Kepercayaan ke AS Goyah, Negara Teluk Khawatir Iran Kian Percaya Diri
Pekerja asing memandangi asap pekat tinggi yang mengepul dari area industri di Fujairah, Uni Emirat Arab, 3 Maret 2026. Perang Iran meluas ke negara-negara Teluk setelah Teheran menyerang pangkalan militer Amerika Serikat dan Kedutaan Besar AS di sana.(AFP/FADEL SENNA)
11:12
6 Mei 2026

Kepercayaan ke AS Goyah, Negara Teluk Khawatir Iran Kian Percaya Diri

- Sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang cenderung "berpaling muka" setelah rentetan serangan rudal dan drone menyasar Uni Emirat Arab (UEA) memicu keraguan mendalam di kalangan Negara Teluk.

UEA menuduh Iran di balik serangan ini, tetapi langsung dibantah Teheran.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari, para pemimpin Iran sering mengulang sebuah ungkapan, yang dikaitkan dengan mantan presiden Mesir Housni Mubarak. 

"Mereka yang membungkus diri dengan AS sebenarnya telanjang," bunyi ungkapan itu.

Baca juga: Usai Tuduh Iran Lakukan Serangan, Presiden UEA Langsung Ditelepon Netanyahu

Dikutip dari The Wall Street Journal, Selasa (5/5/2026), para diplomat dan analis menilai, negara-negara monarki Teluk kini mulai merasa bahwa peringatan Mubarak tersebut ada benarnya.

Serangan terbaru ini menargetkan pelabuhan ekspor minyak Uni Emirat Arab yang masih beroperasi, Fujairah, menyebabkan kebakaran dan melukai tiga orang. 

Rentetan serangan rudal balistik dan rudal jelajah juga menargetkan titik lainnya. Secara total, serangan tersebut melibatkan 15 rudal dan empat drone.

Baca juga: AS Minta Bantuan PBB untuk Buka Selat Hormuz, Sebut Iran Ancam Ekonomi Dunia

AS anggap enteng serangan itu

Trump menyebut insiden itu sebagai serangan kecil, meskipun mengganggu penerbangan dan memaksa pemerintah UEA untuk menutup sekolah selama sisa minggu itu.

Pada Selasa, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengatakan, gencatan senjata AS-Iran masih berlaku.

Beberapa jam kemudian, terjadi serangan lain, menurut kementerian pertahanan UEA.

“Iran tampaknya siap jika gencatan senjata dilanggar, dan AS tidak, jadi ini adalah gencatan senjata sepihak saat ini,” kata Mahdi Ghuloom, seorang peneliti di lembaga think tank ORF Timur Tengah di Dubai.

Baca juga: Blak-blakan, Senator AS Sebut Trump dan Netanyahu Biang Keladi Konflik Timur Tengah

UEA dan negara-negara Teluk lainnya berada dalam sasaran karena keputusan AS dan Israel untuk menyerang Iran. 

“Dari perspektif negara-negara Teluk, tampaknya AS tidak memprioritaskan keamanan mereka dan pada dasarnya mengabaikan negara-negara Teluk,” kata direktur lembaga think tank Gulf International Forum Thafer, Dania Thafer. 

“Jika AS tidak merespons, Iran akan menyimpulkan bahwa AS tidak ingin kembali berperang—dan ini memengaruhi daya jera.”

Dengan negosiasi antara Iran dan AS yang tetap buntu, tidak jelas apakah sikap menahan diri Trump akan bertahan, kata Jason Greenblatt, yang menjabat sebagai utusan.

Baca juga: Iran Tegas Membantah Telah Menyerang UEA, Sebut Tuduhan Tidak Berdasar

Kekhawatiran di antara pemerintah-pemerintah yang bersahabat di Eropa dan Asia adalah Trump mungkin akan memilih untuk mengabaikan serangan terhadap wilayah mereka sendiri oleh Rusia, China, atau Korea Utara, jika itu sesuai dengan kepentingannya.

Dalam jangka panjang, sikap ini menimbulkan pertanyaan apakah pangkalan AS di seluruh dunia merupakan aset keamanan bagi negara-negara tuan rumah atau justru menjadi beban.

“Jika Anda mengira sedang membeli loyalitas AS, sekarang Anda akan berpikir bahwa pangkalan AS hanya membuat saya menjadi target, sementara AS juga berpotensi mengkhianati saya,” jelas Marsekal Udara purnawirawan Edward Stringer, mantan kepala operasi di kementerian pertahanan Inggris.

Baca juga: Trump Tangguhkan Operasi Pengawalan Kapal Selat Hormuz, Sebut Negosiasi Lancar

Iran yang semakin berani

Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan IranTASNIM/MEYSAM MIRZADEH via AFP Kapal Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat diduga hendak menyiya kapal kontainer yang menerobos Selat Hormuz pada 21 April 2026. Foto ini diperoleh AFP dari kantor berita Iran, Tasnim. Media AS Sebut Dua Kapal Perang Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan Iran

Sejauh ini, Iran tampaknya yakin bahwa waktu akan berpihak padanya seiring berlanjutnya blokade Selat Hormuz.

Semakin mereka menekan pemerintahan Trump, semakin banyak konsesi yang akan mereka peroleh.

“Kita tahu betul bahwa kelanjutan status quo tidak dapat ditoleransi oleh Amerika, sementara kita bahkan belum memulai,” kata Ketua Parlemen dan Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf dalam unggahan di X.

Baca juga: AS Pertahankan Gencatan Senjata dengan Iran, Umumkan Operasi Militer Berakhir

Pakar Iran di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, Ellie Geranmayeh menilai, para pemimpin muda yang lebih garis keras yang ditempa di Korps Garda Revolusi Islam Iran telah menyimpulkan bahwa pendekatan hati-hati para pendahulu mereka adalah keliru. 

Dihadapkan pada pilihan apakah akan terus menanggung blokade angkatan laut AS atau meningkatkan eskalasi, mereka telah memutuskan untuk meningkatkan eskalasi, meskipun masih belum sampai pada perang skala penuh.

“Aturan mainnya telah berubah. Kesabaran strategis telah berakhir dan, di Teheran, mereka tidak lagi membatasi diri dalam hal melancarkan serangan pertama,” tutur Geranmayeh. 

“Ini mungkin fase eksperimen, di mana mereka mencoba melihat sejauh mana siklus eskalasi ini dapat menetapkan garis merah mereka sendiri, dan menarik garis batas sejauh mana Trump akan bertindak,” sambungnya.

Tag:  #kepercayaan #goyah #negara #teluk #khawatir #iran #kian #percaya #diri

KOMENTAR