'Kiamat' Pandemi COVID-19 Bisa Terulang Jika Selat Hormuz Terus Diblokir Iran
Sebuah kapal kontainer kandas di terusan Suez.[Instagram]
07:04
24 April 2026

'Kiamat' Pandemi COVID-19 Bisa Terulang Jika Selat Hormuz Terus Diblokir Iran

Blokade Selat Hormuz oleh Iran kini memicu kekhawatiran besar terkait potensi kehancuran fondasi perdagangan dunia yang lebih dalam dibandingkan era pandemi COVID-19.

Krisis ini memaksa pelaku industri global untuk merombak total strategi operasional mereka guna menghadapi guncangan geopolitik yang terus berulang.

Dikutip dari DW, berbeda dengan COVID-19 yang melumpuhkan pusat manufaktur, konflik ini menghantam langsung jantung distribusi energi dan bahan baku mentah.

Ilustrasi virus (pixabay)Ilustrasi virus (pixabay)

Dampaknya terasa sangat akut pada sektor komoditas strategis seperti minyak bumi, gas alam, hingga bahan baku pupuk pertanian.

Ketidakpastian ini menandai berakhirnya era ketergantungan pada satu jalur transportasi laut yang sangat rentan terhadap konflik bersenjata.

Data menunjukkan bahwa dunia kehilangan sekitar 10 persen pasokan minyak dan seperlima gas alam cair hanya dalam satu bulan terakhir.

Ilustrasi lokasi Laut Merah dan Selat Hormuz (Gemini AI)Ilustrasi lokasi Laut Merah dan Selat Hormuz (Gemini AI)

Kondisi ini disebut sebagai gangguan terbesar dalam sejarah pasar energi global oleh International Energy Agency (IEA).

Pakar rantai pasok menilai situasi ini berbeda secara fundamental dengan guncangan permintaan yang terjadi pada masa pandemi sebelumnya.

"COVID memaparkan ketergantungan berlebihan pada pusat manufaktur, sementara Hormuz memaparkan ketergantungan berlebihan pada koridor transportasi dan masukan energi," kata analis rantai pasok Sebastian Janssen kepada DW.

Stabilitas harga energi yang terjaga selama pandemi kini justru menjadi titik terlemah yang mengancam inflasi global.

Transformasi Strategi Manajemen Risiko

Perusahaan kini tidak lagi melihat gangguan pasokan sebagai peristiwa tunggal, melainkan risiko sistemik yang bersifat permanen.

"COVID membuat perusahaan sampai pada titik di mana mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa hanya mengandalkan pasokan datang saat mereka membutuhkannya," ujar Lisa Anderson kepada DW.

"Perang Iran menunjukkan bahwa itu bukanlah peristiwa sekali jadi," lanjut Anderson menekankan pentingnya perubahan cara pandang risiko.

Kenaikan biaya asuransi perang yang mencapai jutaan dolar per transit telah mengerek harga barang jadi di tingkat konsumen.

Kapal-kapal tanker terpaksa melakukan perjalanan jauh memutar melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan demi keamanan kargo.

Dampak nyata dari kelangkaan energi ini diprediksi baru akan muncul sepenuhnya dalam beberapa bulan ke depan saat stok menipis.

"Dampak dari kelangkaan ini masih merambat melalui rantai pasok multitier perusahaan ... dan akan memakan waktu berbulan-bulan bagi efek penuhnya untuk muncul dan bagi rantai pasok untuk stabil setelah Selat dibuka sepenuhnya," Janssen menunjukkan.

Survei terhadap 6.000 perusahaan menunjukkan mayoritas pelaku usaha khawatir terhadap keberlanjutan produksi mereka akibat lonjakan biaya komoditas.

Fenomena reshoring atau pemindahan pabrik ke wilayah yang lebih dekat dengan konsumen kini menjadi tren utama, terutama di Eropa.

"Salah satu cara untuk menghindari titik sumbat utama adalah dengan mendekatkan manufaktur ke tempat pelanggan berada," kata Anderson kepada DW.

Perubahan Permanen Pola Dagang

Strategi produksi "just-in-time" yang mengutamakan efisiensi kini mulai digantikan oleh pendekatan "just-in-case" yang mengandalkan cadangan stok.

Indeks Volatilitas Rantai Pasok Global mencatat bahwa penumpukan stok pengamanan saat ini mencapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Banyak perusahaan mulai menerapkan skema diversifikasi dengan menambah negara mitra baru di luar China untuk meminimalisir risiko.

Negara-negara seperti Indonesia, India, dan Vietnam menjadi target utama relokasi rantai pasok di tengah ketegangan geopolitik yang memanas.

Vulnerability saat ini bukan lagi soal ketergantungan semata, melainkan tentang ketangguhan sistem yang saling terhubung secara global.

Konflik di Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz terjadi di tengah upaya dunia pulih dari disrupsi logistik pasca-pandemi dan kebijakan tarif dagang.

Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang jika terganggu akan langsung memicu krisis biaya hidup secara global akibat kenaikan harga bahan bakar dan logistik.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Tag:  #kiamat #pandemi #covid #bisa #terulang #jika #selat #hormuz #terus #diblokir #iran

KOMENTAR