Ayah jadi Fondasi Utama Mental Anak untuk Cetak ''Kartini Modern''
Ilustrasi ayah dan anak perempuan.(Dok. Freepik/Freepik)
10:35
21 April 2026

Ayah jadi Fondasi Utama Mental Anak untuk Cetak ''Kartini Modern''

- Menumbuhkan sosok perempuan tangguh atau "Kartini Modern" di masa kini, nyatanya tidak bisa lepas dari campur tangan pengasuhan laki-laki di dalam rumah.

Figur ayah memegang peranan yang sangat fundamental dalam membentuk resiliensi mental dan rasa percaya diri remaja perempuan, khususnya saat mereka mulai menginjak usia remaja.

Selama ini, tidak sedikit masyarakat yang masih beranggapan bahwa peran utama mendidik dan menjaga mental anak ada pada ibu, sedangkan ayah sekadar berstatus sebagai pendamping.

Psikolog klinis di RS Dr. Oen Solo Baru, Yustinus Joko Dwi Nugroho, M.Psi. Psikolog, membantah keras anggapan bahwa figur ayah hanya berfungsi sebagai pelengkap dalam proses perkembangan anak.

Baca juga: Penelitian Ungkap Pentingnya Waktu Bermain Ayah dan Anak

Ayah merupakan sosok pertama yang akan menentukan standar harga diri seorang remaja perempuan saat ia terjun menjalin hubungan di lingkungan sosialnya.

 "Terutama di psikologi perkembangan, itu banyak riset yang menunjukkan bahwa seorang ayah adalah figur validasi eksternal pertama bagi anak perempuan," papar dia saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).

Figur ayah sebagai fondasi ketahanan mental anak perempuan

Menjadi cermin harga diri dan kelayakan anak

Cara seorang ayah merespons dan berinteraksi sehari-hari akan diserap dan diamati secara langsung oleh remaja perempuannya.

"Jadi, dia menjadi cermin seberapa layak anak dihargai itu dilihat dari cara ayah memperlakukan anak," jelas Joko yang juga menjabat sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Setia Budi Surakarta tersebut.

Baca juga: Kenali 9 Ciri Ayah Toxic yang Bisa Sebabkan Luka Batin sejak Kecil

Ilustrasi orangtuaFREEPIK Ilustrasi orangtua

Peran secure attachment dalam membentuk karakter tahan banting

Ketika seorang ayah mampu tampil hangat dan hadir secara emosional, remaja perempuan tidak akan merasa kehilangan sosoknya.

Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki secure attachment atau ikatan emosional yang aman. Perasaan aman dan terlindungi inilah yang mendorong mereka menjadi lebih berani mencoba hal-baru dan memiliki karakter yang tahan banting ketika menghadapi berbagai tekanan.

Baca juga: Pelarangan Media Sosial pada Remaja Bisa Picu Perlawanan

Dampak gaya asuh dingin terhadap rasa percaya diri

Sebaliknya, karakter ayah yang terlalu dingin, kaku, atau justru memiliki sifat cerewet dan terlalu banyak mengkritik, dapat berdampak negatif secara psikologis. Anak akan rentan mengalami overthinking dan selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

Usia remaja menjadi titik paling rawan karena pada masa ini identitas diri mereka baru saja dibentuk, sehingga tingkat sensitivitas terhadap penolakan juga ikut melonjak tajam.

"Jadi, ayah itu fondasi mental. Kalau kuat ya anak lebih tahan banting, kalau tidak ya sebaliknya," tegas Joko.

Baca juga: Hari Kartini 21 April: Sejarah, Makna, dan Relevansinya bagi Perempuan Masa Kini

Ancaman fatherless dan haus validasi

Tantangan terbesar dalam relasi keluarga saat ini bukanlah sekadar kehadiran fisik ayah di rumah, melainkan ketersediaannya secara emosional.

Banyak kasus menunjukkan ayah tinggal satu atap, tetapi remaja perempuan tetap merasa fatherless karena absennya koneksi batin.

"Atau bisa juga relasi dengan ayah itu jadi datar, kaku, atau penuh kritik, sehingga nantinya dia akan lebih mudah atau berpotensi besar mencari pengganti rasa aman di luar rumah," ungkap Joko.

Tanda bahaya akibat hilangnya rasa aman

Hilangnya rasa aman ini memunculkan sederet tanda bahaya atau red flag pada perilaku psikologis remaja perempuan.

Salah satu yang paling terlihat adalah mereka sangat mudah mencari perhatian laki-laki untuk sekadar merasa dirinya berharga.

Baca juga: 6 Cara Perempuan Berhenti Mencari Validasi dari Laki-laki, Pahami Kelebihan Diri

Selain itu, muncul kecenderungan overthinking terkait penampilan fisik, daya tarik, hingga ketakutan ditolak yang berlebihan. Akibatnya, anak rela mengorbankan batasan pribadinya agar disukai.

Dalam kondisi mental yang rapuh ini, remaja perempuan sering kali kesulitan membedakan mana kasih sayang yang tulus dan mana yang hanya sekadar validasi.

"Merasa dipilih sama dengan dicintai. Cepat terikat pada perhatian kecil dari laki-laki, lalu merasa sangat-sangat terpukul saat diabaikan," kata Joko.

Meski rentetan dampak negatif ini tampak mengkhawatirkan, Joko mengingatkan agar masyarakat tidak serta-merta memberikan label bahwa remaja perempuan dengan pengalaman tersebut pasti akan "rusak" masa depannya.

Sebab, banyak juga anak yang tetap mampu memproses dan mengelola dirinya dengan baik.

"Lebih tepatnya kita melihatnya sebagai indikasi kebutuhan emosional yang belum terpenuhi, kebutuhan akan rasa aman, penerimaan dan rasa layak dicintai," pungkas dia.

Baca juga: Anak Perempuan Pertama Sering Tak Bahagia, Pakar Keluarga Ungkap Penyebab Utamanya

Tag:  #ayah #jadi #fondasi #utama #mental #anak #untuk #cetak #kartini #modern

KOMENTAR