Hipertensi Tak Terkontrol Jadi Pemicu Utama Stroke dan Gagal Jantung
- Stroke dan penyakit jantung iskemik masih menjadi dua ancaman fatal terbesar bagi masyarakat Indonesia.
Catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2021 menunjukkan, angka kematian akibat stroke di Tanah Air menembus 140,8 per 100.000 orang, disusul penyakit jantung iskemik sebesar 90,4 per 100.000 orang.
Lonjakan disebabkan oleh minimnya kesadaran terhadap penyakit darah tinggi atau hipertensi. Sekitar satu dari tiga orang dewasa di Indonesia diperkirakan hidup dengan kondisi ini tanpa menyadarinya.
Baca juga: Hipertensi dan Diabetes Kini Banyak Menyerang Usia Produktif, BPJS Soroti Pentingnya Deteksi Dini
"Di Indonesia, menurut Kemenkes (Kementerian Kesehatan) sekarang ada 50 juta penderita hipertensi. Bayangkan, 50 juta. Dan yang terkontrol itu cuma sedikit, enggak sampai enam persen."
Hal tersebut dituturkan oleh Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S(K), dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Strategi pengendalian hipertensi untuk menekan risiko stroke
Pentingnya integrasi edukasi dalam kurikulum
Menghadapi tingginya angka penderita, penanganan medis di fasilitas kesehatan dirasa tidak lagi cukup untuk menekan laju komplikasi.
Dampak yang ditimbulkan sangat masif, yang mana hipertensi menyumbang persentase besar pada angka kelumpuhan hingga fatalitas harian di masyarakat.
"Penyebab kematian di Indonesia secara total tuh 18,5 persen karena stroke, dan penyebab kecacatan 11,2 persen," terang dokter spesialis saraf yang berpraktik di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita ini.
"Jadi kami mengusulkan pada pemerintah mungkin mulai dimasukkan ke dalam pendidikan, kurikulum pendidikan cara makanan sehat, pola hidup sehat," tambah dr. Eka.
Ia meyakini edukasi kolaboratif dapat memutus rantai penyakit bawaan maupun perbaikan gaya hidup ke depannya.
Baca juga: Dokter Ungkap Pentingnya Kelola Stres untuk Cegah Hipertensi
Memantau tekanan darah di rumah dengan mudah
Selain regulasi dari pemerintah, inisiatif individu untuk mengecek tekanan darah secara rutin di rumah menjadi kunci utama agar terhindar dari komplikasi stroke.
Namun, sebagian orang masih mengabaikannya karena belum terbiasa, atau merasa pengadaan alat pengukur memakan biaya tinggi.
Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia (InaSH), dr. Eka Harmeiwaty, Sp.S(K), dalam acara peluncuran tensimeter Omron SF Series di Jakarta Selatan, Rabu (20/5/2026).
Director OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe, menegaskan komitmen perusahaannya untuk menekan risiko kardiovaskular melalui peluncuran lini terbaru Tensimeter Seri EZ dan IQ.
"Melalui Tensimeter Seri EZ & IQ, kami ingin memberikan kemudahan bagi masyarakat Indonesia untuk memantau tekanan darah secara akurat, cepat, dan nyaman dari rumah," tutur Tomoaki.
Selain hemat daya, perangkat cerdas ini dirancang agar mudah dioperasikan sehari-hari untuk mendeteksi anomali fisik.
Baca juga: Mendaki Gunung Bisa Picu Hipertensi Paru pada Kelompok Rentan, Simak Penjelasan Dokter
"Selain itu, seri ini juga eco-saving karena 1,5 kali lebih efisien dibanding seri sebelumnya, sehingga ramah lingkungan dan energi," ucap Tomoaki.
Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia, Fanny Himawan menambahkan, bahwa ketersediaan opsi alat ukur ini kini sudah semakin terjangkau dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
"Range harganya kami dari Rp 400.000-an sampai dengan Rp 1 jutaan, tergantung dengan fitur apa yang ada di dalamnya," kata Fanny.
Deteksi dini fibrilasi atrium (AFib) untuk cegah komplikasi
Pemantauan tekanan darah yang berkelanjutan sangatlah penting, mengingat sirkulasi darah yang tidak stabil dapat memicu Atrial Fibrillation (AFib atau AF), alias gangguan irama detak jantung.
Kelainan ritme jantung ini kerap luput dari perhatian, padahal dapat mempercepat pembentukan gumpalan darah yang langsung mengalir dan menyumbat pembuluh otak.
"Pasien hipertensi dengan AF berisiko tinggi untuk terkena stroke dan gagal jantung. Dengan demikian, deteksi AF pada pasien hipertensi penting untuk dilakukan," ungkap dr. Eka.
Alat ukur yang memadai di rumah kini sudah bisa membantu melacak kejanggalan detak jantung tersebut sebelum berakibat fatal.
Dokter Eka kembali mengingatkan masyarakat agar proaktif melindungi diri tanpa perlu menunggu sakit.
"Kalau kita bisa mengatasi faktor risiko ini dengan baik, kita tidak hipertensi, tidak jatuh ke atrial fibrillation, dan tidak stroke," pungkas dia.
Baca juga: Rutin Olahraga Sejak Muda Bantu Cegah Hipertensi di Usia Paruh Baya
Tag: #hipertensi #terkontrol #jadi #pemicu #utama #stroke #gagal #jantung