Ramai Antre Produk Viral, Ekonom: Belum Tentu Daya Beli Kuat
Ilustrasi belanja(PEXELS/SAM LION)
20:28
17 Mei 2026

Ramai Antre Produk Viral, Ekonom: Belum Tentu Daya Beli Kuat

Fenomena antrean panjang di peluncuran produk lifestyle seperti jam tangan kolaborasi dan parfum viral di pusat perbelanjaan Ibu Kota belakangan ramai menjadi sorotan di media sosial.

Terbaru ada kolaborasi produk jam Swatch x AP dan peluncuran parfum lokal Mykonos yang memicu antrean panjang di sejumlah mal Jakarta.

Namun, ekonom menilai tren tersebut tidak bisa langsung dijadikan indikator kuatnya daya beli masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Baca juga: Warga Antre Beli Parfum dan Jam Tangan, Bukan Tanda Ekonomi Baik?

Ilustrasi parfum, parfum viral. PEXELS/ADORE R Ilustrasi parfum, parfum viral.

Menurut Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, keramaian antrean membeli suatu produk tidak merepresentasikan kondisi konsumsi rumah tangga nasional yang jauh lebih luas dan beragam.

"Kurang tepat kalau langsung dijadikan indikator bahwa daya beli masyarakat secara agregat masih kuat. Dalam ekonomi konsumen, fenomena seperti ini justru sering menyesatkan kalau tidak dibaca dalam konteks yang lebih luas," ujarnya kepada Kompas.com, Minggu (17/5/2026).

Ia menjelaskan, dalam perspektif ekonomi konsumen, fenomena antrean produk hype cenderung mengandung selection bias.

Antrean yang terlihat di lokasi premium seperti pusat perbelanjaan di kawasan urban hanya mencerminkan segmen tertentu, yakni kelas menengah atas perkotaan dengan kemampuan belanja relatif lebih stabil.

Baca juga: Dampak Nyata Fluktuasi Dolar terhadap Ekonomi Pedesaan

Artinya, tidak merepresentasikan kondisi dari total 287 juta penduduk Indonesia.

"Antrean yang viral di media sosial terlihat besar, tetapi secara statistik sebenarnya sangat kecil dibanding populasi konsumen Indonesia secara keseluruhan," kata dia.

Ilustrasi belanja.PIXABAY/PREIS_KING Ilustrasi belanja.

Selain itu, Yusuf juga menyoroti adanya survivorship bias, di mana perhatian publik hanya tertuju pada produk yang viral dan berhasil menciptakan antrean panjang, sementara produk serupa di kategori lain pada periode yang sama mungkin justru sepi pembeli.

Dari sisi data makro, ia menyebut gambaran konsumsi rumah tangga saat ini cenderung lebih beragam (mixed).

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 17.500 Per Dollar AS, Purbaya: Jangan Panik, Ekonomi RI Tak Akan Seburuk Krisis 1998

Sejumlah indikator justru memperlihatkan konsumsi rumah tangga mulai melambat, indeks penjualan ritel tidak sekuat sebelumnya, dan berbagai survei belanja masyarakat menunjukkan adanya kecenderungan perubahan pola konsumsi ke produk yang lebih esensial, terutama di kelas menengah.

"Jadi antrean produk hype tidak otomatis berarti purchasing power masyarakat luas sedang baik," tegasnya.

Ia menilai fenomena antrean produk viral lebih tepat dibaca sebagai bagian dari K-shaped consumption, yakni kondisi ketika pola konsumsi masyarakat terbelah.

Kelompok atas tetap mampu mempertahankan bahkan meningkatkan belanja gaya hidup, sementara kelompok menengah bawah mulai mengalami penyesuaian atau penurunan konsumsi.

Baca juga: Ekonom Sebut Investor Nilai Ketahanan Ekonomi Indonesia Rentan, Defisit APBN Jadi Sorotan

"Yang terlihat di antrean itu adalah konsumsi segmen atas yang tetap resilien, bukan refleksi kesehatan konsumsi nasional secara menyeluruh," ucap dia.

Dari sisi perilaku konsumen, ia menambahkan pembelian produk seperti jam tangan edisi kolaborasi maupun parfum viral lebih banyak dipengaruhi faktor psikologis ketimbang kebutuhan fungsional.

Unsur status sosial, eksklusivitas, hingga fear of missing out (FOMO) menjadi pendorong utama permintaan.

Meski demikian, ia menilai fenomena ini tetap memiliki sisi positif karena menunjukkan segmen retail premium dan industri kreatif masih bergerak.

Baca juga: Konsumsi Rumah Tangga Kontributor Pertumbuhan Ekonomi Saat Rupiah Melemah

Namun, ia mengingatkan agar tidak terjadi pembacaan yang terlalu optimistis terhadap kondisi ekonomi secara keseluruhan.

"Kalau dibaca terlalu optimistis, bisa berbahaya, sebab ketika konsumsi terlalu ditopang kelas atas, struktur ekonomi menjadi lebih rapuh karena konsumsi kelompok ini sangat sensitif terhadap wealth effect pasar aset dan kondisi finansial global," pungkasnya.

Tag:  #ramai #antre #produk #viral #ekonom #belum #tentu #daya #beli #kuat

KOMENTAR