Malaysia Tak Cabut Subsidi BBM di Tengah Perang Iran, tapi Batasi Kuota
KUALA LUMPUR, KOMPAS.COM - Pemerintah Malaysia sedang meninjau ulang kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) dengan menyesuaikan kuota pembelian RON95.
Melalui program Budi95, kuota BBM yang sebelumnya ditetapkan 300 liter per orang per bulan direncanakan dipangkas menjadi 200 liter.
Kebijakan ini dipertimbangkan setelah harga BBM non-subsidi kembali mengalami lonjakan di tengah ketidakpastian akibat konflik Iran.
Baca juga: Cadangan Minyak Sisa 45 Hari, Filipina Buru-buru Impor dari Rusia
Berdasarkan informasi dari sejumlah sumber, pengumuman resmi diperkirakan dilakukan dalam waktu dekat. Kebijakan baru ini akan mulai berlaku efektif pada 1 April 2026.
Harga BBM bersubsidi tetap, non-subsidi naik
Harga BBM bersubsidi tetap berada di level 1,99 ringgit Malaysia (Rp 8.416) per liter. Namun, konsumen yang melebihi batas 200 liter akan dikenakan harga pasar.
Harga ini akan naik sekitar 60 sen menjadi 3,87 ringgit Malaysia (Rp 16.367) per liter untuk periode 26 Maret hingga 1 April, dari sebelumnya 3,27 ringgit Malaysia (Rp 13.829).
Secara keseluruhan, harga RON95 tanpa subsidi telah naik dua kali sejak 11 Maret, dengan total kenaikan 1,20 ringgit Malaysia (Rp 5.075) atau hampir 45 persen dari posisi awal 2,67 ringgit Malaysia (Rp 11.292).
Kenaikan harga juga terjadi pada jenis BBM lain. Harga RON97 dan diesel di Semenanjung Malaysia tercatat mengalami lonjakan selama tiga pekan berturut-turut.
Untuk RON97, harga eceran diperkirakan mencapai 5,15 ringgit Malaysia (Rp 21.780) per liter atau naik sekitar 1,90 ringgit Malaysia (Rp 8.035) atau lebih dari 58 persen sejak 11 Maret, dari sebelumnya 3,25 ringgit Malaysia (Rp 13.745).
Sementara itu, harga diesel di Semenanjung naik menjadi 5,52 ringgit Malaysia (Rp 23.345) per liter, melonjak hampir 77 persen dari harga awal 3,12 ringgit Malaysia (Rp 13.195).
Malaysia tekan subsidi negara
Pengetatan kuota ini dinilai sebagai langkah fiskal untuk menekan beban subsidi negara. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menghadapi potensi lonjakan anggaran subsidi yang signifikan.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim sebelumnya telah memperingatkan bahwa total subsidi energi bisa menembus 24 miliar ringgit Malaysia (sekitar Rp 101 triliun) pada tahun ini apabila harga minyak mentah global bertahan di atas 110 dollar AS (sekitar Rp 1,8 juta) per barrel.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia saat ini masih fluktuatif. Minyak Brent yang sempat menyentuh hampir 120 dollar AS (sekitar Rp 2 juta) per barrel pada 9 Maret, kini turun ke kisaran 94,49 dollar AS (sekitar Rp 1,5 juta).
Baca juga: Bos Minyak Dunia Ketar-ketir Krisis Energi Kian Nyata akibat Perang Iran
Meski demikian, harga tersebut masih meningkat lebih dari 33 persen dibandingkan level sebelum konflik, yakni 70,84 dollar AS (sekitar Rp 1,1 juta) pada 26 Februari.
Kapal Malaysia diizinkan melintasi Selat Hormuz
Perdana Menteri Anwar Ibrahim menyampaikan terima kasih pada Iran atas dibukanya Selat Hormuz untuk kapal tanker Malaysia.
Diketahui, Anwar Ibrahim sebelumnya telah menyampaikan bahwa kapal-kapal minyak Malaysia kini telah mendapat izin melintasi Selat Hormuz dari Iran.
Izin melintas itu diperoleh Malaysia setelah komunikasi intensif dengan sejumlah negara di kawasan Teluk.
Mengutip laporan Reuters, Anwar melakukan pembicaraan dengan Iran, Mesir, Turkiye, serta beberapa negara lain untuk membahas jalur pelayaran tersebut. Hasilnya, kapal Malaysia kini dapat melintas tanpa hambatan.
Dalam pidato yang disiarkan secara nasional, Anwar juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Iran atas keputusan tersebut, seraya menekankan pentingnya hubungan bilateral.
"Saat ini kami sedang dalam proses membebaskan kapal tanker minyak Malaysia dan para pekerja yang terlibat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan pulang," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah Malaysia terus melakukan pendekatan diplomatik guna mendorong terciptanya perdamaian di kawasan Timur Tengah. Namun, upaya tersebut diakui tidak mudah.
"Ini tidak mudah, karena Iran merasa telah berulang kali ditipu dan merasa sulit untuk menerima langkah-langkah menuju perdamaian tanpa jaminan keamanan yang jelas dan mengikat bagi negara mereka," katanya.
Di sisi lain, Malaysia memastikan tetap mempertahankan subsidi BBM. Meski begitu, pemerintah juga akan melakukan penyesuaian untuk meredam dampak gangguan pasokan energi global, termasuk melalui pengurangan kuota subsidi.
"Bagi kami sekarang, kami terpaksa mengelola situasi karena dampak blokade di Selat Hormuz, perang, dan terhentinya pasokan minyak dan gas semuanya berdampak pada kami," tutur dia.
Baca juga: Kapal Tanker Rusia Bermuatan 1 Juta Barel Minyak Dihantam Drone
Tag: #malaysia #cabut #subsidi #tengah #perang #iran #tapi #batasi #kuota