Hormuz Diblokade Iran, UEA Kebut Pembangunan Jalur Pipa Minyak Alternatif
Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.(ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP)
15:32
22 Mei 2026

Hormuz Diblokade Iran, UEA Kebut Pembangunan Jalur Pipa Minyak Alternatif

- Uni Emirat Arab (UEA) mempercepat pembangunan jalur pipa minyak baru untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz yang kini diblokade Iran.

CEO Abu Dhabi National Oil Company atau ADNOC, Sultan Ahmed Al Jaber, mengatakan hampir 50 persen pembangunan jalur pipa kedua tersebut telah selesai.

“Saat ini, terlalu banyak energi dunia masih mengalir melalui terlalu sedikit titik hambatan,” kata Al Jaber dalam wawancara di Atlantic Council, Rabu (21/5/2026), seperti dilansir CNBC.

Baca juga: Prospek Damai Mulai Kabur, Iran Semakin Agresif di Selat Hormuz

Jalur pipa baru itu akan menggandakan kapasitas ekspor minyak ADNOC melalui pelabuhan Fujairah di Teluk Oman, wilayah yang berada di luar Selat Hormuz.

Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

UEA mempercepat proyek itu setelah Iran memblokade Selat Hormuz sejak awal Maret.

Penutupan jalur tersebut membuat ekspor minyak dan gas negara-negara Teluk terganggu besar.

Baca juga: FAO Peringatkan Lonjakan Harga Pangan dalam 12 Bulan, Imbas Krisis Selat Hormuz

Gangguan energi terbesar dalam sejarah

Selama ini UEA masih mengandalkan jalur pipa lama menuju Fujairah dengan kapasitas maksimal sekitar 1,8 juta barel per hari.

Namun kapasitas itu dinilai tidak cukup menghadapi penutupan Hormuz yang berkepanjangan.

Menurut Al Jaber, dampak blokade Hormuz sudah sangat besar terhadap pasar energi global.

“Blokade Hormuz telah memicu gangguan pasokan energi paling parah dalam sejarah,” kata dia.

Ia menyebut lebih dari 1 miliar barel minyak sudah hilang akibat penutupan selat tersebut.

Baca juga: AS dan Iran Masih Buntu soal Selat Hormuz, Harga Minyak Kian Memanas

Selain itu, hampir 100 juta barel minyak tambahan hilang setiap pekan selama Hormuz tetap ditutup.

ADNOC memperkirakan pemulihan pasokan energi global tidak akan berlangsung cepat meski perang berhenti dalam waktu dekat.

“Diperlukan setidaknya empat bulan untuk meningkatkan aliran minyak hingga 80 persen dari tingkat normal bahkan jika konflik berakhir segera,” ujar Al Jaber.

Ia memperkirakan pasokan minyak global baru kembali normal sepenuhnya pada kuartal pertama atau kedua 2027.

UEA khawatir soal preseden geopolitik

Menurut Al Jaber, krisis Hormuz bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan ancaman terhadap stabilitas perdagangan global.

“Faktanya, ini menciptakan preseden berbahaya begitu Anda menerima bahwa satu negara dapat menyandera jalur air terpenting di dunia,” kata dia.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.

Sebelum perang pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat tersebut.

Iran mulai memblokade jalur itu setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan tersebut menewaskan sejumlah petinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

AS nilai peran Hormuz mulai berkurang

Menteri Energi AS Chris Wright menilai pentingnya Selat Hormuz bagi pasar energi global akan berkurang setelah perang Iran.

Menurut dia, negara-negara Teluk kini mulai mempercepat pembangunan jalur pipa alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada Hormuz.

“Ini adalah kartu yang hanya bisa dimainkan sekali,” kata Wright soal blokade Iran dalam wawancara dengan CNBC.

“Akan ada jalur lain untuk energi keluar dari Teluk Persia,” lanjut dia.

Wright menilai dunia tetap membutuhkan pasokan energi dari Timur Tengah. Namun distribusinya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Selat Hormuz.

“Kita akan melihat penurunan pentingnya Selat Hormuz, tetapi bukan penurunan pentingnya produksi energi dan pasokan energi negara-negara tersebut,” ujar dia.

Tag:  #hormuz #diblokade #iran #kebut #pembangunan #jalur #pipa #minyak #alternatif

KOMENTAR