Hadapi Tekanan AS, Kuba Dapat Dukungan China untuk Lawan Penindasan
Wang Yi, Menteri Luar Negeri China, melambaikan tangan saat meninggalkan konferensi pers di Tokyo, Jepang, Selasa (24/11/2020).(REUTERS/Issei Kato/Pool)
16:06
28 Mei 2026

Hadapi Tekanan AS, Kuba Dapat Dukungan China untuk Lawan Penindasan

- Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berjanji mendukung Kuba untuk menghadapi politik kekuasaan dan penindasan selama pembicaraan dengan mitranya dari Kuba di New York.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kondisi ketika pulau Karibia itu menghadapi tekanan yang meningkat dari Amerika Serikat (AS).

Baca juga: China Bantu Kuba Lawan Embargo AS, Kirim 15.000 Ton Beras


Kuba menderita akibat blokade energi AS, dan bahkan Presiden AS Donald Trump secara terbuka mempertimbangkan untuk mengambil alih negara tersebut.

China memiliki hubungan dekat dengan Havana dan telah berjanji menyumbangkan 60.000 ton beras demi membantu Kuba mengatasi kekurangan, yang pengiriman pertamanya tiba pada Minggu.

"China akan terus menjunjung tinggi keadilan dan berbicara atas nama Kuba, mendukung perjuangan yang adil bagi rakyat Kuba,” kata Wang kepada Menlu Kuba Bruno Rodriguez Parrilla, menurut pernyataan resmi China dilansir AFP, Kamis (28/5/2026).

Baca juga: Ditekan AS, Kuba Minta Bantuan Internasional

“(China) berkontribusi pada pembangunan ekonomi Kuba dan peningkatan kesejahteraan rakyatnya," lanjutnya.

Wang juga menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan dan menentang segala bentuk intimidasi.

"Sangat penting untuk dengan teguh menghormati kedaulatan dan kemerdekaan semua bangsa, dan menentang semua bentuk politik kekuasaan dan intimidasi," tambahnya, yang tampaknya merujuk pada AS.

Baca juga: Kuba, Kultus Castro, dan Asap Cerutu Komunis yang Tak Lagi Pekat

AS putus pasokan minyak ke Kuba

Pastorita, sebuah kapal tanker LPG/kimia yang berlayar di bawah bendera Kuba, tiba di pelabuhan Havana pada 9 Februari 2026.YAMIL LAGE Pastorita, sebuah kapal tanker LPG/kimia yang berlayar di bawah bendera Kuba, tiba di pelabuhan Havana pada 9 Februari 2026.

Sebelumnya, Pemerintahan Trump memutus pasokan minyak Kuba dari sekutu Havana, Venezuela, setelah menggulingkan Nicolas Maduro dalam serangan pada Januari 2026.

Washington kembali memperketat tekanan pekan lalu dengan mendakwa mantan presiden Kuba Raul Castro atas penembakan dua pesawat sipil AS pada 1996.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa AS sedang mencari dalih untuk menggulingkan pemerintah di Havana.

Baca juga: AS Cari Orang Dalam untuk Gulingkan Rezim Kuba, Mau Ulangi Kesuksesan di Venezuela

Kementerian Luar Negeri China mendesak AS untuk "berhenti mengacungkan tongkat hukum terhadap Kuba dan berhenti mengancam dengan kekerasan di setiap kesempatan", sebagai tanggapan atas dakwaan pekan lalu.

"China dengan tegas mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan nasional dan martabat nasionalnya serta menentang campur tangan eksternal," kata juru bicara Guo Jiakun saat itu.

Sementara itu, Pemerintah Kuba meminta bantuan komunitas internasional untuk mencegah terjadinya bencana kemanusiaan di negaranya akibat blokade energi AS.

Baca juga: 3 Skenario yang Bisa Terjadi Usai AS Mendakwa Eks Pemimpin Kuba, Raul Castro

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez Parrilla menyampaikan seruan tersebut dalam pidatonya di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (26/5/2026).

"Saya menyerukan kepada komunitas internasional untuk memobilisasi diri guna mencegah bencana kemanusiaan yang dapat dipaksakan melalui senjata atau blokade bahan bakar," ujar Rodriguez.

Dia menambahkan bahwa situasi saat ini memerlukan tindakan nyata dari dunia dan menjadi waktu bagi solidaritas dengan Kuba.

Tag:  #hadapi #tekanan #kuba #dapat #dukungan #china #untuk #lawan #penindasan

KOMENTAR