Bitcoin (BTC) Masuk Zona Rawan, Investor Tunggu Arah Baru
- Harga Bitcoin (BTC) kembali berada dalam tekanan dalam beberapa hari terakhir.
Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia itu bergerak melemah dan mendekati level support penting yang dinilai akan menentukan arah pergerakan berikutnya.
Dikutip dari NewsBTC, Kamis (28/5/2026), data pasar menunjukkan Bitcoin sempat turun ke area di bawah 75.500 dollar AS dan terus bergerak di zona merah seiring meningkatnya tekanan jual di pasar kripto global.
Baca juga: Trump Media Lepas Bitcoin Rp 3,62 Triliun, Investor Khawatir Tekanan Jual
Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.
Sejumlah analis menilai, apabila level support utama gagal dipertahankan, pelemahan harga Bitcoin bisa berlanjut lebih dalam.
Di tengah tekanan tersebut, perhatian investor global justru mengarah ke saham-saham teknologi, khususnya produsen chip memori berbasis kecerdasan buatan (AI).
Pergerakan modal ke sektor teknologi disebut ikut memengaruhi minat investor terhadap aset kripto, termasuk Bitcoin.
Harga Bitcoin turun di tengah tekanan pasar
CoinDesk melaporkan, Bitcoin masih berada di bawah tekanan ketika saham perusahaan semikonduktor Korea Selatan, SK Hynix, melonjak dan menembus valuasi 1 triliun dollar AS.
Baca juga: Investor Bitcoin (BTC) Ramai Jual Aset Saat Harga Mulai Pulih, Ada Apa?
Sebelumnya, Micron Technology juga mencapai kapitalisasi pasar serupa setelah sahamnya melesat lebih dari 20 persen.
Saham-saham produsen chip memori menarik perhatian dan aliran modal investor global, sementara pasar kripto justru bergerak stagnan dan kehilangan momentum.
Ilustrasi kripto.
Situasi ini terjadi ketika Bitcoin gagal mempertahankan area harga di atas 76.000 dollar AS.
Tekanan jual yang terus berlanjut membuat harga BTC bergerak turun dan mendekati area support krusial di kisaran 74.000 dollar AS hingga 75.000 dollar AS.
Baca juga: Bitcoin Pizza Day 2026, Industri Kripto RI Kian Matang dan Teregulasi
NewsBTC melaporkan, Bitcoin memulai penurunan baru setelah bergerak di bawah zona 75.500 dollar AS.
Harga BTC juga diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan sederhana 100 jam, yang mengindikasikan tren jangka pendek masih bearish.
BTC dipandang sedang berkonsolidasi dan mungkin akan kesulitan untuk bertahan di atas level support 74.000 dollar AS.
Tekanan harga tidak hanya terjadi di Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama lain seperti Solana dan XRP juga mengalami pelemahan seiring meningkatnya aksi jual di pasar.
Baca juga: Harga Bitcoin Bergerak Fluktuatif, Level 82.000 Dollar AS Jadi Penentu
CoinDesk bahkan mencatat posisi long kripto senilai 500 juta dollar AS mengalami likuidasi ketika Bitcoin turun ke area 78.000 dollar AS pada pertengahan Mei 2026.
Level 74.950 dollar AS jadi area kritis
Coinpedia menyebut level 74.950 dollar AS menjadi titik penting yang harus dipertahankan pelaku pasar. Jika level tersebut gagal dijaga, risiko penurunan lebih dalam disebut semakin terbuka.
Posisi Bitcoin saat ini berada langsung di atas area support utama yang sebelumnya terbentuk pada April 2024. Kondisi tersebut membuat pasar berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap tekanan jual tambahan.
Para bullish atau investor yang masih optimistis terhadap kenaikan harga harus mampu mempertahankan area 74.950 dollar AS agar potensi koreksi lebih dalam dapat dihindari. Jika support tersebut jebol, harga Bitcoin berisiko bergerak menuju level yang lebih rendah.
Baca juga: Zcash Melonjak 1.100 Persen, Investor Mulai Sebut “Bitcoin Baru”
Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin turun hampir 30 persen dari rekor tertingginya. Data historis menunjukkan volatilitas bitcoin seperti ini merupakan pola yang berulang dalam setiap siklus bitcoin.
Sementara itu, NewsBTC menilai Bitcoin kini menghadapi beberapa area resistensi di kisaran 75.500 dollar AS hingga 76.200 dollar AS. Selama harga belum mampu kembali menembus area tersebut, tekanan bearish dinilai masih dominan.
Analis juga memperhatikan pola teknikal jangka pendek yang menunjukkan kecenderungan pelemahan lanjutan.
Bitcoin disebut telah gagal bertahan di atas 76.000 dollar AS dan terus mencatat lower high dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Bitcoin sebelumnya bergerak di kisaran 76.300 dollar AS hingga 82.500 dollar AS sepanjang reli Mei 2026. Namun aset tersebut gagal menembus area resistance penting meski telah beberapa kali mencoba breakout.
Baca juga: Bitcoin Jatuh ke 79.000 Dollar AS, Sinyal Bahaya atau Peluang Beli?
Ketegangan geopolitik ikut membebani kripto
Selain faktor teknikal, pasar kripto juga dibayangi ketidakpastian geopolitik global. Beberapa laporan menyebut meningkatnya tensi di Timur Tengah turut memicu aksi risk-off investor terhadap aset berisiko seperti kripto.
Tekanan geopolitik juga disebut memengaruhi sentimen investor ritel. Bitcoin sempat menyentuh area 73.000 dollar AS ketika pasar global dihantam kekhawatiran terhadap eskalasi konflik internasional.
Bitcoin mengalami tekanan signifikan dan turun ke level terendah dalam lebih dari enam pekan terakhir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global dan geopolitik.
Investor menunggu arah kebijakan The Fed
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) juga masih menjadi perhatian utama pasar kripto.
Baca juga: Bitcoin (BTC) Tembus 80.000 Dollar AS, Didorong Sentimen ETF dan Geopolitik
Ilustrasi bitcoin.
CoinDesk sebelumnya melaporkan Bitcoin cenderung bergerak mendatar di kisaran 77.000 dollar AS menjelang pergantian kepemimpinan di The Fed.
Pasar menunggu arah kebijakan moneter berikutnya setelah Kevin Warsh resmi dilantik menjadi Ketua The Fed.
Dalam pidatonya, Warsh mengatakan akan memimpin The Fed dengan pendekatan reformasi dan pembelajaran dari kesalahan masa lalu.
Meski demikian, ketidakpastian mengenai arah suku bunga masih membuat investor berhati-hati terhadap aset berisiko. Bitcoin yang sebelumnya sempat mencatat reli kuat pada awal Mei akhirnya kembali kehilangan momentum.
Baca juga: Harga Bitcoin Tembus 80.000 Dollar AS, Tertinggi Sejak Januari 2026
Di sisi lain, sebagian pelaku pasar masih melihat peluang pemulihan apabila tekanan makroekonomi mulai mereda. Namun dalam jangka pendek, fokus utama investor tetap berada pada kemampuan Bitcoin mempertahankan area support penting di bawah 75.000 dollar AS.
Coinpedia menyebut level tersebut akan menjadi penentu apakah Bitcoin mampu bertahan dan kembali rebound atau justru melanjutkan tren penurunan yang lebih dalam.
Tag: #bitcoin #masuk #zona #rawan #investor #tunggu #arah #baru