Kombinasi Stimulus Ini bisa Jadi ''Jamu'' agar Rupiah Tak Loyo
Ilustrasi nilai tukar kurs rupiah dan dollar AS(Thinkstockphotos.com/ThamKC)
12:12
30 Mei 2026

Kombinasi Stimulus Ini bisa Jadi ''Jamu'' agar Rupiah Tak Loyo

- Stimulus gabungan diperlukan untuk dapat melepaskan rupiah dari tren depresiasi.

Kebijakan gabungan mulai dari meningkatkan imbal hasil instrumen rupiah hingga memunculkan sinyal kebijakan kebijakan yang kuat dinilai dapat menjadi jamu untuk kurs yang loyo sepekan terakhir.

Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menjelaskan, instrumen instan yang paling dibutuhkan untuk menarik kembali modal asing ialah kombinasi imbal hasil rupiah yang kompetitif, lindung nilai valas yang likuid, dan sinyal kebijakan yang tegas.

Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tetap relevan karena dapat memberi instrumen berimbal hasil menarik dengan risiko tenor yang lebih pendek.

Baca juga: BI Ungkap Penyebab Rupiah Melemah Saat Libur Idul Adha

Akan tetapi, pasar juga membutuhkan DNDF dan pasar swap yang dalam agar investor dapat masuk ke aset rupiah tanpa menanggung risiko kurs secara penuh.

"Pemerintah perlu mendukungnya melalui penerbitan SBN yang terukur, disiplin fiskal, dan kepastian bahwa BI tidak dipaksa membiayai defisit," kata dia kepada Kompas.com, Sabtu (30/5/2026).

Menurut Syafruddin, instrumen paling cepat bekerja bukan satu produk tunggal, melainkan paket kredibilitas: SRBI untuk yield, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk lindung nilai (hedging), intervensi valas untuk meredam volatilitas, dan komunikasi fiskal-moneter yang konsisten.

"Modal asing akan kembali jika investor melihat rupiah dapat dijaga, yield menarik, dan risiko kebijakan menurun," ungkap dia.

Perlu kombinasi kebijakan

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin mengatakan, dalam horizon sangat pendek, instrumen yang paling instan sifatnya tetap di sisi pasar keuangan (bukan real sector).

"Peningkatan daya tarik imbal hasil aset rupiah," ucap dia kepada Kompas.com.

Ia menjelaskan, regulator perlu menaikkan atau mengkalibrasi kembali imbal hasil instrumen jangka pendek pro-market seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) tenor pendek untuk memperlebar selisih imbal hasil (yield spread) terhadap US Treasuries.

"Terutama untuk investor portfolio global yang sangat rate-sensitive," imbuh dia.

Nanang meminta regulator untuk memastikan likuiditas sekunder SRBI dan SBN tinggi, sehingga investor bisa keluar-masuk tanpa discount besar.

"Ini krusial untuk confidence premi risiko," ungkap dia.

Selain itu, stimulus yang perlu diberikan untuk saat ini adalah penguatan operasi valuta asing (valas) dan microstructure.

Intensifkan intervensi terukur di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) sambil memperketat pembelian dollar AS tanpa underlying.

Sedikit catatan, BI sudah menurunkan batas pembelian ritel tanpa underlying dari 100.000 dollar AS ke 50.000 dollar AS, dan menuju 25.000 dollar AS.

"Langkah ini menahan spekulasi jangka pendek dan mengurangi tekanan teknikal, sehingga investor merasa otoritas serius menjaga stabilitas," ungkap dia.

Perlu sinyal kebijakan fiskal yang kredibel

Kemudian, Nanang melihat perlunya sinyal kebijakan fiskal dan struktural yang kredibel.

Dari sisi instan komunikasi, yang dibutuhkan pasar adalah penegasan disiplin fiskal dengan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terjaga.

Pemerintah juga diharapkan memiliki prioritas belanja yang produktif dan tidak ada kebijakan ekstrem yang berisiko melebarkan defisit akun berjalan atau current Account Deficit (CAD) atau defisit fiskal secara tiba-tiba.

Nanang bilang, pengalaman menunjukkan kombinasi suku bunga tinggi dan instrumen moneter pro-market tidak akan sepenuhnya efektif tanpa kredibilitas fiskal dan stabilitas politik.

Menurut dia, ini adalah faktor kunci untuk membalik arus portfolio secara lebih permanen.

Dalam kondisi tekanan global seperti saat ini, CAD 1,1 persen PDB membuat pasar valas domestik membutuhkan dukungan arus modal yang berkelanjutan.

"Kenaikan BI Rate dan penguatan SRBI sudah mengurangi keparahan depresiasi, tetapi untuk membalikkan tren dibutuhkan kombinasi imbal hasil rupiah yang lebih menarik, intervensi valas yang terarah, dan sinyal kuat konsistensi kebijakan fiskal supaya premi risiko Indonesia kembali turun di mata investor," ungkap Nanang.

Ilustrasi dollar ASKOMPAS/RIZA FATHONI Ilustrasi dollar AS

BI jelaskan alasan rupiah terus melemah

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, rupiah pada akhir pekan ini masih tertekan oleh ketidakpastian global akibat memanasnya perang AS dan Iran.

Pada Kamis (28/5/2026) dini hari waktu setempat, pasukan AS menyerang Iran.

Hal itu memicu serangan balasan Iran ke pangkalan militer AS pada pagi hari di hari yang sama.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," ujar dia dalam keterangannya kepada media, Jumat (29/5/2026).

Baca juga: Mengapa Rupiah Tetap Loyo Meski BI Rate Sudah Naik?

Permintaan dollar tinggi

Di sisi lain, Denny bilang, mata uang Garuda juga tertekan oleh permintaan dollar AS yang tengah tinggi di dalam negeri.

Pasalnya, pada periode ini bertepatan dengan jadwal pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen perusahaan.

"Terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman di tengah arus masuk dollar AS yang terbatas," kata dia.

Kendati demikian, bank sentral terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui pengoptimalan intervensi pasar valuta asing (valas).

Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.

Selain itu, BI juga berupaya memperkuat rupiah melalui suku bunga acuan (BI rate) yang berpihak pada pasar untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing.

Dari sisi permintaan dollar AS, BI juga telah menetapkan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi 25.000 dollar AS per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026.

Rupiah terus melemah

Pada akhir pekan ini, Jumat (29/5/2026) rupiah ditutup di level Rp 17.880 per dollar AS.

Berdasarkan catatan Kompas.com, dalam seminggu terakhir nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melemah.

Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis lalu (28/5/2026). Rupiah ditutup di level Rp 17.845 per dollar AS, melemah 44,5 poin atau 0,25 persen dari penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara itu, pada penutupan Rabu (27/5/2026) nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.801 per dollar AS.

Level itu tak jauh berbeda dibandingkan dengan penutupan rupiah di pasar spot yang berada di level Rp 17.800 per dollar AS pada Selasa (26/5/2026).

Padahal di awal pekan ini, rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.744 per dollar AS.

Baca juga: Rupiah Terpuruk, Kelas Menengah Terancam Turun Kasta, Daya Beli Makin Terjepit

Tag:  #kombinasi #stimulus #bisa #jadi #jamu #agar #rupiah #loyo

KOMENTAR