Napak Tilas Kerusuhan Mei 1998: Saat Dolar Meroket Bersambung Dengan Kegagalan Panen
massa membakar kendaraan di Jl. Matraman, Jakarta, tanggal 14 Mei 1998(Rully Kesuma/Aliansi Jurnalis Independen)
17:26
13 Mei 2026

Napak Tilas Kerusuhan Mei 1998: Saat Dolar Meroket Bersambung Dengan Kegagalan Panen

Kerusuhan Mei 1998 yang menjadi titik balik orde baru menuju era reformasi tak berdiri sendiri.

Terdapat sejumlah peristiwa yang menjadi pemantik berkobarnya kerusuhan Mei 1998.

Dilansir dari kompaspedia.kompas.id, rangkaian kerusuhan ini dilatarbelakangi pertumbuhan ekonomi pada 1997 yang awalnya ditargetkan 7,1 persen gagal tercapai.

Tahun itu ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,7 persen dan menjadi alarm runtuhnya fondasi ekonomi nasional yang sebelumnya terlihat baik-baik saja.

Baca juga: Menolak Lupa, Kerusuhan Mei 1998 dan Bayang-bayangnya

Situasi ini semakin sulit akibat kemarau panjang El Nino yang menyebabkan gagal panen di sejumlah lumbung pangan.

Harga kebutuhan pokok seperti beras, cabai, dan bawang melonjak drastis. Hal ini memaksa secara langsung masyarakat merogok kantong semakin dalam. Krisis mulai terasa.

Catatan arsip kompas, sejak kerusuhan 27 Juli 1996 atau peristiwa Kudatuli, aksi demonstrasi terus berlanjut.

Ada kerusuhan Situbondo pada 10 Oktober 1996, kerusuhan Tasikmalaya 26 Desember 1996, kerusuhan Sanggau Ledo pada 3 Januari 1997.

Baca juga: Sejarah Tragedi Trisakti 12 Mei 1998, Peristiwa Berdarah Jelang Runtuhnya Orde Baru

Lalu ada kerusuhan Tanah Abang pada Januari 1997, kerusuhan Rengasdengklok pada Januari 1997, kerusuhan Pekalongan Maret 1997, dan kerusuhan Wonosobo-Banjarnegara pada April 1997.

Dolar Meroket Pertumbuhan Ekonomi Minus

Memasuki 1998, kondisi ekonomi terjun bebas. Pertumbuhan minus 13,1 persen, laju inflasi gila-gilaan, memecahkan rekor tertinggi 11,05 persen pada 1997.

Pada awal 1998, inflasi sudah menyentuh 77,6 persen, uang tak memiliki arti lebih. Dolar mengamuk menyentuh Rp 17.000 per dolar AS pada Januari 1998.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Meluas, Tak Hanya Terhadap Dolar AS

Dampaknya berantai, banyak perusahaan kolaps, proyek strategis batal, bank dilikuidasi, jutaan orang kena pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Di tengah kekacauan ekonomi, kepercayaan publik terhadap pemerintahan Orde Baru yang otoriter pun runtuh," tulis Litbang Kompas.

Presiden Soeharto, yang telah memimpin selama 32 tahun, dinilai menjadi simbol dari suburnya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Keinginan untuk perubahan politik kian membesar.

Tuntutan masyarakat terangkum dalam enam agenda reformasi setelah Soeharto mundur.

Baca juga: BI Sebut Rupiah Tembus Rp 17.500 Dipicu Tekanan Global, Bukan Domestik

Pertama, mengadili Soeharto dan kroni-kroninya, amendemen UUD 1945 untuk memperkuat demokrasi, menghapus dwifungsi ABRI.

"Mendorong otonomi daerah seluas-luasnya, menegakkan supremasi hukum, dan menciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN," tulis Litbang Kompas.

Tag:  #napak #tilas #kerusuhan #1998 #saat #dolar #meroket #bersambung #dengan #kegagalan #panen

KOMENTAR