Serangan Rahasia UEA dan Arab Saudi ke Iran Ubah Peta Konflik Timur Tengah
- Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi dilaporkan melancarkan beberapa serangan balasan terhadap Iran setelah infrastruktur mereka diserang.
Langkah ini menandai keterlibatan mendalam negara-negara Teluk dalam konflik regional sekaligus memperlihatkan transformasi geopolitik yang besar di Timur Tengah.
Sebelum perang pecah, serangan langsung terhadap Iran yang memiliki militer kuat merupakan hal yang tak terbayangkan.
Namun, detail baru menunjukkan, negara Teluk kini terlibat langsung dalam pertempuran yang mengacaukan keseimbangan kawasan.
Saat ini, UEA dan Arab Saudi berupaya membangun kembali daya jera terhadap rezim Iran. Teheran sendiri semakin enggan berkompromi dan memiliki pengaruh baru lewat kendali atas Selat Hormuz.
Baca juga: Demi Hindari Selat Hormuz, Begini Cara UEA Selamatkan Ekspor Minyaknya
Pilihan sulit untuk Teluk
Dikutip dari The Wall Street Journal, Jumat (15/5/2026), UEA terlibat sejak minggu pertama perang dan berulang kali melancarkan serangan menggunakan pesawat tempur serta drone buatan China, yang dikoordinasikan dengan Israel dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Angkatan Udara Arab Saudi juga melakukan beberapa serangan terhadap target situs peluncuran drone dan rudal Iran.
Pesawat tempur Arab Saudi dilaporkan turut menyerang target di Irak yang terkait dengan milisi bentukan Iran.
Monarki-monarki Arab sebenarnya memiliki ikatan ekonomi dan sosial yang mendalam dengan Iran, meski sudah lama memandangnya sebagai ancaman keamanan utama.
Baca juga: Bikin Tuan Rumah India Repot, Iran dan UEA Tegang di Pertemuan BRICS
Penggunaan kekuatan militer secara langsung ini menunjukkan sulitnya kembali ke status quo seperti sebelum konflik.
“Mereka semua terseret ke dalam situasi yang tidak mereka inginkan dan mereka harus membuat pilihan yang sangat sulit," kata peneliti non-residen di Arab Gulf States Institute, Anna Jacobs.
"Mereka benar-benar hanya memiliki pilihan buruk sejak AS dan Israel melancarkan perang ini,” sambungnya.
Sejauh ini, belum jelas apakah serangan Arab Saudi atau UEA menimbulkan kerusakan berarti yang dapat mengubah perilaku Iran dalam perang.
Pihak Pentagon maupun Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington juga menolak memberikan komentar mengenai operasi militer tersebut.
Baca juga: Menlu Iran Tidak Percaya AS, Hanya Mau Berunding jika Washington Serius
Peralihan postur pertahanan negara Teluk
Perang ini dipandang sebagai momen penting bagi militer di kawasan Teluk yang selama ini dikenal memiliki hubungan pertahanan erat dengan AS dan telah berinvestasi puluhan miliar dollar untuk peralatan militer.
“Perang ini merupakan peristiwa yang mengubah banyak hal,” jelas mantan wakil asisten menteri pertahanan AS untuk Timur Tengah, Dana Stroul.
"Saya pikir ini adalah momen penting dalam bagaimana angkatan udara negara-negara Teluk beralih dari menggunakannya secara defensif ke ofensif,” tambahnya.
Baca juga: Iran Sebut AS Kini Terbuka untuk Negosiasi, Beda dengan Sebelumnya
Hubungan yang sulit ini sebenarnya sudah mengakar lama. Setelah Musim Semi Arab 2011, negara Teluk mendukung pemberontak di Suriah, sementara Iran membantu rezim Bashar al-Assad.
Kedua kubu juga mendukung faksi yang bersaing di Lebanon dan Yaman.
Menghadapi risiko kekerasan, negara-negara Teluk sempat memperbaiki hubungan dengan Iran, termasuk pemulihan hubungan diplomatik antara Riyadh dan Teheran pada 2023.
Namun, situasi memanas ketika serangan AS-Israel dimulai pada akhir Februari dan Iran membalas dengan meluncurkan rudal serta drone ke berbagai infrastruktur penting di Teluk.
Baca juga: Memindai Damai AS-Iran Pasca-Pertemuan Trump dan Xi Jinping
Perdalam perpecahan Arab Saudi-UEA
Gambar yang diambil pada 16 November 2015 memperlihatkan jet tempur F-15 milik Arab Saudi mendarat di Pangkalan Khamis Mushayt, sekitar 880 kilometer dari Riyadh.
Serangan Iran terhadap infrastruktur nasional menjadi garis merah bagi UEA dan Arab Saudi karena mengancam perekonomian mereka.
Kondisi ini mendorong kedua negara bertindak sendiri di luar payung keamanan Amerika Serikat.
“Hal yang paling penting dari serangan-serangan yang dilaporkan ini adalah bahwa kedua negara merasa perlindungan AS tidak cuku. Mereka perlu bertindak secara independen untuk membangun kembali daya jera terhadap Iran,” ujar peneliti senior di Arab Gulf States Institute, Kristin Smith Diwan.
UEA mengambil pendekatan paling agresif, termasuk menyerang kilang minyak sebagai balasan atas aksi Iran.
Baca juga: Kebuntuan Diplomatik, Ironi Perdamaian, dan Hukum Abadi Perang
“Saya sangat bangga bahwa UEA tidak hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Tampaknya UEA memiliki cukup kepercayaan diri,” tutur ilmuwan politik Emirat, Abdulkhaleq Abdulla.
“Kita bukan sasaran empuk. Kita bukan target yang mudah,” lanjutnya.
Meski demikian, sikap agresif ini berisiko membuat UEA menjadi target konflik yang berkepanjangan.
Yasmine Farouk dari International Crisis Group menilai, negara-negara Teluk terjebak karena sulit membela kepentingan sendiri tanpa adanya ancaman AS yang membayangi Iran.
Alih-alih bersatu menghadapi Iran, perang ini justru memperdalam perpecahan antara Arab Saudi dan UEA.
Baca juga: Israel dan Lebanon Sepakat Perpanjang Gencatan Senjata 45 Hari
Sebab, Arab Saudi lebih memilih jalur diplomatik demi mengamankan fasilitas energinya di tengah tekanan anggaran domestik.
Sementara itu, UEA memilih memperkuat hubungan dengan AS dan Israel serta mengambil langkah keluar dari kartel minyak OPEC.
“Tidak ada jalan untuk kembali,” kata Matthew Hedges, seorang akademisi dan penulis buku tentang sistem politik UEA.
“Anda harus semakin mendukung Trump, Israel, dan kepentingan Barat, dan itulah yang telah dilakukan Emirat, sementara dari waktu ke waktu Arab Saudi semakin melakukan hal sebaliknya,” lanjutnya.
Tag: #serangan #rahasia #arab #saudi #iran #ubah #peta #konflik #timur #tengah