IPO SpaceX Sarat Keanehan, Mars Disebut 63 Kali dalam Prospektus
Ilustrasi SpaceX akuisisi xAI.(Ist)
09:20
23 Mei 2026

IPO SpaceX Sarat Keanehan, Mars Disebut 63 Kali dalam Prospektus

– Dokumen prospektus penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) milik SpaceX menjadi sorotan pasar global setelah mengungkap sederet detail yang dinilai tidak lazim untuk ukuran dokumen penawaran saham perusahaan publik.

Prospektus setebal lebih dari 300 halaman itu bukan hanya berisi laporan keuangan dan strategi bisnis, tetapi juga visi kolonisasi Mars, hubungan bisnis lintas perusahaan milik Elon Musk, hingga risiko hukum dari chatbot kecerdasan buatan Grok.

IPO SpaceX diperkirakan menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal Amerika Serikat.

Baca juga: Elon Musk Mau Bawa SpaceX IPO meski Masih Rugi Besar

SpaceX tengah menyiapkan IPO pada 2026 dengan target dana lebih dari 25 miliar dollar AS. Jika terealisasi, valuasi perusahaan Elon Musk itu bisa melampaui 1 triliun dollar AS.X/@SpaceX SpaceX tengah menyiapkan IPO pada 2026 dengan target dana lebih dari 25 miliar dollar AS. Jika terealisasi, valuasi perusahaan Elon Musk itu bisa melampaui 1 triliun dollar AS.

Perusahaan menargetkan penggalangan dana sekitar 75 miliar dollar AS dengan valuasi mendekati 2 triliun dollar AS atau sekitar Rp 35.350 triliun (asumsi kurs Rp 17.675 per dollar AS).

Namun di balik angka fantastis tersebut, sejumlah isi prospektus justru memunculkan tanda tanya dan perhatian investor global.

Koloni Mars mendominasi isi prospektus SpaceX

Dikutip dari CNN, Sabtu (23/5/2026), salah satu bagian paling mencolok dalam prospektus adalah target kolonisasi Mars yang ditulis secara eksplisit sebagai bagian dari visi jangka panjang perusahaan.

Bahkan, kata “Mars” disebutkan sebanyak 63 kali dalam dokumen prospektus tersebut. Fakta itu memperlihatkan betapa dominannya proyek kolonisasi planet merah dalam narasi bisnis SpaceX.

Baca juga: SpaceX Buka Data Keuangan Jelang IPO, Starlink Jadi Penopang Utama Bisnis

Dalam dokumen tersebut, SpaceX menyatakan ambisinya untuk “memperluas cahaya kesadaran ke seluruh alam semesta” melalui pembangunan koloni manusia permanen di Mars.

Prospektus bahkan menyebut Elon Musk berpotensi memperoleh tambahan 1 miliar saham apabila SpaceX berhasil membantu membangun koloni permanen berisi sedikitnya 1 juta orang di Mars.

Ilustrasi Planet Mars. NASA menemukan bukti tanda-tanda kehidupan di Planet Mars.iStockphoto/Giuliano Domenichini Ilustrasi Planet Mars. NASA menemukan bukti tanda-tanda kehidupan di Planet Mars.

Skema kompensasi berbasis kolonisasi antariksa tersebut dinilai tidak biasa untuk ukuran perusahaan publik. Biasanya, target kompensasi eksekutif berkaitan dengan pendapatan, laba, atau kapitalisasi pasar.

Selain target koloni Mars, SpaceX juga menyebut peluang bisnis masa depan seperti penambangan asteroid, manufaktur luar angkasa, hingga produksi energi ekstraterestrial.

Baca juga: SpaceX Kian Dekat Melantai di Bursa, IPO Berpotensi Pecahkan Rekor

Perusahaan menggambarkan dirinya bukan sekadar operator peluncuran roket, melainkan perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan dengan target pasar senilai 28,5 triliun dollar AS.

Rugi triliunan rupiah di tengah ambisi besar

Di tengah visi futuristis tersebut, kondisi keuangan SpaceX juga menjadi perhatian.

Perusahaan melaporkan pendapatan sekitar 18,7 miliar dollar AS pada 2025 atau sekitar Rp 330,5 triliun. Namun pada saat yang sama, perusahaan mencatat kerugian 4,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 86,6 triliun.

Pada kuartal I-2026 saja, kerugian SpaceX tercatat mencapai 4,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 76 triliun.

Baca juga: IPO SpaceX Makin Dekat, BlackRock Dikabarkan Siap Investasi Jumbo

Prospektus juga memperingatkan bahwa perusahaan mungkin tidak akan pernah mencapai profitabilitas karena besarnya investasi untuk proyek-proyek eksperimental dan ekspansi teknologi.

Meski demikian, bisnis internet satelit Starlink disebut menjadi satu-satunya divisi yang sudah menghasilkan keuntungan pada awal 2026.

SpaceX juga mengungkap pengeluaran modal atau capital expenditure mencapai 20,7 miliar dollar AS sepanjang 2025 untuk pengembangan roket, satelit, dan infrastruktur kecerdasan buatan.

Hubungan rumit antarperusahaan Elon Musk

Bagian lain yang menarik perhatian investor adalah besarnya transaksi lintas perusahaan dalam ekosistem bisnis Elon Musk.

Baca juga: Elon Musk Pastikan Tak Lepas Saham SpaceX Jelang IPO Terbesar Dunia

Elon Musk menyatakan bahwa SpaceX dan Tesla berencana membangun dua pabrik chip canggih di kawasan Austin, Texas, Amerika Serikat (AS).AFP/BRENDAN SMIALOWSKI Elon Musk menyatakan bahwa SpaceX dan Tesla berencana membangun dua pabrik chip canggih di kawasan Austin, Texas, Amerika Serikat (AS).

Prospektus mengungkap bahwa SpaceX menghabiskan 131 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,3 triliun untuk membeli kendaraan Cybertruck dari Tesla sepanjang 2025.

Selain itu, perusahaan juga membeli baterai Megapack Tesla senilai 506 juta dollar AS atau sekitar Rp 8,9 triliun.

Hubungan bisnis antarperusahaan Musk semakin kompleks setelah SpaceX mengakuisisi perusahaan kecerdasan buatan xAI pada Februari 2026.

Akuisisi tersebut membuat SpaceX kini menaungi chatbot Grok dan berbagai proyek kecerdasan buatan lain.

Baca juga: Mengintip Peran Starlink di Balik Ambisi IPO SpaceX

SpaceX menyebut akuisisi itu bertujuan menggabungkan kemampuan satelit dan roket dengan teknologi AI untuk membangun pusat data luar angkasa.

Perusahaan bahkan menjelaskan rencana pembangunan infrastruktur komputasi AI di orbit guna mengatasi keterbatasan listrik dan pendinginan pusat data di Bumi.

Selain itu, SpaceX juga memiliki kesepakatan komputasi AI dengan Anthropic senilai 1,25 miliar dollar AS per bulan.

Risiko hukum dari chatbot Grok

Salah satu bagian paling tidak biasa dalam prospektus adalah penjelasan rinci mengenai risiko hukum chatbot Grok.

Baca juga: Elon Musk Minta Bank Besar Langganan Grok AI untuk Ikut IPO SpaceX

SpaceX secara terbuka mengakui bahwa mode “Spicy” dan “Unhinged” milik Grok dapat menimbulkan risiko hukum, finansial, dan reputasi perusahaan.

Dalam dokumen itu, perusahaan menyebut Grok berpotensi menghasilkan konten eksploitasi, pelecehan, disinformasi, dan gambar nonkonsensual.

SpaceX menyatakan telah menyisihkan cadangan kerugian hukum sebesar 530 juta dollar AS atau sekitar Rp 9,3 triliun untuk menghadapi potensi litigasi terkait Grok.

Prospektus juga menyinggung penyelidikan hukum di Perancis terkait dugaan penyebaran konten deepfake dan seksualisasi gambar oleh chatbot tersebut.

Ilustrasi Grok AI.  Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital melakukan pemutusan akses sementara terhadap aplikasi Grok.
Unsplash/Salvador Rios Ilustrasi Grok AI. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital melakukan pemutusan akses sementara terhadap aplikasi Grok.

Baca juga: SpaceX Ajukan IPO secara Rahasia, Target Valuasi Rp 29.610 Triliun

Peringatan mengenai chatbot AI di dalam prospektus IPO dinilai tidak lazim karena biasanya dokumen penawaran saham lebih fokus pada risiko bisnis inti perusahaan.

Namun dalam kasus SpaceX, lini AI kini dianggap menjadi bagian penting strategi perusahaan ke depan.

Elon Musk tetap pegang kendali penuh

Walaupun melantai di bursa, SpaceX tetap akan berada di bawah kendali kuat Elon Musk.

Prospektus menyebut Musk akan mempertahankan 85,1 persen hak suara melalui struktur saham ganda atau dual-class shares.

Baca juga: Investor Berebut Saham SpaceX Pra-IPO, Risiko Penipuan Mengintai

Reuters bahkan melaporkan hanya Elon Musk yang memiliki kewenangan untuk memberhentikan dirinya sendiri dari perusahaan.

Struktur tersebut memunculkan kekhawatiran tata kelola perusahaan atau corporate governance di kalangan investor institusi.

Meski menjadi perusahaan publik, kendali strategis SpaceX tetap sangat terpusat pada Musk.

Selain itu, prospektus juga mengungkap perusahaan mengeluarkan sekitar 4 juta dollar AS per tahun untuk biaya keamanan pribadi Musk.

Baca juga: Elon Musk Makin Dekat Jadi Triliuner Pertama Dunia, Roket SpaceX Jadi Penopang Kekayaan

Bitcoin hingga data center luar angkasa

Dokumen IPO juga memperlihatkan luasnya ekspansi bisnis SpaceX di luar sektor antariksa konvensional.

Perusahaan mengungkap kepemilikan sekitar 19.000 bitcoin dengan nilai mencapai 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 26,5 triliun.

Selain itu, SpaceX menyebut rencana pengembangan pusat data luar angkasa berbasis AI sebagai salah satu fokus jangka panjang perusahaan.

Konsep tersebut mencakup pengoperasian satelit dalam jumlah besar untuk menyediakan kapasitas komputasi AI di orbit.

Baca juga: IPO SpaceX Berpotensi Pecahkan Rekor Global

SpaceX juga menjelaskan pengembangan proyek Terafab bersama Tesla dan xAI untuk membangun fasilitas produksi chip AI terintegrasi.

Prospektus IPO itu memperlihatkan bahwa perusahaan kini mencoba memosisikan diri sebagai gabungan perusahaan antariksa, AI, manufaktur chip, hingga infrastruktur komputasi global.

Bagi investor, dokumen tersebut menjadi gambaran bahwa IPO SpaceX bukan sekadar penawaran saham perusahaan roket, melainkan taruhan besar terhadap visi futuristis Elon Musk yang membentang dari kecerdasan buatan hingga kolonisasi Mars.

Tag:  #spacex #sarat #keanehan #mars #disebut #kali #dalam #prospektus

KOMENTAR