Fakta Menarik Rencana Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus Raksasa di Indonesia, Target 2028 Rampung
Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengambil langkah besar dengan bersiap membangun pabrik cairan infus berskala raksasa. Gebrakan ini dilakukan untuk memasok langsung kebutuhan internal mereka tanpa harus bergantung lagi pada pihak luar.
Di balik rencana ekspansi hulu kesehatan melalui entitas bisnis PT Suryavena Farma Indonesia ini, tersimpan strategi besar yang menarik untuk dikulik.
Berikut deretan fakta di balik ambisi Muhammadiyah membangun kemandirian medisnya sendiri:
1. Punya Ratusan Rumah Sakit tapi Masih Tergantung Pihak Luar
Bukan rahasia lagi jika jaringan kesehatan Muhammadiyah menggurita di seluruh pelosok negeri dengan 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik.
Anehnya, dengan captive market (pasar pasti) sebesar itu, urusan suplai hulu belum digarap sendiri.
Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia, Tatat Rahmita Utami, menyadari celah bisnis dan operasional ini usai peluncuran perusahaan di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta.
“Selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak luar,” ujar Tatat dilansir dari Antaranews.
2. Pusing karena Suplai Tersendat Sistem Maklon
Sebelum memutuskan bikin pabrik, Muhammadiyah sebenarnya sudah memproduksi cairan infus merek 'Suryavena' selama dua tahun terakhir. Tapi, mereka menggunakan sistem maklon alias menumpang produksi di pabrik orang lain.
Skema ini ternyata kerap bikin pusing karena pasokan menjadi tidak konsisten.
“Karena masih menumpang di pabrik lain, ada keterbatasan suplai. Padahal kebutuhan di internal Muhammadiyah cukup besar,”
Ilustrasi infus (Pixabay/Stefan Schweihofer)3. Lirik Lahan Belasan Hektare di Malang
Untuk mengakhiri masa "numpang" tersebut, sebuah pabrik mandiri tengah disiapkan di kawasan Karangploso, Malang, Jawa Timur.
Daerah ini tidak dipilih secara acak, melainkan sudah dikenal sebagai sentra industri cairan infus skala nasional.
“Lahan yang tersedia sekitar 14 hektare dan sudah melalui uji kelayakan, termasuk kualitas air. Hasilnya memenuhi syarat untuk pembangunan pabrik cairan infus,”
4. Ambisi Produksi 15 Juta Botol per Tahun
Pabrik ini tidak dibangun sekadar untuk uji coba. Studi kelayakan bahkan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dan konsultan keuangan. Target operasinya dipatok pada akhir 2027 atau awal 2028.
Nantinya, mesin pabrik didesain untuk memuntahkan 15 juta botol infus setiap tahunnya.
Mayoritas, yakni sekitar 13 juta botol, akan ditelan langsung oleh ratusan RS dan klinik Muhammadiyah, membuat sirkulasi uang tetap berputar di dalam organisasi.
5. Banyak Pihak Luar yang Sudah Mengantre
Meski fokus utamanya adalah menutup kebutuhan internal, kualitas cairan infus Suryavena yang baik dipadu harga kompetitif rupanya dilirik pasar umum.
Sisa kuota produksi sekitar 2 juta botol per tahun siap dilempar ke pasar eksternal.
“Bahkan di luar rumah sakit Muhammadiyah sudah banyak yang berminat, tetapi saat ini masih terbatas karena kapasitas produksi belum optimal,”
Langkah pabrikasi ini bukan sekadar urusan cuan bisnis, tapi juga pembuktian bahwa kemandirian sektor kesehatan dalam negeri bisa dimulai dari langkah berani sebuah organisasi masyarakat.
Tag: #fakta #menarik #rencana #muhammadiyah #bangun #pabrik #infus #raksasa #indonesia #target #2028 #rampung