Rupiah Melemah Untungkan Ekspor atau Tidak? Begini Penjelasannya
Pelemahan nilai tukar rupiah tidak selalu berdampak negatif.
Bagi sektor ekspor, pelemahan rupiah justru dapat meningkatkan keuntungan eksportir, terutama bagi industri yang menggunakan bahan baku domestik dan menjual produknya ke pasar internasional dalam denominasi dollar AS.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menjelaskan, keuntungan dari pelemahan rupiah terutama dirasakan oleh sektor ekspor yang mayoritas bahan bakunya berasal dari dalam negeri.
Baca juga: Ekonom: Pelemahan Rupiah Bebani Ekspor Akibat Kenaikan Biaya
Ilustrasi nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika rupiah terus melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS, ekonom menilai tekanan terhadap ekonomi domestik bisa semakin berat.
Tauhid mengatakan, ketika bahan baku dibeli menggunakan rupiah sementara produk dijual menggunakan mata uang dollar AS, maka pelemahan rupiah dapat meningkatkan keuntungan pelaku usaha.
“Produk ekspor yang bahan bakunya mayoritas dari dalam negeri tentu akan mendapat keuntungan ketika rupiah melemah,” ujar Tauhid kepada Kompas.com, Rabu (27/5/2026).
“Karena biaya produksinya masih dalam rupiah, sementara penjualannya menggunakan harga internasional,” ujarnya.
Ia mencontohkan komoditas seperti batu bara dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang sebagian besar rantai produksinya masih berbasis domestik.
Baca juga: Industri Berbasis SDA Diuntungkan Saat Rupiah Melemah
Dalam situasi harga global yang tinggi dan rupiah melemah, eksportir berpotensi memperoleh tambahan margin keuntungan.
“Misalnya ekspor batu bara atau CPO. Sebagian besar biaya produksinya berasal dari dalam negeri. Ketika harga internasional naik dan rupiah melemah, mereka bisa mendapatkan gain yang cukup besar,” katanya.
Namun, Tauhid menegaskan kondisi berbeda terjadi pada industri ekspor yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Ilustrasi impor.
Menurut dia, keuntungan dari pelemahan rupiah menjadi terbatas karena kenaikan biaya impor ikut membebani ongkos produksi.
Baca juga: HIMKI: Industri Mebel Tak Bisa Selamanya Bergantung pada Pelemahan Rupiah
“Kalau industri ekspor yang bahan bakunya impor, maka selisih keuntungannya tidak terlalu besar. Karena bahan baku dibeli dalam dollar AS juga,” ucapnya.
Ia mencontohkan industri elektronik, mesin, serta produk berbasis logam yang masih banyak mengandalkan impor bahan baku seperti iron and steel.
“Produk elektronik atau mesin misalnya, sebagian besar komponennya masih impor. Jadi ketika rupiah melemah, biaya produksinya juga ikut naik,” lanjut Tauhid.
Selain meningkatkan margin bagi sektor tertentu, pelemahan rupiah juga dinilai dapat memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.
Baca juga: Kurs Rupiah Nyaris Tembus Rp 17.800, Purbaya: Ya Saya Stres
Dengan asumsi harga jual tetap kompetitif, eksportir Indonesia berpeluang meningkatkan volume pemesanan dari luar negeri.
“Ketika rupiah melemah dan eksportir tidak menaikkan harga jualnya, maka produk Indonesia bisa lebih kompetitif dibanding negara lain,” kata dia.
Tauhid mencontohkan, pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing sejumlah produk manufaktur Indonesia di pasar global, seperti elektronik, mesin, hingga alas kaki yang selama ini bersaing ketat dengan produk dari Vietnam dan negara lain.
Menurut dia, selama eksportir tidak menaikkan harga jual dan sebagian kontrak transaksi masih menggunakan rupiah, maka produk Indonesia akan relatif lebih kompetitif di pasar internasional.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.796 Per Dollar AS, Risiko PHK Industri Meningkat
Kondisi tersebut dinilai dapat mendorong peningkatan volume pemesanan dari luar negeri karena harga produk Indonesia menjadi lebih menarik dibanding negara pesaing.
“Nah itu pasti akan memiliki daya saing. Sehingga bisa menambah volume pemesanan, karena kita tidak menaikkan harga,” tegasnya.
Tag: #rupiah #melemah #untungkan #ekspor #atau #tidak #begini #penjelasannya