IHSG Ambles Lebih Dalam dari Bursa Asia, Apa Biang Keroknya?
- Saat bursa saham Asia cenderung mampu bertahan terhadap tekanan global, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami koreksi yang lebih dalam.
Meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia, derasnya arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, hingga ketidakpastian kebijakan dinilai menjadi faktor utama yang membuat pasar saham domestik tertinggal dibandingkan pasar regional lainnya.
IHSG mengalami tekanan jual besar-besaran ketika penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026). Indeks anjlok 4,20 persen atau 245,02 poin ke level 5.594,77.
Baca juga: Bursa Saham China Melemah setelah Cetak Rekor 11 Tahun, Tertekan Aksi Ambil Untung Investor
Dalam satu tahun terakhir, indeks telah terkoreksi sekitar 20 persen. Apabila dihitung dari titik tertingginya, penurunan telah mencapai 38 persen, melampaui kedalaman koreksi saat pandemi Covid-19.
Arus keluar investor asing pun mencapai Rp 78 triliun dalam dua belas bulan terakhir, yang merefleksikan erosi kepercayaan secara struktural.
Di hari perdagangan yang sama, mayoritas indeks utama Asia juga ditutup di zona merah. Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup turun 1,15 persen ke area 24.961,95.
Sementara Nikkei Jepang terkoreksi lebih dalam sebesar 1,31 persen ke posisi 66.588,12. Pelemahan juga terjadi pada indeks Shanghai Composite China yang turun 0,74 persen ke level 4.027,74.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa, mengatakan koreksi IHSG dipicu oleh meningkatnya persepsi risiko investor terhadap pasar keuangan Indonesia. Kondisi tersebut membuat tekanan jual di pasar domestik lebih besar dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya di kawasan.
“Menurut saya, koreksi IHSG saat ini yang paling menonjol adalah meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar Indonesia. Tekanan ini membuat IHSG terkoreksi lebih dalam dibanding banyak pasar regional,” ujar Reydi saat dihubungi Kompas.com, Jumat malam.
Baca juga: IHSG Anjlok 4,20 Persen, Asing Lepas Saham Rp 3,7 Triliun
Meski demikian, pelemahan yang terjadi saat ini dipastikan belum mencerminkan adanya krisis fundamental ekonomi Indonesia. Sejumlah indikator ekonomi masih menunjukkan kondisi yang relatif terjaga.
Pertumbuhan ekonomi nasional masih berada pada level yang cukup baik, sementara sektor perbankan juga tetap menunjukkan fundamental yang solid.
“Menurut saya, pelemahan saat ini belum mencerminkan krisis fundamental ekonomi Indonesia. Pertumbuhan ekonomi masih relatif baik dan sektor perbankan tetap solid. Namun, yang sedang diuji adalah tingkat kepercayaan investor terhadap arah kebijakan dan daya saing pasar modal Indonesia,” paparnya.
Baginya, terdapat tiga faktor utama yang menekan pergerakan IHSG, yakni pelemahan nilai tukar rupiah, arus keluar modal asing (capital outflow), dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan.
Pada perdagangan akhir pekan ini tercatat investor asing membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp 3,719 triliun. Tekanan jual terutama menyasar saham-saham berkapitalisasi besar yang menjadi penopang IHSG.
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi emiten dengan nilai jual bersih asing terbesar, mencapai Rp 1,137 triliun. Di posisi berikutnya, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat net sell senilai Rp 1,101 triliun.
Investor asing juga melakukan aksi jual pada saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp 236 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 170 miliar, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 111 miliar.
Jika dihitung selama 12 bulan terakhir, arus keluar investor asing menyentuh Rp 78 triliun.
Tak hanya itu, kurs rupiah juga tertekan sekitar 8 persen terhadap dollar Amerika Serikat (AS) secara year-to-date (Ytd), yang semakin mempertegas persepsi risiko di kalangan investor institusional global.
Sedangkan, ketidakpastian kebijakan pemerintah terkait kekhawatiran defisit kebijakan fiskal imbas pelaksanaan program prioritas, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes),
“Faktor yang paling dominan menekan IHSG adalah kombinasi pelemahan rupiah, capital outflow asing, serta meningkatnya ketidakpastian kebijakan. Ketiga faktor tersebut saling memperkuat dan memicu aksi jual di pasar saham,” tukas dia.
Ketiga faktor tersebut, lanjut dia, saling memperkuat satu sama lain dan pada akhirnya memicu aksi jual yang semakin besar di pasar saham.
Ia menegaskan anjloknya IHSG memang menunjukkan kepercayaan investor sedang mengalami pelemahan. Namun, hal tersebut belum berarti investor kehilangan kepercayaan sepenuhnya terhadap prospek Indonesia.
“Investor saat ini cenderung mengambil sikap wait and see sambil menunggu kepastian arah kebijakan dan perbaikan sentimen pasar,” lanjut Reydi.
Selain faktor domestik, pasar juga dibayangi oleh isu potensi penurunan status Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market. Meskipun belum menjadi keputusan final, isu tersebut dinilai memberikan tekanan psikologis yang cukup besar terhadap pasar.
Reydi memandang isu itu penting karena berkaitan langsung dengan aliran dana investasi global, serta persepsi investor internasional terhadap kualitas pasar modal Indonesia.
Ia menyarankan pemerintah dan regulator perlu mengambil langkah yang lebih kuat dan lebih cepat untuk memulihkan kepercayaan pasar. Meskipun berbagai respons telah dilakukan, pasar masih menunggu kebijakan yang mampu memberikan keyakinan kepada investor.
Fokus utama yang perlu dilakukan adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, meningkatkan likuiditas pasar, memperkuat perlindungan investor, serta memastikan konsistensi dan kepastian regulasi.
“Menurut saya, respon pemerintah dan regulator sudah ada, tetapi pasar saat ini membutuhkan langkah yang lebih kuat dan lebih cepat untuk memulihkan kepercayaan. Fokus utama adalah menjaga stabilitas rupiah, meningkatkan likuiditas pasar,
memperkuat perlindungan investor, serta memastikan konsistensi dan kepastian regulasi agar arus modal asing kembali masuk ke pasar Indonesia,” ungkap dia.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #ihsg #ambles #lebih #dalam #dari #bursa #asia #biang #keroknya