 45 persen milenial mengaku lebih memilih “steady progress” alias progres stabil dalam karier.

Baca juga: Career FOMO, Tren yang Mengubah Cara Gen Z Memilih Karier

Sementara yang menginginkan pertumbuhan cepat dengan promosi dan kenaikan jabatan hanya 25 persen Gen Z dan 21 persen milenial.

Selain itu, sekitar 20 persen responden bahkan bersedia berpindah secara lateral atau menerima posisi lebih junior demi mendapatkan pengalaman yang dianggap lebih sesuai untuk jangka panjang.

Karier kini diukur dari work-life balance

Dalam laporan tersebut, Deloitte menyebut generasi muda mulai mendefinisikan ulang arti kemajuan karier.

Ilustrasi karierhobo_018/ Getty Images/iStockphoto Ilustrasi karier

Kesuksesan tidak lagi semata-mata diukur dari seberapa tinggi atau cepat seseorang naik jabatan, tetapi apakah perjalanan karier itu dapat dijalani secara berkelanjutan tanpa mengorbankan kehidupan pribadi.

Baca juga: Peluang Karier Agen Asuransi di Tengah Kebutuhan Proteksi Finansial

Integrated marketing and communications executive sekaligus adjunct professor Texas Christian University (TCU) dan University of Dallas Megan Korns Russell mengatakan, Gen Z dan milenial kini melihat hidup lebih luas daripada sekadar mengejar posisi di kantor.

“Generasi milenial dan Gen Z sangat menginginkan kesempatan untuk memiliki kehidupan yang utuh, yang bukan hanya tentang meniti karier di perusahaan. Mereka menghargai kesejahteraan,” kata Russell dalam laporan tersebut.

Hal senada juga tercermin dari pengakuan para responden survei.

“Saya ingin pekerjaan yang membuat saya merasa terpenuhi. Saya tidak harus selalu mendapatkan promosi untuk merasa puas. Saya ingin bisa pulang, menjalani hidup, dan punya pemisahan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” ujar Nita, responden Gen Z.

Baca juga: Survei: Karier Fleksibel dan Keseimbangan Hidup Jadi Prioritas Gen Z

Responden lain, Zeina, juga menyebut definisi sukses baginya kini lebih banyak terkait keseimbangan hidup.

“Kesuksesan memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Bagi saya, ini semua tentang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi,” terang dia.

Jabatan tinggi dianggap dekat dengan burnout

Meski tidak menolak kepemimpinan sepenuhnya, banyak Gen Z dan milenial menganggap posisi manajerial identik dengan tekanan besar dan kehidupan yang tidak seimbang.

Survei Deloitte menunjukkan, alasan utama generasi muda enggan mengejar posisi leadership adalah stres dan burnout. Faktor ini disebut oleh 50 persen Gen Z dan 49 persen milenial.

Baca juga: Gen Z, Siapkah Hadapi Peluang Karier dan Investasi di Tahun Kuda Api 2026?

Selain itu, 50 persen Gen Z dan 48 persen milenial menilai posisi pemimpin membawa terlalu banyak tanggung jawab.

Ilustrasi burnout. Psikolog mengungkap tiga kebiasaan sederhana yang bisa membantu mencegah burnout sejak dini, mulai dari memberi jeda hingga meluangkan waktu untuk pemulihan.FREEPIK/DC STUDIO Ilustrasi burnout. Psikolog mengungkap tiga kebiasaan sederhana yang bisa membantu mencegah burnout sejak dini, mulai dari memberi jeda hingga meluangkan waktu untuk pemulihan.

Kekhawatiran soal work-life balance juga menjadi alasan bagi 41 persen Gen Z dan 46 persen milenial.

Global Future of Work Leader Deloitte Nic Scoble-Williams mengatakan, rendahnya minat terhadap posisi leadership bukan berarti generasi muda tidak ingin memimpin.

“Menarik sekali bahwa hanya sedikit yang memprioritaskan kepemimpinan, tetapi saya tidak berpikir itu berarti ‘tidak ada yang ingin memimpin.’ Hanya saja, itu bukan satu-satunya hal yang penting bagi mereka,” ujar dia.

Baca juga: Gen Z dan Tantangan Awal Karier: Lowongan Turun, Persaingan Naik

Menurut dia, banyak pekerja muda kini tidak lagi melihat posisi manajerial sebagai satu-satunya cara untuk memberikan dampak atau mendapatkan pengakuan.

Meski demikian, minat jangka panjang terhadap posisi leadership sebenarnya masih cukup tinggi. Sebanyak 76 persen Gen Z dan 67 persen milenial mengaku tertarik mengejar posisi eksekutif atau senior leadership di masa depan.

Sementara 80 persen Gen Z dan 73 persen milenial tertarik mengambil peran supervisor atau manajerial dalam perjalanan karier mereka.

Namun, mereka ingin posisi tersebut hadir dengan kondisi kerja yang lebih fleksibel dan sehat.

Baca juga: Job Hopping Jadi Strategi Karier Milenial dan Gen Z, Bukan Sekadar Pindah Kerja

Global Chief Strategy Officer Deloitte Global Mike Canning mengatakan, generasi muda kini mempertimbangkan rasa aman dan kualitas hidup sebelum memutuskan mengambil posisi leadership.

“Peran kepemimpinan masih menarik, tetapi perlu menawarkan fleksibilitas,” sebut Canning.

Tekanan biaya hidup pengaruhi pilihan karier

Laporan survei Deloitte tersebut juga menunjukkan, tekanan ekonomi menjadi faktor besar yang membentuk keputusan karier generasi muda.

Biaya hidup menjadi kekhawatiran utama Gen Z dan milenial selama lima tahun terakhir. Sebanyak 38 persen Gen Z dan 42 persen milenial menyebut biaya hidup sebagai isu yang paling mengkhawatirkan.

Ilustrasi biaya hidup.FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi biaya hidup.

Baca juga: Survei Deloitte: Sukses Karier bagi Gen Z dan Milenial Bukan Naik Jabatan

Tekanan finansial ini membuat banyak generasi muda menunda berbagai keputusan besar dalam hidup.

Sebanyak 55 persen Gen Z dan 52 persen milenial mengaku menunda keputusan seperti menikah, punya anak, membuka bisnis, atau melanjutkan pendidikan karena kondisi finansial mereka.

Selain itu, 51 persen Gen Z dan 40 persen milenial merasa tidak mampu membeli rumah.

Kondisi tersebut juga memengaruhi cara mereka memandang stabilitas karier dan pekerjaan.

Baca juga: Ramalan Shio 2026 Tahun Kuda Api: Peluang Hoki Karier hingga Keuangan

“Kekhawatiran utama saya adalah biaya hidup. Harga rumah telah meningkat begitu pesat,” ujar Mel, responden milenial dalam survei tersebut.

Menurut dia, banyak pekerjaan yang menawarkan gaji yang tidak lagi sebanding dengan biaya hidup di kota tempat tinggal mereka.

AI jadi hagian strategi bertahan di dunia kerja

Di tengah ketidakpastian ekonomi dan perubahan dunia kerja, Gen Z dan milenial juga semakin aktif mengembangkan keterampilan baru.

Deloitte mencatat, kemampuan beradaptasi kini menjadi strategi utama generasi muda untuk menjaga relevansi karier mereka.

Baca juga: Feng Shui 2026: Sektor Rumah yang Dikaitkan dengan Peluang Keuangan dan Karier

Keterampilan yang paling banyak ingin dikembangkan oleh Gen Z antara lain public speaking, kepemimpinan, AI, kemampuan komunikasi, dan kreativitas.

Sementara pada milenial, kemampuan AI menjadi keterampilan yang paling banyak ingin dipelajari.

Penggunaan AI juga meningkat tajam dalam dunia kerja. Sekitar 74 persen Gen Z dan milenial kini menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya.

AI tidak hanya dipakai untuk produktivitas kerja, tetapi juga untuk pengembangan karier dan pembelajaran.

Baca juga: Birokrasi 2026: Antara Sekoci dan Jebakan Karier

 Ilustrasi AI. F5 Ilustrasi AI.

Sebanyak 79 persen responden menggunakan AI untuk mencari peluang belajar dan pengembangan diri, sementara sekitar 70 persen memanfaatkannya untuk mencari nasihat karier.

Chief People Officer Eightfold AI Meghna Punhani mengatakan, kemampuan paling penting di masa depan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga rasa ingin tahu dan kemauan terus belajar.

“Keterampilan yang paling penting untuk masa depan adalah rasa ingin tahu, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan kelincahan untuk terus belajar,” ucap Punhani.

Bagi banyak Gen Z dan milenial, perubahan dunia kerja yang cepat membuat mereka tidak lagi mengandalkan stabilitas jangka panjang seperti generasi sebelumnya.

Baca juga: Kata CEO Nvidia Jensen Huang, AI Bisa Jadi Mentor Karier Anda

“Mengapa saya harus mengharapkan stabilitas? Saya hanya perlu menciptakan jalan saya sendiri,” ujar Russell menggambarkan cara pandang generasi muda saat ini.

Sebagai informasi, survei ini merupakan bagian dari Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey yang telah memasuki edisi ke-15.

Deloitte menghimpun pandangan lebih dari 22.500 responden dari 44 negara, yang terdiri dari generasi Z dan milenial.

Dalam survei ini, Gen Z didefinisikan sebagai responden yang lahir pada 1995 hingga 2007, sementara milenial merupakan mereka yang lahir pada 1983 hingga 1994.

Baca juga: Tips Karier untuk Gen Z dari Barack Obama, Jadilah Karyawan Seperti Ini

Selain survei kuantitatif terhadap responden lintas negara, Deloitte juga melengkapi laporan ini dengan wawancara kualitatif bersama para pemimpin bisnis di berbagai pasar.

Pendekatan tersebut dilakukan untuk menangkap pandangan generasi muda mengenai dunia kerja, kehidupan pribadi, kepemimpinan, hingga perubahan akibat perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).

Deloitte menyebut survei ini bertujuan melihat bagaimana Gen Z dan milenial memandang pekerjaan, stabilitas finansial, kesehatan mental, fleksibilitas kerja, serta arah karier mereka di tengah tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, dan perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Tag:  #survei #karier #lagi #soal #jabatan #milenial #kini #cari #hidup #seimbang

KOMENTAR