Produksi OPEC+ Naik Empat Kali Beruntun, Tetapi Pasokan Minyak Dunia Tetap Ketat
Bendera OPEC, organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi(opec.org)
09:12
8 Juni 2026

Produksi OPEC+ Naik Empat Kali Beruntun, Tetapi Pasokan Minyak Dunia Tetap Ketat

– Kelompok negara produsen minyak OPEC+ kembali menyepakati kenaikan target produksi minyak pada Minggu (7/6/2026).

Keputusan ini menjadi kenaikan keempat secara berturut-turut dalam empat bulan terakhir, melanjutkan langkah organisasi tersebut untuk secara bertahap mengembalikan pasokan yang sebelumnya dipangkas.

Namun, di tengah keputusan tersebut, pasar minyak dunia masih menghadapi situasi yang tidak biasa.

Baca juga: Pangkas Biaya Pengeboran, PHE ONWJ Catat Produksi Minyak 1.321 BOPD di Perairan Jabar

Ilustrasi produksi minyak.FREEPIK/ATLASCOMPANY Ilustrasi produksi minyak.

Meski target produksi terus dinaikkan, pasokan minyak global tetap berada dalam kondisi ketat akibat terganggunya arus distribusi minyak melalui Selat Hormuz yang dipicu konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Kondisi tersebut membuat pasar energi dunia menghadapi paradoks. Di satu sisi, OPEC+ berupaya menambah pasokan melalui kenaikan kuota produksi.

Di sisi lain, gangguan distribusi membuat tambahan produksi tersebut belum sepenuhnya dapat dirasakan pasar.

OPEC+ kembali tambah target produksi minyak

Dikutip dari laman resmi OPEC, dalam pertemuan yang digelar pada Minggu, tujuh anggota inti OPEC+ menyetujui kenaikan target produksi sebesar 188.000 barel per hari (bph) mulai Juli 2026.

Baca juga: OPEC: Produksi Minyak Timur Tengah Anjlok 23-61 Persen, Butuh Berbulan-bulan untuk Pulih

Keputusan tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi OPEC. Besaran kenaikan ini sama dengan kenaikan yang diberlakukan pada Juni lalu.

Sebelumnya, kelompok yang terdiri atas negara-negara anggota OPEC dan produsen sekutunya, termasuk Rusia, telah meningkatkan kuota produksi sejak April 2026.

Logo OPECwikimedia commons Logo OPEC

Secara keseluruhan, tujuh anggota inti OPEC+ telah menaikkan target produksi hampir 600.000 bph selama periode April hingga Juni 2026.

Kenaikan pada Juli melanjutkan upaya kelompok tersebut untuk secara bertahap membatalkan kebijakan pemangkasan produksi yang disepakati pada 2023.

Baca juga: IEA: Gangguan Pasokan Tekan Produksi Minyak Global Tahun Ini

Dalam pernyataan resminya, OPEC menyebut keputusan tersebut diambil setelah meninjau kondisi pasar global dan prospek ekonomi dunia yang dinilai masih mendukung kebutuhan pasokan minyak tambahan.

Tujuh negara yang terlibat dalam keputusan kenaikan produksi tersebut adalah Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman.

Produksi aktual justru menurun

Meski target produksi terus meningkat, kondisi di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda.

Menurut data OPEC yang dikutip CNBC, produksi aktual kelompok tersebut justru mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir akibat terganggunya ekspor minyak dari negara-negara Teluk.

Baca juga: Pertamina EP Target Produksi Minyak 30.305 BOPD di 2026

Produksi minyak OPEC+ tercatat rata-rata sebesar 33,19 juta bph pada April 2026. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan produksi pada Februari yang mencapai 42,77 juta bph.

Penurunan ini terjadi karena perang antara AS dan Iran telah mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Gangguan tersebut membuat sejumlah anggota utama OPEC+, termasuk Arab Saudi, tidak mampu memasok kebutuhan pelanggan secara penuh sejak akhir Februari 2026.

Situasi ini menciptakan apa yang disebut sebagai krisis pasokan terbesar yang pernah terjadi di pasar minyak global.

Baca juga: OPEC+ Naikkan Produksi Minyak saat Risiko Gangguan Selat Hormuz Meningkat

Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GOLDEN DAYZ Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah.

Selain dampak konflik geopolitik, OPEC+ juga menghadapi tantangan internal setelah Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari OPEC setelah hampir 60 tahun menjadi anggota.

Kepergian Uni Emirat Arab dari OPEC menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi perhitungan kuota produksi kelompok tersebut.

Karena keluarnya negara tersebut mulai 1 Mei 2026, kenaikan target produksi Juni dan Juli disesuaikan menjadi 188.000 bph dari sebelumnya 206.000 bph yang diterapkan pada April dan Mei.

Tambahan produksi belum menjawab kekhawatiran pasar

Meski OPEC+ berupaya meningkatkan produksi, sejumlah analis menilai tambahan kuota tersebut belum cukup untuk mengubah kondisi pasar selama gangguan distribusi minyak masih berlangsung.

Baca juga: Sumur Sulit Jadi Andalan, Produksi Minyak Mahakam Naik di Awal 2026

Jorge Leon, analis Rystad Energy sekaligus mantan pejabat OPEC, mengatakan bahwa dampak kenaikan produksi OPEC+ akan sangat terbatas selama Selat Hormuz masih belum berfungsi normal.

“Peningkatan produksi OPEC+ tidak berarti banyak selama Selat Hormuz tetap tertutup,” kata Leon, dikutip dari CNBC.

Menurut dia, hambatan utama saat ini bukan terletak pada kemampuan negara-negara produsen menghasilkan minyak, melainkan pada kemampuan menyalurkan minyak tersebut ke pasar internasional.

Leon juga mengingatkan bahwa kondisi pasar dapat berubah secara cepat apabila jalur distribusi kembali dibuka.

Baca juga: Pipa Bocor di Sumatera, RI Kehilangan Potensi Produksi Minyak 2 Juta Barrel

“Ketika Selat Hormuz dibuka kembali, pasar dapat dengan cepat beralih dari kekhawatiran akan kekurangan menjadi kekhawatiran akan kelebihan pasokan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa sensitifnya pasar minyak terhadap perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Selama jalur distribusi utama masih terganggu, pasar cenderung lebih fokus pada risiko kekurangan pasokan dibandingkan tambahan produksi yang diumumkan OPEC+.

Namun apabila hambatan distribusi berakhir, pasar berpotensi beralih menghadapi risiko kelebihan pasokan karena produksi yang telah meningkat secara bertahap selama beberapa bulan terakhir.

Ilustrasi harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.

Baca juga: OPEC+ Pertahankan Produksi Minyak Usai Penangkapan Maduro

Harga minyak dunia masih bertahan tinggi

Ketidakpastian pasokan membuat harga minyak dunia masih berada pada level yang relatif tinggi dibandingkan sebelum konflik berlangsung.

Pada Jumat (5/6/2026), harga minyak memang mengalami penurunan karena pelaku pasar mulai meyakini kemungkinan terjadinya eskalasi baru antara AS dan Iran semakin kecil.

Meski demikian, harga minyak masih jauh di atas posisi sebelum perang pecah.

Harga minyak mentah Brent ditutup pada level 93,09 dollar AS per barrel, turun 1,94 dollar AS atau 2,04 persen.

Baca juga: Usai Penangkapan Maduro, Analis Prediksi Produksi Minyak Venezuela Naik

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada level 90,54 dollar AS per barrel setelah turun 2,50 dollar AS atau 2,69 persen.

Pada Senin pukul 09.00 WIB, harga minyak mentah Brent kembali naik dan berada di level 95,91 dollar AS per barrel. Adapun harga minyak mentah WTI berada di level 93,32 dollar AS per barrel.

Sebagai perbandingan, harga minyak dunia berada di kisaran 72 dollar AS per barrel sebelum konflik antara Amerika Serikat dan Iran dimulai.

Perbedaan harga tersebut menunjukkan bahwa pasar masih memberikan premi risiko yang cukup besar terhadap potensi gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.

Baca juga: AS Serang Venezuela, Produksi Minyak Tetap Normal di Tengah Gejolak

OPEC+ hampir menuntaskan pengembalian pemangkasan produksi

Keputusan menaikkan target produksi juga menjadi bagian dari strategi OPEC+ untuk mengembalikan produksi yang sebelumnya dipangkas.

Pada 2023, kelompok tersebut menyepakati pengurangan produksi sebesar 1,65 juta barel per hari sebagai upaya menjaga keseimbangan pasar.

Kini, OPEC+ secara bertahap mulai membatalkan kebijakan tersebut.

Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.SHUTTERSTOCK/DED PIXTO Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.

Berdasarkan perhitungan Reuters, setelah kenaikan produksi Juli diberlakukan, tujuh negara inti OPEC+ masih memiliki sekitar 567.000 bph dari pemangkasan produksi awal yang belum dikembalikan ke pasar.

Baca juga: Proyek Chemical EOR Minas Diresmikan, Dongkrak Produksi Minyak Nasional

Apabila kelompok tersebut mempertahankan pola kenaikan sekitar 188.000 bph pada Agustus dan September, maka seluruh pemangkasan produksi yang disepakati pada 2023 berpotensi selesai dikembalikan pada akhir September 2026.

Artinya, OPEC+ semakin dekat dengan fase baru setelah lebih dari tiga tahun menjalankan berbagai kebijakan pembatasan produksi untuk menopang harga minyak dunia.

Kebijakan OPEC+ secara keseluruhan tidak berubah

Selain pertemuan tujuh anggota inti, OPEC+ juga menggelar pertemuan terpisah yang melibatkan seluruh negara anggota organisasi tersebut.

Dalam pertemuan itu, para menteri energi tidak melakukan perubahan terhadap kebijakan produksi kelompok yang berlaku hingga akhir 2026.

Baca juga: Bahlil: Tiap Malam Saya Baca Doa Lifting Demi Kejar Target Produksi Minyak

Keputusan tersebut menunjukkan bahwa OPEC+ masih mempertahankan kerangka kebijakan produksi jangka menengah yang telah disepakati sebelumnya.

Di saat yang sama, organisasi tersebut juga melanjutkan proses peninjauan kapasitas produksi minyak masing-masing negara anggota.

Kajian tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan baseline produksi untuk tahun 2027, yang nantinya digunakan sebagai acuan penetapan kuota produksi setiap negara.

Dalam pernyataannya, OPEC+ menegaskan pentingnya penyelesaian proses penilaian kapasitas produksi tersebut.

Baca juga: Genjot Produksi Minyak, Bahlil: Tiap Malam Saya Baca “Doa Lifting”

Hasil kajian akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah kebijakan pasokan minyak kelompok itu setelah 2026.

Sementara proses tersebut berlangsung, pasar minyak global masih akan mencermati dua faktor utama yang memengaruhi keseimbangan pasokan, yakni kemampuan OPEC+ mengembalikan produksi yang sempat dipangkas dan perkembangan situasi geopolitik yang memengaruhi arus distribusi minyak dunia.

Tag:  #produksi #opec #naik #empat #kali #beruntun #tetapi #pasokan #minyak #dunia #tetap #ketat

KOMENTAR