Membiasakan Anak Tidur Pakai AC Bisa Membuat Anak Tahan Dingin, Benarkah?
- Beberapa orangtua memiliki cara unik untuk mempersiapkan ketahanan fisik buah hatinya sebelum diajak berpetualang ke alam bebas.
Salah satu kebiasaan yang cukup populer adalah sengaja menyetel pendingin ruangan (AC) di rumah pada suhu terendah setiap kali anak tidur.
Cara ini diklaim dapat melatih anatomi tubuh anak agar kebal dan terbiasa dengan cuaca ekstrem di gunung, sehingga dianggap tidak akan terkena hipotermia saat dibawa mendaki ke dataran tinggi. Benarkah demikian?
Baca juga: Cara Menyelamatkan Bayi Hipotermia di Gunung, Fokus pada Area Inti Tubuh
"Jadi ini kesannya kayak logical fallacy ya," tutur Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., MKes., CHt., FISQua, saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (14/4/2026).
"Jadi secara ilmiah, saya belum pernah ketemu ada argumentasi yang logis terhadap ini, membiasakan di suhu dingin AC supaya bisa kebal dingin," sambung dokter spesialis anak yang berpraktik di RS Sari Asih Ciledug, Tangerang ini.
Menurut dr. Arifin, udara dingin buatan di dalam kamar sangat jauh berbeda dengan suhu ekstrem di alam.
Gunung bukan versi dingin dari kamar tidur
Menyamakan hawa dingin buatan di dalam ruangan dengan suhu beku di alam liar adalah sebuah kesalahan fatal.
Pendingin ruangan dapat dikatakan hanyalah "simulasi" cuaca, yang sangat bisa dikendalikan oleh manusia. Sementara itu, alam memegang kendali penuh atas kondisi lingkungan yang akan menimpa anak.
"Gunung bukan versi dingin, atau versi yang lebih dingin, dari kamar tidurnya. Gunung ini adalah lingkungan ekstrem dengan komponen-komponen lain, dan risiko yang sangat-sangat berbeda dengan sekadar kamar yang dingin," tegas dr. Arifin.
Kondisi lingkungan yang berbeda
Ia menuturkan, anak yang berada di ruangan ber-AC masih berada dalam zona perlindungan yang sangat optimal.
Segala kebutuhan dasarnya terpenuhi dengan baik, mulai dari asupan nutrisi yang terjaga hingga minimnya aktivitas fisik yang menguras tenaga cadangan.
Baca juga: Viral Bayi Hipotermia di Gunung, Amankah Anak 1,5 Tahun Mendaki? Ini Kata Dokter
"Pada saat suhu dingin AC itu sebuah kondisi yang dikondisikan, lingkungannya cukup nyaman, kita bisa tinggal matikan AC kalau kedinginan. Terus juga status hidrasinya mungkin bagus karena memang sudah siap," ujar dr. Arifin.
Kenyamanan di dalam rumah tentu berbanding terbalik dengan berbagai ancaman di rute pendakian yang tidak pernah datang sendirian.
"Tapi kalau misalkan kita bicara tentang hipotermia, ini komponennya jadi banyak. Kita bisa ada konteksnya angin yang kuat, hujan, kabut, terus habis itu kelelahan fisik, asupan enggak bagus, dan nanti evakuasinya juga susah," lanjut dia.
Mekanisme fisiologis bukan untuk dilatih
Dokter Arifin tidak menampik bahwa tubuh manusia telah dibekali sistem metabolisme khusus untuk merespons dan bertahan dari udara dingin di sekitarnya.
Akan tetapi, sistem pertahanan biologis tersebut bekerja secara otomatis sesuai kebutuhan tubuh, bukan difungsikan layaknya otot yang bisa sengaja dilatih setiap hari.
"Tubuh memang punya kemampuan mekanisme adaptasi terhadap dingin ya, dalam hal ini brown adipose tissue-nya, lemak coklatnya, dan non-shivering thermogenesis-nya. Tapi ini adalah mekanisme fisiologis dan bukan untuk dilatih dingin supaya dia aman naik gunung," terang dr. Arifin.
Posisi anak yang terlalu pasif di dalam gendongan selama mendaki juga membuat otot tubuh mereka tidak memproduksi panas cadangan secara mandiri, sesuatu yang jelas tidak pernah dilatih saat mereka sekadar berbaring di kamar ber-AC.
"Sehingga, kesiapan itu tidak bisa diintervensi dengan hanya membiasakan anak biasa dingin. Jadi konteksnya mungkin AC boleh untuk bikin nyaman, tapi tidak akan bisa membuat anak jadi adaptasi dan kebal dingin untuk naik gunung," pungkas dr. Arifin.
Baca juga: Bahaya Bawa Bayi 1 Tahun Naik Gunung, Bukan Cuma Hipotermia
Tag: #membiasakan #anak #tidur #pakai #bisa #membuat #anak #tahan #dingin #benarkah