Cerita Dubes RI Soal Lebaran di Turkiye: Tak Ada Takbiran Keliling, tapi Penuh Tradisi Manis
Merayakan Hari Raya Idul Fitri di negeri orang tentu memberikan pengalaman dan kesan yang berbeda dibandingkan di tanah air.
Hal ini dirasakan oleh Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Turkiye, Achmad Rizal Purnama.
Dalam wawancara eksklusif bersama Kompas.com, Rizal membagikan potret suasana Lebaran 2026 di Turkiye yang memiliki karakteristik unik, mulai dari tradisi masyarakat lokal hingga kerinduan akan kuliner khas Indonesia.
Sebagai informasi, Turkiye menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 H pada Jumat (20/3/2026).
Baca juga: 100 Ucapan Hari Raya Idul Fitri 2026 yang Penuh Makna dalam Bahasa Indonesia dan Inggris
Tradisi "Seker Bayram?" atau Hari Raya Permen
Di Turkiye, Idul Fitri sering disebut sebagai Seker Bayram? atau Festival Gula/Permen. Rizal menjelaskan bahwa sebutan ini merujuk pada tradisi masyarakat setempat yang saling memberikan manisan atau cokelat saat bertamu.
"Anak-anak di sini biasanya berkeliling ke rumah tetangga untuk mengucapkan selamat Lebaran, dan mereka akan diberikan permen atau manisan. Ini adalah tradisi yang sangat kental di Turkiye," ujar Rizal dalam program Obrolan Newsroom Kompas.com, Jumat (20/3/2026).
Suasana yang lebih tenang tanpa takbiran
Berbeda dengan di Indonesia yang meriah dengan suara takbir di masjid-masjid atau pawai obor sejak malam hari, suasana malam takbiran di Turkiye cenderung lebih tenang.
Rizal menyebutkan, tidak ada tradisi takbiran keliling atau suara takbir yang berkumandang sepanjang malam lewat pengeras suara luar masjid.
Masyarakat Turkiye biasanya baru melaksanakan takbir saat pagi hari menjelang shalat Idul Fitri di masjid-masjid bersejarah yang ikonik.
Baca juga: 8 Amalan Sunah Idul Fitri yang Dianjurkan, Lengkap dengan Penjelasannya
Momen silaturahmi di KBRI
Bagi para WNI yang menetap di Turkiye, KBRI Ankara menjadi pusat perayaan untuk mengobati rasa rindu pada kampung halaman.
Rizal menceritakan bahwa pihak KBRI biasanya menggelar shalat Id berjamaah yang dilanjutkan dengan acara ramah tamah.
"KBRI menjadi titik kumpul bagi mahasiswa, pekerja migran, dan seluruh masyarakat Indonesia di sini. Ini adalah momen untuk mempererat persaudaraan sesama perantau," katanya.
Tentu saja, kehadiran hidangan khas Nusantara menjadi primadona yang paling dinanti. Menu wajib seperti rendang, opor ayam, hingga sambal goreng ati tetap disajikan untuk menghadirkan suasana "Lebaran Indonesia" di tengah musim dingin atau musim semi Turkiye.
Penghormatan kepada orang tua
Salah satu kemiripan tradisi Turkiye dengan Indonesia adalah penghormatan yang tinggi kepada orang tua.
Rizal mengamati adanya tradisi mencium tangan orang yang lebih tua, yang kemudian diikuti dengan menempelkan tangan tersebut ke dahi sebagai bentuk hormat.
"Nilai-nilai kekeluargaannya sangat kuat. Meskipun ekspresinya berbeda dengan kita di Indonesia, esensi untuk saling memaafkan dan menghormati keluarga tetap sama," pungkasnya.
Baca juga: 5 Penyakit Mengintai Saat Lebaran, Dokter: Ini Tipsnya agar Tetap Sehat
Melalui pengalaman ini, Rizal berharap hubungan bilateral antara Indonesia dan Turkiye tidak hanya kuat secara politik dan ekonomi, tetapi juga semakin erat melalui pertukaran budaya dan pemahaman tradisi keagamaan yang saling melengkapi.
Tag: #cerita #dubes #soal #lebaran #turkiye #takbiran #keliling #tapi #penuh #tradisi #manis