AS Kini Cabut Sanksi Minyak Iran, Perang Jadi ''Senjata Makan Tuan''?
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent (AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)
08:06
23 Maret 2026

AS Kini Cabut Sanksi Minyak Iran, Perang Jadi ''Senjata Makan Tuan''?

- Pemerintahan Donald Trump telah mencabut sanksi atas pembelian minyak Iran di laut selama 30 hari, terhitung sejak Jumat (20/3/2026).

Kebijakan ini diambil sebagai upaya darurat untuk meredam lonjakan harga minyak dunia akibat perang AS-Israel melawan Iran.

Dikutip dari The Guardian, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengatakan, kebijakan tersebut akan membawa sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global dan membantu mengurangi tekanan pada pasokan energi.

Langkah ini mencerminkan kekhawatiran Gedung Putih bahwa kenaikan harga minyak yang melonjak sekitar 50 persen akan merugikan bisnis dan konsumen AS menjelang pemilihan paruh waktu November.

Baca juga: Iran Balik Ancam AS, Bakal Ratakan Seluruh Pembangkit Listrik Negara Teluk

AS khawatir untungkan Iran

Namun, usulan Bessent sebelumnya mengenai pengecualian tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa hal itu dapat menguntungkan upaya perang Iran.

Ini adalah kali ketiga AS mencabut sanksi sementara dalam kurun waktu sekitar dua minggu.

Sebelumnya, AS telah melonggarkan sanksi terhadap minyak Rusia.

Pada Jumat, mereka mengeluarkan izin umum yang memungkinkan penjualan minyak mentah dan produk petroleum Iran yang dimuat di kapal mulai hingga 19 April, menurut izin yang diunggah di laman Departemen Keuangan AS.

“Dengan membuka sementara pasokan yang ada ini untuk dunia, AS akan dengan cepat membawa sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global," kata Bessent dalam sebuah pernyataan di X.

"Ini akan memperluas jumlah energi di seluruh dunia dan membantu mengurangi tekanan sementara pada pasokan yang disebabkan oleh Iran,” sambungnya.

Menurutnya, AS akan menggunakan minyak mentah Iran untuk melawan Teheran guna menekan harga seiring Operasi Epic Fury berlanjut.

Baca juga: Bos QatarEnergy Sebut Sudah Ingatkan AS Hampir Setiap Hari Sebelum Kilang LNG Terbesar Dunia Hancur

Minyak Iran berpeluang dapat diimpor ke AS?

Lisensi tersebut menyatakan, minyak Iran dapat diimpor ke AS berdasarkan pengecualian tersebut bila diperlukan untuk menyelesaikan penjualan atau pengirimannya. 

AS belum mengimpor minyak Iran secara signifikan sejak Washington memberlakukan langkah-langkah setelah revolusi 1979.

Tidak jelas apakah minyak Iran akan masuk ke negara itu sebagai akibat dari pengecualian tersebut. 

Kuba, Korea Utara, dan Krimea termasuk di antara wilayah yang dikecualikan dari lisensi tersebut.

Bessent telah mengemukakan kemungkinan pencabutan sanksi dalam sebuah wawancara dengan Fox Business pada Kamis (19/3/2026)

Ini mendorong para analis untuk menunjukkan bahwa kebijakan tersebut sebenarnya dapat menguntungkan upaya perang Iran.

Baca juga: Israel Jalani Malam yang Sulit: Gagal Cegat 2 Rudal Balistik Iran, 2 Kota Hancur

Ilustrasi kapal tanker. Ancaman saling serang antara AS dan Iran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran krisis energi global, dengan harga minyak melonjak dan pasokan terganggu Ilustrasi kapal tanker. Ancaman saling serang antara AS dan Iran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran krisis energi global, dengan harga minyak melonjak dan pasokan terganggu

“Secara halus, ini gila,” kata direktur Blackstone Compliance Services, David Tannenbaum, kepada BBC

“Pada dasarnya, kita membiarkan Iran menjual minyak, yang kemudian dapat digunakan untuk mendanai upaya perang,” sambungnya.

Bessent membantah analisis tersebut dalam pernyataannya pada Jumat. 

“Otorisasi sementara dan jangka pendek ini secara ketat terbatas pada minyak yang sudah dalam perjalanan dan tidak mengizinkan pembelian atau produksi baru,” tulisnya.

“Iran akan kesulitan mengakses pendapatan apa pun yang dihasilkan dan AS akan terus mempertahankan tekanan maksimum terhadap Iran dan kemampuannya untuk mengakses sistem keuangan internasional,” lanjutnya.

Infrastruktur energi vital di Iran dan negara-negara Teluk tetangga telah diserang, dan Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur bagi sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia.

Baca juga: Iran Ancam Serang Tempat Wisata Musuh, Perang Bisa Meluas ke Luar Timteng

Disebut tak memberi dampak berarti

Para analis energi, termasuk Brent Erickson, seorang direktur utama di Obsidian Risk Advisors, mengatakan bahwa upaya pemerintah untuk mengendalikan harga tidak akan memberikan dampak yang berarti sampai selat tersebut dibuka untuk kapal.

“Pelonggaran sanksi menimbulkan kekhawatiran tentang menipisnya instrumen ekonomi Washington dengan cepat untuk meredam harga minyak,” jelas dia.

“Jika kita telah mencapai titik melonggarkan sanksi terhadap negara yang sedang kita perangi, kita benar-benar kehabisan pilihan,” sambungnya.

Langkah ini diperkirakan akan menguntungkan China, pembeli utama minyak Iran. 

Menteri Energi AS, Chris Wright, mengatakan pasokan dapat mencapai Asia dalam waktu tiga atau empat hari dan memasuki pasar setelah dimurnikan selama satu setengah bulan ke depan.

Tag:  #kini #cabut #sanksi #minyak #iran #perang #jadi #senjata #makan #tuan

KOMENTAR