Dollar AS Menguat, Mentan Sebut TBS Sawit Harusnya Naik 10 Persen
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat ditemui di kediamannya, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).(KOMPAS.com/Syakirun Ni'am)
15:36
8 Juni 2026

Dollar AS Menguat, Mentan Sebut TBS Sawit Harusnya Naik 10 Persen

- Menteri Pertanian Andin Amran Sulaiman, menyebut harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani seharusnya naik karena nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah menguat.

Amran mengatakan, harga CPO di pasar dunia naik dan nilai tukar dollar menguat 10 hingga 10 persen sejak 20 Mei lalu.

“Nilai dollar dengan rupiah itu selisih kenaikannya 10 persen. Jadi minimal sama dengan seperti semula,” kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Senin (8/6/2026).

Baca juga: TBS Anjlok Saat CPO Dunia Tinggi, Amran: Anomali!

Adapun harga TBS dan CPO domestik turun setelah pemerintah mengumumkan pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai eksportir tunggal produk sawit pada 20 Mei lalu.

Saat itu, Amran sedang menjalankan ibadah haji.

Setelah selesai cuti dan kembali bekerja, ia langsung menggelar rapat koordinasi pengendalian TBS dan CPO di kantornya.

Rapat itu dihadiri asosiasi petani, perusahaan refinery, Gabungan Asosiasi Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dan perwakilan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) sejumlah Polda.

Dalam rapat itu, Amran memaparkan anomali penurunan harga TBS dan CPO dalam negeri dibandingkan harga CPO di pasar global dan kondisi nilai tukar AS terhadap rupiah.

Berdasarkan data yang pihaknya himpun harga CPO dunia pada Mei 2026 naik 47,01 persen dibandingkan April 2024.

Namun, harga TBS nasional hanya naik 29 hingga 32 persen.

Sementara, nilai tukar dollar AS terhadap rupiah naik 10,83 persen atau meningkat Rp 1.763.

Namun, TBS lokal hanya naik Rp 665 hingga Rp 783 per kilogram.

Namun, Kementan juga mendapati harga TBS Perkebunan 20 persen lebih rendah dari Penetapan Gubernur.

“Ini (nilai tukar) dollar untuk Indonesia 10 persen. Nilai rupiahnya tertekan, tapi (harga TBS) tidak naik,” ujar Amran.

Pascapengumuman pembentukan PT DSI, harga TBS di berbagai daerah mengalami penurunan dengan jumlah berbeda-beda namun di bawah acuan provinsi.

Padahal, sejak 20 Mei hingga 8 Juni nilai tukar dollar AS terhadap rupiah terus menguat hingga tembus Rp 18.000 per dollar AS.

Harga CPO di pasar global juga mengalami kenaikan.

Berdasarkan perhitungan-perhitungan tersebut, menurut Amran tidak ada alasan TBS dibeli dengan harga murah dari petani.

“Bahkan harusnya naik 10 persen dari harga sebelumnya karena ada selisih nilai dollar sekarang Rp 18.000,” tutur Amran.

Baca juga: Rupiah Makin Terpuruk, Dollar AS Tembus Rp 18.200, Ini Dampaknya

Tag:  #dollar #menguat #mentan #sebut #sawit #harusnya #naik #persen

KOMENTAR