AS Rayu Kuba dengan Bantuan Rp 1,7 Triliun, Minta Reformasi sebagai Imbalan
Amerika Serikat kembali menawarkan bantuan kemanusiaan senilai 100 juta dollar AS (sekitar Rp 1,7 triliun) kepada Kuba di tengah krisis ekonomi yang melanda negara itu.
Namun, tawaran tersebut dibarengi dengan tekanan agar Havana bersedia bekerja sama dan melakukan perubahan yang diinginkan Washington.
Sebelumnya, AS juga sempat menawarkan bantuan serupa, tetapi ditolak oleh pemerintah Kuba.
Baca juga: Gagal Dibendung, Trump Punya Lampu Hijau untuk Aksi Militer di Kuba
“Rezim menolak mengizinkan Amerika Serikat memberikan bantuan ini kepada rakyat Kuba, yang sangat membutuhkan bantuan akibat kegagalan rezim korup Kuba,” demikian pernyataan Departemen Luar Negeri AS, seperti dikutip AFP.
AS kemudian kembali menegaskan tawaran tersebut pada Rabu (13/5/2026), sekaligus menekankan bahwa keputusan ada di tangan pemerintah Kuba.
“Keputusan berada di tangan rezim Kuba untuk menerima tawaran bantuan kami atau menolak bantuan penyelamatan jiwa yang kritis dan pada akhirnya bertanggung jawab kepada rakyat Kuba karena menghalangi bantuan penting ini,” lanjut pernyataan itu.
Dalam penjelasannya, AS menyebut bahwa bantuan tersebut tidak hanya berbentuk kemanusiaan langsung, tetapi juga mencakup pendanaan untuk akses internet “cepat dan gratis,” yang diperkirakan dapat memperluas akses informasi di negara yang membatasi media tersebut.
AS juga menegaskan bahwa mereka tengah berupaya mendorong “reformasi yang berarti” di Kuba.
Krisis energi di Kuba
Kuba saat ini menghadapi krisis energi serius. Data yang dikutip menunjukkan bahwa 65 persen wilayah Kuba mengalami pemadaman listrik bersamaan dalam satu hari terakhir, sementara kekurangan pasokan listrik terus memburuk.
Presiden Kuba Miguel DIaz-Canel mengakui situasi yang “sangat tegang,” namun ia menyalahkan Amerika Serikat atas kondisi tersebut.
“Perburukan dramatis ini memiliki satu penyebab: blokade energi yang kejam yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap negara kami, serta ancaman tarif tidak rasional terhadap negara mana pun yang memasok bahan bakar kepada kami,” tulisnya di platform X.
Baca juga: Setelah Iran, Kuba Jadi Target Trump Selanjutnya
Ketegangan diplomatik AS-Kuba
Orang-orang turun ke jalan dan berpartisipasi dalam demonstrasi mendukung pemerintahan Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel di Havana, pada 11 Juli 2021. Ribuan warga Kuba turun ke jalan menyuarakan protes terhadap pemerintahan komunis. Mereka berjalan disertai dengan spanduk dan teriakan jatuhlah diktator.
Pemerintah Kuba menolak narasi AS terkait tawaran bantuan tersebut. Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez menyebut klaim Washington sebagai kebohongan.
“Apakah ini donasi, penipuan, atau kesepakatan kotor untuk membatasi kedaulatan kami? Bukankah lebih mudah mencabut blokade bahan bakar?” tulisnya.
Di sisi lain, Departemen Luar Negeri AS menyebut bahwa bantuan ini termasuk dukungan langsung untuk rakyat Kuba serta pendanaan akses internet, sementara Washington menegaskan kembali tujuan mereka untuk mendorong perubahan di negara tersebut.
Hubungan kedua negara kembali memanas setelah AS menjatuhkan sanksi baru terhadap konglomerat militer Kuba yang mengendalikan hampir 40 persen ekonomi negara itu.
Selain itu, Washington juga memperketat tekanan terhadap sektor keuangan asing yang bertransaksi dengan entitas yang masuk daftar hitam AS.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya juga disebut pernah mengungkapkan gagasan terkait Kuba, sementara pemerintahannya telah menyalurkan bantuan kemanusiaan sebesar 6 juta dollar AS (sekitar Rp 104 miliar) melalui lembaga amal Gereja Katolik.
Baca juga: Krisis Energi Parah Sampai Blackout, Kuba Tetap Ogah Gadai Kedaulatan ke AS
Tag: #rayu #kuba #dengan #bantuan #triliun #minta #reformasi #sebagai #imbalan