Memahami Tall Poppy Syndrome, Perasaan Iri Hati Saat Melihat Kesuksesan Orang Lain
- Meraih kesuksesan seharusnya menjadi momen yang sangat membanggakan. Namun, ada kalanya pencapaian gemilang justru membuatmu tiba-tiba dijauhi, dikucilkan, atau bahkan dikritik habis-habisan oleh lingkungan sekitar.
Terapis berlisensi sekailgus pendiri TherapyList, Courtney Morgan, LPCC-S, mengatakan bahwa fenomena memusuhi orang yang terlalu sukses ini bernama Tall Poppy Syndrome.
“Secara sederhana, Tall Poppy Syndrome adalah ketika seseorang dikritik keras karena berprestasi tinggi,” jelas dia, melansir Verywell Mind, Minggu (5/4/2026).
Baca juga: 14 Tanda Seseorang Diam-diam Iri dengan Hidup Kamu
Memahami Tall Poppy Syndrome
Kecenderungan untuk menjatuhkan orang yang unggul ini bukan sekadar rasa cemburu biasa. Perilaku tersebut mengandung unsur kesengajaan, agar ego sang peraih prestasi dapat tertekan, sehingga level semua orang kembali sama.
"Fenomena ini didorong oleh rasa takut akan terbayangi, dan ketakutan akan kegagalan, karena perbandingan," tutur konselor kesehatan mental berlisensi, Eliana Bonaguro, LMHC.
Istilah ini sendiri diyakini terinspirasi dari Raja Romawi Kuno, Tarquin yang Sombong. Sang tiran konon memenggal bunga poppy tertinggi di kebunnya demi memberikan pesan untuk menyingkirkan warga yang menentang kekuasaannya.
“Orang sering merasa terintimidasi oleh mereka yang berprestasi lebih baik daripada kebanyakan orang, dan mencoba meremehkan atau menggagalkan pencapaian mereka agar merasa lebih baik tentang diri mereka sendiri,” ujar Morgan.
Baca juga: 8 Kebiasaan untuk Menyingkirkan Rasa Cemburu dan Iri Hati
Ilustrasi sukses.
“Ini mudah dilakukan jika kebanyakan orang terbatas dalam pertumbuhan mereka, karena mereka dapat bersatu untuk ‘menebang’ bunga poppy yang lebih tinggi," sambung dia.
Budaya meremehkan prestasi ini kerap bermanifestasi di empat tempat utama, yakni tempat kerja, pertemanan, lingkup keluarga, dan dunia maya.
- Tall Poppy Syndrome di tempat kerja
"Di tempat kerja, bentuknya mungkin terlihat seperti rekan kerja yang berasumsi bahwa orang yang berprestasi tinggi memiliki semacam keuntungan dibandingkan orang lain," kata Morgan.
Rekan kerja atau atasan bisa saja sengaja menahan promosi karena merasa insecure.
- Tall Poppy Syndrome dalam pertemanan
Dalam pertemanan, pujian yang diberikan dapat bermakna ganda dan terselubung. Kamu juga mungkin mendapati prestasimu tidak dirayakan semeriah saat temanmu yang lain sukses.
- Tall Poppy Syndrome di lingkup keluarga
"Di tengah keluarga, seseorang dengan Tall Poppy Syndrome mungkin merasa seperti anak yang berbeda dalam keluarga mereka, dan orang-orang menjauhi mereka,” ungkap Morgan.
“Ini mungkin terlihat seperti dikucilkan dari obrolan grup atau orang-orang berasumsi bahwa kamu tidak ingin terlibat dalam aktivitas tertentu," sambung dia.
- Tall Poppy Syndrome di dunia maya
Di dunia maya, anonimitas membuat publik menjadi sangat brutal. Kamum mungkin diserang atau dikritik keras oleh orang-orang yang tidak kamu kenal, atau yang tidak mengenalmu.
Bonaguro menekankan bahwa sindrom ini sangat berbahaya karena "menghukum" kualitas yang seseorang hargai dalam dirinya sendiri, yaitu bakat, ambisi, dan inovasi.
Baca juga: Disebut Menentukan Kesuksesan Anak Selain IQ, Apa itu AQ?
Ilustrasi rekan kerja iri
Menghancurkan mental korban
Menjadi target iri hati atas pencapaian diri sendiri, membawa dampak psikologis yang merusak dan menjebak seseorang dalam ketakutan untuk berkembang.
“Hal itu membuat korbannya merasa cemas, terisolasi, atau bahkan mendorong mereka untuk menahan diri. Tekanan tersebut dapat menghambat ambisi demi kesesuaian, demi diterima," jelas Bonaguro.
Membentengi diri sendiri
Perilaku toksik ini murni lahir dari kelemahan para pelaku. Morgan menuturkan, sindrom ini berasal dari rasa tidak aman seputar kurangnya prestasi mereka sendiri.
"Dan meremehkan kesuksesan orang lain membantu mereka merasa kurang terintimidasi," terang dia.
Agar energimu tetap utuh, carilah dukungan sosial dan ceritakan masalahmu kepada orang terdekat untuk menurunkan tingkat stres. Di samping itu, belajarlah untuk mengonfrontasi sang pelaku.
Baca juga: 70 Kata-kata Motivasi untuk Diri Sendiri agar Tidak Mudah Iri
"Kita tidak hanya memiliki hak untuk membela diri, tetapi juga merupakan tanggung jawab kita untuk mengajar dan menunjukkan kepada orang lain bagaimana kita ingin diperlakukan," tegas life coach bersertifikat IPEC, Debbie Biery.
Menurut dia, berkomunikasi secara tegas dan profesional adalah sebuah metode perlindungan diri yang kuat.
Tag: #memahami #tall #poppy #syndrome #perasaan #hati #saat #melihat #kesuksesan #orang #lain