Benih Tebu Jadi Senjata Lawan Mafia Impor Gula
- Pemerintah bersama petani tebu mulai membangun garis pertahanan baru menghadapi dominasi impor gula yang selama bertahun-tahun dinilai menekan produksi nasional.
Melalui pembangunan Kebun Benih Datar (KBD) tebu di Majalengka, Jawa Barat, Senin (19/5/2026), pemerintah memastikan komitmennya memperkuat fondasi industri gula nasional dari sektor hulu.
Program KBD tebu diproyeksikan menjadi fondasi regenerasi benih unggul nasional, sekaligus memperkuat kemandirian industri gula domestik.
Di tengah tingginya kebutuhan gula nasional yang mencapai jutaan ton per tahun, keberadaan benih berkualitas dinilai menjadi faktor paling krusial untuk mendongkrak produktivitas lahan petani.
Baca juga: DPR Desak Pemerintah Tertibkan Mafia Impor Gula Rafinasi
Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Nandang Sudrajat, M.H., mengatakan pembangunan kebun benih tidak sekadar menjadi program teknis pertanian, tetapi juga bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor gula.
“Kalau benih unggul tersedia secara luas dan petani memiliki akses yang kuat terhadap budidaya modern, maka produksi akan naik. Di situlah kita mulai memutus ruang permainan mafia impor gula yang selama ini tumbuh karena produksi nasional lemah,” ujar Nandang dalam kegiatan tutup tanam pembangunan KBD Tebu di Majalengka, disiarkan Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, persoalan gula nasional tidak hanya berada pada sektor hilir perdagangan, tetapi juga bermula dari lemahnya sistem perbenihan dan rendahnya produktivitas kebun rakyat.
Selama bertahun-tahun, sebagian besar petani masih menggunakan bibit lama dengan produktivitas rendah sehingga biaya produksi menjadi tinggi dan hasil panen tidak kompetitif dibandingkan gula impor.
Direktur Perbenihan Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Ebi Rulianti, menjelaskan pemerintah kini mulai memfokuskan pembangunan sektor hulu sebagai solusi jangka panjang untuk memperbaiki industri gula nasional.
Kebun Benih Datar dirancang untuk menghasilkan benih tebu bersertifikat dengan kualitas yang seragam dan adaptif terhadap kebutuhan lahan di berbagai daerah.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada pola lama. Revitalisasi gula nasional harus dimulai dari benih. KBD ini menjadi pusat pengembangan sumber bibit unggul yang nantinya akan mempercepat peningkatan produktivitas petani,” ucap Ebi.
Ilustrasi gula.
Ia menambahkan, pemerintah kini juga mendorong sinkronisasi antara program perbenihan, revitalisasi pabrik gula, dan penguatan kelembagaan petani.
Ia memandang, tanpa penguatan di level petani, target swasembada gula nasional akan terus menjadi agenda berulang tanpa capaian signifikan.
Data Kementerian Pertanian menunjukkan produktivitas tebu nasional masih tertinggal dibandingkan negara produsen utama dunia. Sebagian besar kebun tebu rakyat memiliki tingkat rendemen rendah akibat kualitas bibit yang belum optimal dan pola tanam yang masih konvensional.
Pada saat yang sama, impor gula terus meningkat untuk memenuhi kebutuhan industri maupun konsumsi rumah tangga.
Baca juga: El Nino Jadi Ancaman Bagi Petani Tebu di Tengah Target Swasembada Gula
Kondisi tersebut, menurut kalangan petani, menciptakan ketimpangan pasar yang memukul petani lokal. Ketua DPW Tani Merdeka Jawa Barat, Yudi Setia Kurniawan, menilai pembangunan KBD menjadi simbol perlawanan petani terhadap ketergantungan impor gula.
“Petani sebenarnya siap meningkatkan produksi, tetapi selama ini selalu kalah sebelum bertanding. Harga sering jatuh ketika musim panen, sementara impor masuk besar-besaran. Kalau benih unggul diperkuat dan keberpihakan negara nyata, petani bisa berdiri di depan,” kata Yudi.
Nada serupa disampaikan Tokoh Petani Tebu Jawa Barat H. Didi Tarmadi. Ia menyebut petani selama ini berada dalam situasi paradoksal karena kebutuhan gula nasional sangat tinggi, tetapi petani justru kesulitan memperoleh keuntungan yang layak.
“Yang dibutuhkan petani bukan hanya bantuan sesaat, tetapi sistem yang berpihak. Benih unggul adalah modal utama. Kalau produksi naik dan kualitas membaik, petani tidak akan terus bergantung pada permainan pasar impor,” ungkap Didi.
Di sisi industri, General Manager PG Rajawali 2 menilai pembangunan KBD akan berdampak langsung terhadap efisiensi pabrik gula. Selama ini, rendahnya kualitas tebu rakyat menyebabkan rendemen pabrik tidak maksimal sehingga biaya produksi meningkat.
“Pabrik gula membutuhkan bahan baku yang konsisten dan berkualitas. KBD menjadi langkah penting karena industri gula tidak bisa berdiri kuat kalau hulunya rapuh,” katanya.
Secara ekonomi, penguatan benih tebu dinilai dapat menciptakan efek berantai bagi daerah sentra tebu. Produktivitas yang meningkat akan mendorong penyerapan tenaga kerja, memperkuat ekonomi desa, serta mengurangi tekanan impor terhadap neraca perdagangan pangan nasional.
Dalam konteks kebijakan, langkah tersebut juga sejalan dengan agenda pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap pasar global yang fluktuatif.
Baca juga: Respons Tuntutan Petani Tebu Blora, Bulog Siap Ganti Direksi Pabrik Gula GMM
Namun, tantangan yang dihadapi masih besar. Selain persoalan lahan dan regenerasi petani, tata niaga gula nasional selama ini juga kerap disorot karena dinilai membuka ruang dominasi importir besar.
Sejumlah kalangan menilai lemahnya keberpihakan terhadap produksi dalam negeri membuat agenda swasembada gula terus tertunda.
Pembangunan Kebun Benih Datar di Majalengka menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai menggeser fokus dari sekadar stabilisasi pasokan menuju penguatan fondasi produksi nasional.
Jika dijalankan secara konsisten dan didukung kebijakan perdagangan yang berpihak pada petani, langkah tersebut dinilai berpotensi menjadi titik balik industri gula nasional, dari negara pengimpor menuju produsen gula yang lebih mandiri.