Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026: Konsumsi Rokok Masih Tinggi, Edukasi Perlu Diperkuat
Konsumsi rokok di Indonesia masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar.
Bertepatan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diperingati setiap 31 Mei, Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) kembali mengingatkan tingginya angka perokok serta dampak kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkannya.
Dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Minggu (31/5/2026), Komnas PT mengajak media massa untuk ikut berpartisipasi dalam peringatan HTTS 2026 yang mengusung tema global “Unmasking the Appeal – Countering Nicotine and Tobacco Addiction” atau mengungkap daya tarik semu dan melawan kecanduan nikotin serta tembakau.
Komnas PT menilai media memiliki peran penting sebagai sumber informasi yang dipercaya masyarakat dalam mendukung upaya peningkatan kesehatan publik.
Karena itu, mereka mengimbau media untuk tidak menayangkan iklan, promosi, maupun sponsor produk tembakau dan rokok elektronik selama peringatan HTTS. Selain itu, media juga didorong memperbanyak konten edukasi mengenai bahaya rokok konvensional maupun rokok elektronik.
Baca juga: Studi Ungkap Makanan Ultra-Proses Lebih Mirip Rokok daripada Makanan Sehat
Jumlah perokok dewasa terus meningkat
Komnas PT mengungkapkan bahwa prevalensi merokok di Indonesia masih tergolong tinggi dibanding banyak negara lain.
Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia 2021 yang dirilis kembali oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan pada 2024, sebanyak 34,5 persen penduduk dewasa Indonesia atau sekitar 70,2 juta orang menggunakan produk tembakau.
Dalam kurun sekitar satu dekade, jumlah perokok dewasa bahkan bertambah sekitar 8,8 juta orang.
Tidak hanya itu, penggunaan rokok elektronik juga meningkat tajam. Jika pada 2011 prevalensinya tercatat 0,3 persen, angka tersebut naik menjadi 3 persen pada 2021 atau meningkat sekitar 10 kali lipat.
Baca juga: Masyarakat Sipil Tolak Rencana Menkeu Purbaya Soal Rokok Murah Baru, Ada Alasan Kesehatan
Perokok anak masih menjadi perhatian
Ilustrasi rokok, Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026 dimanfaatkan untuk mendorong edukasi bahaya rokok dan mengurangi promosi produk tembakau.
Masalah lain yang masih menjadi sorotan adalah tingginya angka perokok usia anak dan remaja.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi merokok pada kelompok usia 10 hingga 18 tahun mencapai 7,4 persen.
Meski secara persentase sedikit menurun dibandingkan Riskesdas 2018, jumlah total perokok anak masih meningkat seiring pertumbuhan populasi dan belum mencapai target nasional sebesar 5,4 persen.
Komnas PT juga menyebut Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari sedikit negara yang masih mengalami peningkatan jumlah perokok dalam dekade mendatang ketika banyak negara lain justru menunjukkan tren penurunan.
Baca juga: Bahaya Asap Rokok pada Ibu Hamil, Tingkatkan Risiko Preeklampsia dan Kelahiran Prematur
Beban kesehatan dan ekonomi terus membesar
Selain memengaruhi kesehatan individu, konsumsi tembakau juga memberikan dampak besar terhadap sistem kesehatan dan perekonomian.
Data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa tembakau naik dari faktor risiko utama penyebab Disability Adjusted Life Years (DALYs) peringkat kelima pada 1990 menjadi peringkat kedua pada 2021.
Penyakit yang paling sering dikaitkan dengan konsumsi tembakau antara lain penyakit jantung iskemik, stroke, kanker paru, kanker payudara, dan diabetes.
Sementara itu, Tobacco Atlas 2025 memperkirakan sekitar 295.000 kematian setiap tahun di Indonesia berkaitan dengan konsumsi tembakau.
Kerugian ekonomi akibat penyakit terkait rokok juga diperkirakan mencapai lebih dari Rp 288 triliun per tahun.
Menurut Komnas PT, kondisi ini menjadi ancaman serius terutama bagi anak-anak, keluarga miskin, dan kelompok rentan lainnya.
Keluarga dengan anggota perokok disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting pada anak, sementara paparan nikotin dapat mengganggu perkembangan bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri pada remaja.
Melalui momentum Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2026, Komnas PT berharap semakin banyak pihak terlibat dalam upaya menekan konsumsi rokok dan memperkuat edukasi kesehatan agar masyarakat dapat memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.
Tag: #hari #tanpa #tembakau #sedunia #2026 #konsumsi #rokok #masih #tinggi #edukasi #perlu #diperkuat